-
Amerika Serikat mengerahkan 57.000 pasukan ke Timur Tengah sebagai sinyal kuat rencana invasi darat.
-
Perang darat di Iran berisiko memicu lonjakan harga minyak dunia hingga di atas USD150.
-
Konflik ini diprediksi melibatkan banyak front tempur dan menyebabkan bencana kemanusiaan yang sangat besar.
Suara.com - Gedung Putih dilaporkan telah menggerakkan puluhan ribu personel militer menuju kawasan Asia Barat dalam skala besar. Invasi ini bisa bikin dunia ikut susah, tak terkecuali Indonesia.
Estimasi menunjukkan lebih dari 57.000 prajurit kini berada di posisi siaga atau tengah menempuh perjalanan darat.
Langkah ini memperkuat dugaan bahwa Presiden Donald Trump segera memberikan komando untuk melakukan serangan darat.
Kehadiran kekuatan tempur ini diprediksi akan mengubah peta kekuatan militer yang sebelumnya sudah ada di sana.
Sekitar 40.000 tentara yang menetap di pangkalan Teluk kini mendapatkan sokongan armada tambahan yang sangat masif.
Dua unit ekspedisi marinir beserta kapal perang USS Boxer dan Tripoli ARG telah dikirim ke lokasi.
Keduanya dikenal sebagai elemen respons global paling berbahaya yang dimiliki oleh angkatan bersenjata Amerika Serikat.
Laporan terbaru menyebutkan bahwa ratusan personel dari Army Ranger serta Navy SEAL juga telah menginjakkan kaki.
Kekuatan udara semakin solid dengan kehadiran puluhan jet tempur siluman F-35B yang siap beroperasi dari kapal induk.
Kapal induk USS George HW Bush dikabarkan telah bertolak dari Norfolk untuk bergabung dengan USS Abraham Lincoln.
Pengerahan kekuatan ini diduga kuat menjadi alat penekan bagi Washington terhadap kebijakan nuklir yang diambil Teheran.
Amerika Serikat tampak menuntut agar pihak Iran bersedia memberikan sekitar 400 kilogram uranium yang telah diperkaya.
Jika penawaran perdamaian yang diajukan oleh Trump tidak segera diterima, opsi militer menjadi langkah yang sangat terbuka.
Banyak analis melihat situasi ini sebagai persiapan nyata untuk menguasai jalur strategis di wilayah perairan internasional tersebut.
Namun, terdapat risiko besar yang membayangi jika peperangan di daratan benar-benar dipaksakan oleh pihak Pentagon.
Konflik darat ini diprediksi tidak akan selesai dalam waktu singkat melainkan bisa memakan waktu bertahun-tahun.
Pasukan Amerika Serikat kemungkinan besar akan terjebak dalam pertempuran di banyak titik sekaligus secara bersamaan.
Lawan yang dihadapi bukan hanya tentara reguler, melainkan juga kelompok proksi seperti Houthi, Hizbullah, hingga Hamas.
Meskipun kekuatan kelompok bersenjata non-negara ini mungkin telah tertekan, mereka tetap menjadi ancaman yang sangat serius.
Intervensi darat ini juga berpotensi memaksa negara-negara di sekitar Teluk untuk menentukan posisi politik mereka secara tegas.
Para prajurit Amerika Serikat di lapangan akan menghadapi tantangan berat berupa taktik perang asimetris dari pihak lawan.
Model peperangan ini melibatkan penggunaan ribuan pesawat tanpa awak seri Shahed yang diproduksi dengan biaya sangat murah.
Tentara AS berisiko menjadi sasaran empuk bagi drone-drone tersebut yang dapat menyebabkan jatuhnya korban jiwa dalam jumlah banyak.
Sistem pertahanan udara yang mahal akan dipaksa bekerja ekstra keras menghadapi gelombang serangan drone yang masif dan konstan.
Selain ancaman fisik, faktor perang siber yang dikembangkan oleh Teheran juga menjadi variabel yang patut diwaspadai pihak Barat.
Serangan militer ini secara otomatis akan memberikan alasan bagi Iran untuk menargetkan infrastruktur energi di kawasan Teluk.
Langkah tersebut akan melumpuhkan aktivitas ekspor minyak dan gas bumi yang sangat krusial bagi kebutuhan dunia.
Selat Hormuz yang merupakan jalur utama distribusi minyak bumi terancam ditutup total akibat pecahnya peperangan darat tersebut.
Kondisi ini akan memicu kepanikan di pasar global dan mendorong harga minyak mentah Brent melampaui angka tertentu.
Negara-negara dengan ketergantungan energi tinggi seperti India dan China akan mengalami dampak ekonomi yang sangat destruktif.
Efek samping yang paling menyedihkan dari rencana invasi ini adalah munculnya bencana kemanusiaan di wilayah Timur Tengah.
Ribuan nyawa telah melayang dalam konflik awal, namun angka tersebut bisa membengkak berkali-kali lipat jika invasi terjadi.
Kelompok hak asasi manusia memberikan peringatan keras mengenai potensi jatuhnya korban dari kalangan warga sipil dan anak-anak.
Sebagai perbandingan, perang besar sebelumnya di wilayah ini telah merenggut nyawa ratusan ribu orang dalam periode tertentu.
Konflik tahun 2026 ini dikhawatirkan akan menciptakan gelombang pengungsi yang sangat luas ke berbagai penjuru dunia.