- Iran mengutuk keras serangan Israel terhadap pos PBB di Lebanon, menewaskan prajurit TNI Farizal Rhomadhon pada 29 Maret 2026.
- Teheran menilai insiden ini akibat kebijakan agresif Israel yang didukung penuh oleh Amerika Serikat di perbatasan.
- Sertu (Anumerta) Farizal Rhomadhon gugur saat bertugas pengamanan di Adshit al-Qusayr, Lebanon Selatan, di bawah UNIFIL.

Kronologi Tragedi di Garis Depan Lebanon
Ketegangan di Lebanon Selatan mencapai puncaknya pada Minggu malam, 29 Maret 2026.
Area Adshit al-Qusayr, tempat Farizal dan rekan-rekannya bertugas, merupakan wilayah sensitif yang berada tepat di jalur Blue Line—garis demarkasi antara Lebanon dan Israel.
Sekitar pukul 20.44 waktu setempat, suasana yang relatif tenang berubah menjadi mencekam dalam sekejap.
Berdasarkan laporan kronologi yang dihimpun, sebuah proyektil artileri jatuh dan meledak hebat di perimeter Markas Kompi Markas (Kima) Indobatt.
Saat itu, pasukan sedang dalam posisi siaga tinggi mengingat aktivitas militer Israel yang terus meningkat di wilayah perbatasan.
Farizal Rhomadhon yang tengah menjalankan tugas pengamanan di area perimeter menjadi salah satu korban yang terpapar langsung efek ledakan dahsyat tersebut.
Sertu Farizal Rhomadhon yang saat itu sedang menjalankan tugas pengamanan di area tersebut, menjadi salah satu korban terdampak langsung dari ledakan kuat proyektil tersebut.
Meskipun tim medis reaksi cepat UNIFIL segera melakukan evakuasi darurat (casualty evacuation) dan memberikan penanganan medis maksimal di Rumah Sakit Level 2, luka fatal akibat hantaman proyektil membuat nyawanya tidak tertolong.
Pengabdian Tuntas di Bawah Mandat PBB
Gugurnya Farizal di tengah tugas mulia menjaga perdamaian telah menggerakkan simpati publik di kota-kota besar Indonesia.
Di media sosial, tagar duka cita untuk sang prajurit Kulon Progo ini terus mengalir. Pangkat Sersan Satu (Sertu) Anumerta yang diberikan negara merupakan pengakuan atas dedikasi luar biasanya yang tuntas hingga titik darah penghabisan.
Kecaman dari Iran menambah tekanan diplomatik global terhadap Israel agar menghormati kedaulatan pasukan PBB di Lebanon.
Bagi Indonesia, kematian Farizal bukan sekadar statistik perang, melainkan pengingat bahwa perdamaian dunia sering kali harus dibayar mahal dengan nyawa pahlawan-pahlawan muda.