-
Iran menyerang pembangkit listrik Kuwait hingga menewaskan seorang pekerja warga negara India.
-
Agresi tersebut merupakan aksi balas dendam atas kematian pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Khamenei.
-
Pasukan Quds bersumpah akan terus menyerang kepentingan Amerika Serikat sampai musuh mereka kalah.
Pada hari Rabu (11/3), Pasukan Quds dari Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menjanjikan pembalasan tanpa henti atas serangan Amerika Serikat dan Israel yang terus berlanjut.
Quds bersumpah untuk "membuka pintu api bagi mereka dan tidak akan berhenti sampai musuh dikalahkan."
Unit elit militer Iran tersebut menganggap serangan blok Amerika-Israel sebagai tindakan ilegal yang melanggar norma internasional.
Dasar utama dari kemarahan besar ini adalah peristiwa tragis yang menimpa pucuk pimpinan tertinggi negara mereka.
Agresi militer pada akhir Februari lalu telah menyebabkan kematian tokoh sentral revolusi Iran beserta pejabat tinggi lainnya.
Mereka menekankan bahwa serangan tersebut telah menyebabkan wafatnya Pemimpin Revolusi Islam Ayatollah Seyyed Ali Khamenei serta sejumlah pejabat senior Iran dan warga sipil Iran.
Pasukan Quds yang merupakan unit elit paling terkenal dari IRGC tersebut bersumpah, "Kami akan membuka pintu api bagi mereka dan tidak akan berhenti sampai musuh dikalahkan."
Pernyataan itu memperingatkan bahwa "musuh harus tahu bahwa hari-hari kenyamanan mereka telah berakhir, dan bahwa mereka tidak akan aman di mana pun di dunia - bahkan di rumah mereka sendiri."
Iran menegaskan komitmen mereka untuk terus melakukan perlawanan fisik hingga pengaruh lawan benar-benar hilang dari kawasan.
Kelompok elit ini merasa memikul beban untuk menuntut balas atas setiap tetes darah para martir mereka.
Melalui pesan tersebut, Iran mengirimkan sinyal perang terbuka kepada siapa pun yang mendukung agenda Amerika-Israel.
Dunia internasional kini menyoroti bagaimana Kuwait terjepit di tengah perseteruan dua kekuatan besar yang saling serang.
Langkah pembalasan ini diprediksi akan terus berlanjut selama Iran merasa kedaulatan dan kehormatan mereka dilecehkan.
Keselamatan warga sipil dan pekerja asing di Timur Tengah kini berada dalam bayang-bayang ancaman militer yang nyata.