-
Serangan Amerika-Israel di Bandar Khamir menewaskan lima warga dan melukai empat orang lainnya.
-
Iran membalas dengan meluncurkan rudal ke pabrik aluminium di Bahrain dan Uni Emirat Arab.
-
Konflik berkepanjangan ini telah merenggut hampir 2.000 nyawa sejak akhir Februari tahun 2026.
Sejak aksi saling serang pecah pada akhir Februari lalu, jumlah korban jiwa di pihak Iran terus meningkat tajam.
Tercatat hampir 2.000 orang telah gugur akibat bombardir yang dilakukan pihak koalisi dalam sebulan terakhir.
Respons Militer Pasukan Garda Revolusi Iran
Menanggapi agresi tersebut, Pasukan Garda Revolusi Iran atau IRGC segera melancarkan operasi balasan yang masif.
Teheran mengirimkan kawanan drone dan rudal berpemandu ke arah Bahrain serta Uni Emirat Arab (UEA).
Fokus utama dari serangan balasan ini adalah fasilitas industri aluminium yang dianggap menyokong kepentingan militer lawan.
Iran berdalih bahwa dua negara Teluk tersebut memberikan ruang bagi militer Amerika Serikat untuk menyerang mereka.
Sejak Februari, negara-negara di kawasan Teluk memang kerap menjadi sasaran proyektil Iran sebagai bentuk peringatan keras.
Dampak Serangan Rudal di Fasilitas Aluminium
Dalam pidato resminya, IRGC menyatakan telah berhasil menghantam pabrik utama milik Aluminium Bahrain dan fasilitas di UEA.
Mereka menyebut lokasi-lokasi industri tersebut memiliki keterkaitan erat dengan sektor kedirgantaraan serta pangkalan militer Amerika Serikat.
Langkah ini diambil sebagai jawaban atas rusaknya infrastruktur industri di Iran akibat serangan yang bermuara dari pangkalan Teluk.
Pihak Aluminium Bahrain atau Alba membenarkan adanya insiden ledakan yang melukai dua orang karyawan mereka.
Meskipun luka yang diderita staf tergolong ringan, perusahaan raksasa ini masih melakukan audit terhadap kerusakan operasional.
Kerusakan Signifikan di Industri Uni Emirat Arab
Kondisi serupa dialami oleh Emirates Global Aluminium yang beroperasi di wilayah Abu Dhabi pada hari Sabtu.
Perusahaan tersebut melaporkan adanya kerusakan fisik yang cukup parah pada salah satu unit fasilitas produksinya.
Selain kerugian materil, sebanyak enam orang pekerja dikabarkan mengalami luka-luka akibat hantaman proyektil Iran tersebut.
Teheran sebelumnya telah mengeluarkan peringatan keras kepada negara-negara Arab agar tidak memfasilitasi serangan Amerika.
Namun, keterlibatan aktif pangkalan asing membuat Iran merasa berhak memperluas zona pertempuran ke negara-negara tetangga.
Ketegangan ini diperkirakan akan terus berlanjut mengingat operasi militer gabungan kini telah memasuki bulan kedua yang penuh gejolak.
Dunia internasional kini menaruh perhatian besar pada Selat Hormuz yang menjadi jalur distribusi energi paling vital di bumi.
Hingga saat ini, belum ada tanda-tanda gencatan senjata dari kedua belah pihak yang bertikai di wilayah tersebut.