Subsidi Energi Bersih Lebih Banyak Dinikmati Orang Kaya, Studi Ungkap Ketimpangan

Bimo Aria Fundrika

Senin, 30 Maret 2026 | 13:30 WIB
Subsidi Energi Bersih Lebih Banyak Dinikmati Orang Kaya, Studi Ungkap Ketimpangan
Ilustrasi Mobil Listrik. (Unsplash)

Suara.com - Perubahan iklim mendorong banyak negara mempercepat transisi ke energi bersih. Berbagai insentif digelontorkan, mulai dari subsidi energi surya dan angin hingga dukungan untuk kendaraan listrik. Di Indonesia, misalnya, pemerintah memberi kemudahan seperti pajak lebih rendah, pembangunan SPKLU, hingga kebijakan bebas ganjil genap untuk mobil listrik.

Namun, studi yang dipublikasikan di Nature Reviews Clean Technology mengungkap persoalan mendasar: subsidi energi bersih lebih banyak dinikmati kelompok berpenghasilan tinggi.

Rumah tangga mampu dinilai lebih siap mengakses teknologi ramah lingkungan—seperti panel surya dan mobil listrik—yang harganya masih relatif mahal. Akibatnya, insentif yang dirancang untuk mempercepat transisi energi justru lebih banyak terserap oleh kelompok ini, bukan masyarakat luas.

Temuan ini menegaskan adanya ketimpangan dalam distribusi manfaat kebijakan energi bersih.

“Subsidi tersebut justru lebih banyak dinikmati oleh rumah tangga berpenghasilan tinggi,” tulis studi tersebut, seperti dikutip dari phys.org, 30 Maret 2026.

Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar: sejauh mana kebijakan subsidi energi terbarukan sudah benar-benar adil dan inklusif bagi semua kalangan?

Faktor Ketimpangan Akses Subsidi Energi Bersih 

Dalam artikel ilmiah tersebut, para ilmuwan mengidentifikasi tiga faktor mengapa terjadi ketimpangan akses terhadap subsidi energi bersih. Pertama, faktor Individu. Kurangnya informasi serta keterbatasan finansial membuat kelompok berpenghasilan rendah sulit memanfaatkan subsidi yang diberikan pemerintah. 

Kedua, faktor komunitas. Lingkungan tempat tinggal yang tidak memadai dan informasi yang kurang tepat, kerap terjadi di daerah-daerah yang kurang terjangkau membuat partisipasi menjadi lebih sulit. Terakhir, faktor Institusional. Prosedur birokrasi yang kompleks dan kebijakan yang kurang inklusif dapat memperbesar kesenjangan akses terhadap subsidi energi bersih. 

baca juga

Salah satu pemimpin tim internasional dari Climate Action Research Lab (CARL) di Universitas Freiburg, Hannah Hoehnke, mengatakan bahwa terkadang kebijakan subsidi yang ada malah semakin memperburuk ketidaksetaraan yang ada di masyarakat. 

"Pengurangan pajak tidak menguntungkan rumah tangga yang tidak memiliki kewajiban pajak. Biaya jaringan listrik dibebankan kepada semua konsumen, termasuk mereka yang tidak mampu membeli sistem sendiri. Dan prosedur aplikasi yang rumit, misalnya untuk subsidi fotovoltaik, justru menghalangi mereka yang paling membutuhkan dukungan." Ujar Hoehnke. 

Prinsip Kebijakan yang Lebih Inklusif 

Solusi dari ketimpangan yang terjadi adalah dengan membuat kebijakan yang lebih adil dan merata agar semua orang dari berbagai latar belakang bisa merasakan manfaat yang setara. Berikut beberapa langkah yang dapat dijalankan. Pertama, bantuan keuangan kepada rumah tangga berpenghasilan rendah.

Selanjutnya, membuat kebijakan dengan mempertimbangkan hambatan yang ada. Lalu, menyederhanakan proses administratif. Terakhir, melibatkan masyarakat dalam pelaksanaan program. 

Dengan kebijakan yang lebih baik dan adil, diharapkan subsidi yang telah diberikan oleh pemerintah dapat dimaksimalkan dan diarasakan oleh masyarakat. 

Penulis: Natasha Suhendra

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Ketahanan Energi RI Diuji, Naikkan BBM atau Tambah Subsidi?

Ketahanan Energi RI Diuji, Naikkan BBM atau Tambah Subsidi?

Bisnis | Jum'at, 27 Maret 2026 | 18:36 WIB

Belum Ada Pembatasan, Bahlil Persilahkan Masyarakat Bebas Beli BBM Subsidi

Belum Ada Pembatasan, Bahlil Persilahkan Masyarakat Bebas Beli BBM Subsidi

Bisnis | Jum'at, 27 Maret 2026 | 16:48 WIB

Kompor Listrik Makin Dilirik, Biaya Masak Lebih Murah dari LPG

Kompor Listrik Makin Dilirik, Biaya Masak Lebih Murah dari LPG

Bisnis | Jum'at, 27 Maret 2026 | 15:58 WIB

Terkini

Iran Serukan Negara Tetangga Blokir Pesawat Tempur Asing Demi Kedamaian di Timur Tengah

Iran Serukan Negara Tetangga Blokir Pesawat Tempur Asing Demi Kedamaian di Timur Tengah

News | Senin, 29 Juni 2026 | 08:21 WIB

Evakuasi Berjam-jam Pakai Alat Berat, Balita di Tebet Tewas Terperosok Lubang Proyek 4 Meter

Evakuasi Berjam-jam Pakai Alat Berat, Balita di Tebet Tewas Terperosok Lubang Proyek 4 Meter

News | Senin, 29 Juni 2026 | 08:09 WIB

Amerika: Perdamaian AS - Iran Tidak Batal, Meski Ada Baku Tembak

Amerika: Perdamaian AS - Iran Tidak Batal, Meski Ada Baku Tembak

News | Senin, 29 Juni 2026 | 07:45 WIB

Hari Ini! MK Putuskan Nasib UU Polri hingga Gugatan Peradilan Militer

Hari Ini! MK Putuskan Nasib UU Polri hingga Gugatan Peradilan Militer

News | Senin, 29 Juni 2026 | 07:39 WIB

Harga Minyak Dunia Melonjak Usai Perdamaian Iran - AS Terancam Batal Total

Harga Minyak Dunia Melonjak Usai Perdamaian Iran - AS Terancam Batal Total

News | Senin, 29 Juni 2026 | 07:30 WIB

Anak Buah Donald Trump: Iran dan AS Akan Hentikan Serangan Sementara Waktu

Anak Buah Donald Trump: Iran dan AS Akan Hentikan Serangan Sementara Waktu

News | Senin, 29 Juni 2026 | 07:20 WIB

Gelombang Panas Ekstrem Eropa Tewaskan 1000 Orang di Prancis Mayoritas Lansia

Gelombang Panas Ekstrem Eropa Tewaskan 1000 Orang di Prancis Mayoritas Lansia

News | Senin, 29 Juni 2026 | 07:00 WIB

Internal Politik Israel Panas! Benjamin Netanyahu Ancam Keluar dari Partai Likud

Internal Politik Israel Panas! Benjamin Netanyahu Ancam Keluar dari Partai Likud

News | Senin, 29 Juni 2026 | 05:10 WIB

Polandia Pecahkan Rekor Suhu Tertinggi 40,5C, Gelombang Panas Eropa Bergerak ke Timur

Polandia Pecahkan Rekor Suhu Tertinggi 40,5C, Gelombang Panas Eropa Bergerak ke Timur

News | Senin, 29 Juni 2026 | 02:23 WIB

Italia Siaga Gelombang Panas Ekstrem, Suhu Tembus 40 C Korban Jiwa Berjatuhan

Italia Siaga Gelombang Panas Ekstrem, Suhu Tembus 40 C Korban Jiwa Berjatuhan

News | Senin, 29 Juni 2026 | 02:19 WIB

×