Studi: Pasar Karbon Dinilai Belum Efektif Lindungi Keanekaragaman Hayati, Mengapa?

Bimo Aria Fundrika

Senin, 30 Maret 2026 | 12:35 WIB
Studi: Pasar Karbon Dinilai Belum Efektif Lindungi Keanekaragaman Hayati, Mengapa?
Ilustrasi Mangrove penyerap karbon. (Unsplash/@tricell1991)
baca 10 detik
  • Studi terbaru menyoroti kelemahan desain pasar karbon dalam membiayai konservasi keanekaragaman hayati jangka panjang.
  • Konsep seperti *additionality* dan *permanence* dinilai tidak selaras dengan tujuan perlindungan biodiversitas secara menyeluruh.
  • Pasar karbon berisiko meminggirkan masyarakat lokal serta mendorong praktik seperti monokultur jika tanpa regulasi pendukung.

Suara.com - Pasar karbon selama ini dipandang sebagai cara yang relatif murah untuk membiayai konservasi keanekaragaman hayati, terutama di kawasan Asia Tenggara.

Namun, sebuah studi terbaru menilai ada kelemahan mendasar dalam desainnya yang membatasi dampak ekologis jangka panjang.

Studi yang dipublikasikan di Nature Reviews Biodiversity mencatat, proyek karbon berbasis alam, yang menghasilkan kredit dari penyimpanan karbon atau pencegahan emisi di ekosistem, tumbuh pesat. Demikian seperti dikutip dari Eco Business. 

Sejak 2023, lebih dari 130 proyek yang mencakup lebih dari 20 juta hektare telah terdaftar dalam skema Verified Carbon Standard milik Verra. Secara global, jumlahnya bahkan diperkirakan melampaui 3.000 proyek di lebih dari 20 registri.

Sepanjang 2023, lebih dari 36 juta kredit karbon dari proyek berbasis alam diperdagangkan di pasar sukarela dengan nilai sekitar 351 juta dolar AS. Namun, kondisi pasar kini dinilai semakin rapuh akibat lemahnya permintaan, ketidakpastian politik, serta keterlambatan metodologi.

Ilustrasi Hutan Amazon (pixabay)
Ilustrasi Hutan Amazon (pixabay)

Di Asia Tenggara, proyek semacam ini dinilai relevan karena tingginya tekanan deforestasi dan keterbatasan pendanaan konservasi. Studi menyebut hingga 114 juta hektare hutan yang terancam di kawasan ini berpotensi dilindungi melalui skema karbon, termasuk 25 juta hektare kawasan penting keanekaragaman hayati.

Meski demikian, peneliti mengingatkan bahwa pasar karbon pada dasarnya dirancang untuk tujuan iklim, bukan konservasi biodiversitas.

“Optimisme terhadap kemampuan proyek ini dalam mendukung konservasi perlu dibatasi,” tulis penulis studi.

Salah satu persoalan utama adalah konsep additionality, yakni keharusan proyek membuktikan adanya pengurangan emisi di luar kondisi normal. Pendekatan ini justru berpotensi mengecualikan hutan alami yang masih utuh, karena dianggap tidak menghasilkan tambahan pengurangan emisi yang signifikan, meski memiliki nilai biodiversitas tinggi.

baca juga

Masalah lain adalah leakage, ketika deforestasi berpindah ke wilayah lain di luar proyek. Mekanisme yang ada lebih fokus menghitung emisi yang berpindah, bukan mencegah kerusakan ekosistem secara keseluruhan.

Selain itu, konsep permanence, yang umumnya membatasi proyek pada rentang 40 hingga 100 tahun, tidak sejalan dengan dinamika biodiversitas yang berlangsung jauh lebih lama dan kompleks.

Studi ini juga menyoroti dampak tak terduga. Beberapa proyek justru mendorong penanaman monokultur yang cepat tumbuh demi memaksimalkan serapan karbon, tetapi mengurangi keanekaragaman spesies. Di sisi lain, komersialisasi alam berisiko meminggirkan masyarakat lokal, terutama karena tingginya biaya dan persyaratan teknis.

Pembatasan akses terhadap lahan dalam proyek karbon juga dapat berdampak pada masyarakat adat dan komunitas yang bergantung pada hutan, sehingga berpotensi melemahkan dukungan terhadap konservasi jangka panjang.

Meski begitu, studi ini tidak menolak pasar karbon sepenuhnya. Peneliti menilai skema ini tetap bisa berperan jika diintegrasikan dengan kebijakan lain, termasuk regulasi yang kuat, pendekatan berbasis komunitas, dan skema pembiayaan campuran.

Tanpa itu, ketergantungan berlebihan pada pasar karbon justru berisiko gagal menghentikan laju kehilangan keanekaragaman hayati.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Studi Ungkap Biaya Tersembunyi Emisi Karbon bagi Ekonomi Global

Studi Ungkap Biaya Tersembunyi Emisi Karbon bagi Ekonomi Global

News | Jum'at, 27 Maret 2026 | 10:30 WIB

Studi: Karbon Biru Bisa Tekan Emisi Dunia, Mengapa Banyak Negara Belum Menggunakannya?

Studi: Karbon Biru Bisa Tekan Emisi Dunia, Mengapa Banyak Negara Belum Menggunakannya?

News | Kamis, 26 Maret 2026 | 11:55 WIB

Lapangan Tenis Tanah Liat Hijau Ternyata Bisa Jadi Solusi Serap Karbon, Bagaimana Caranya?

Lapangan Tenis Tanah Liat Hijau Ternyata Bisa Jadi Solusi Serap Karbon, Bagaimana Caranya?

Lifestyle | Selasa, 24 Maret 2026 | 17:00 WIB

Terkini

Febrie Adriansyah Diperiksa Tim Khusus Berisi 9 Jaksa, Mayoritas Alumni KPK

Febrie Adriansyah Diperiksa Tim Khusus Berisi 9 Jaksa, Mayoritas Alumni KPK

News | Jum'at, 17 Juli 2026 | 20:30 WIB

Review Serial Marc by Sofia: Estetika Sunyi Sofia Coppola yang Memesona

Review Serial Marc by Sofia: Estetika Sunyi Sofia Coppola yang Memesona

Your Say | Jum'at, 17 Juli 2026 | 20:30 WIB

Junior Roberts Kagok Perankan Cowok Green Flag di Series A Little White Lie

Junior Roberts Kagok Perankan Cowok Green Flag di Series A Little White Lie

Entertainment | Jum'at, 17 Juli 2026 | 20:28 WIB

Maut di Balik Live TikTok: Teka-Teki Sayatan di Pantai Permata Probolinggo Akhirnya Terungkap

Maut di Balik Live TikTok: Teka-Teki Sayatan di Pantai Permata Probolinggo Akhirnya Terungkap

Jatim | Jum'at, 17 Juli 2026 | 20:27 WIB

Bunga Cuma 1,8%! BRI KKB Expo Hadir di 131 Titik, Wujudkan Mimpi Punya Kendaraan Baru

Bunga Cuma 1,8%! BRI KKB Expo Hadir di 131 Titik, Wujudkan Mimpi Punya Kendaraan Baru

Bri | Jum'at, 17 Juli 2026 | 20:22 WIB

Pengawas Sawmill Ilegal di Kampar Jadi Tersangka, Terancam Denda Rp2,5 Miliar

Pengawas Sawmill Ilegal di Kampar Jadi Tersangka, Terancam Denda Rp2,5 Miliar

News | Jum'at, 17 Juli 2026 | 20:21 WIB

Perbaiki Tata Kelola MBG, Pimpinan BGN Diminta Jangan Bikin Masalah Baru

Perbaiki Tata Kelola MBG, Pimpinan BGN Diminta Jangan Bikin Masalah Baru

News | Jum'at, 17 Juli 2026 | 20:13 WIB

Moisturizer Sariayu Mawar untuk Umur Berapa? Ini Penjelasan Manfaat dan Review Pembeli

Moisturizer Sariayu Mawar untuk Umur Berapa? Ini Penjelasan Manfaat dan Review Pembeli

Lifestyle | Jum'at, 17 Juli 2026 | 20:10 WIB

Prancis vs Inggris: Panggung Perpisahan Deschamps dan Ambisi Rekor Kylian Mbappe

Prancis vs Inggris: Panggung Perpisahan Deschamps dan Ambisi Rekor Kylian Mbappe

Bola | Jum'at, 17 Juli 2026 | 20:10 WIB

Keraton Surakarta Bersolek, 11 Kawasan Bersejarah Dipugar Mulai Agustus

Keraton Surakarta Bersolek, 11 Kawasan Bersejarah Dipugar Mulai Agustus

Jawa Tengah | Jum'at, 17 Juli 2026 | 20:08 WIB

×