-
Iran menembakkan sepuluh rudal balistik ke Israel tengah sebagai aksi balasan serangan militer.
-
Donald Trump meluncurkan Operasi Epic Fury untuk menghancurkan kapasitas produksi rudal dan nuklir Iran.
-
Mohsen Rezaei menegaskan Iran akan terus berperang hingga pihak musuh merasakan penyesalan mendalam.
Suara.com - Ketegangan perang di wilayah Timur Tengah mencapai titik didih baru pada hari Rabu waktu setempat.
Iran secara mengejutkan meluncurkan sekitar 10 rudal balistik yang menyasar jantung pertahanan Israel tengah.
Aksi militer ini tercatat sebagai intensitas serangan terbesar sejak eskalasi perang pecah pada 28 Februari lalu.
Suara sirine peringatan dini terdengar memekal di seluruh wilayah pemukiman warga di Israel tengah.
Warga sipil diperintahkan segera mencari perlindungan saat sistem pertahanan udara mendeteksi ancaman dari langit.
Laporan intelijen menyebutkan salah satu rudal yang ditembakkan membawa teknologi hulu ledak cluster berbahaya.
Senjata jenis ini mampu menyebarkan amunisi bom berukuran kecil ke area yang sangat luas.
Puing-puing sisa ledakan rudal dilaporkan jatuh di beberapa titik lokasi pemukiman warga sipil.
Petugas penyelamat segera dikerahkan untuk menyisir dampak kerusakan yang ditimbulkan oleh serangan tersebut.
Hingga saat ini otoritas setempat belum merilis data resmi mengenai jumlah korban jiwa akibat insiden ini.
Guncangan akibat ledakan hebat terdengar sangat jelas oleh penduduk di wilayah pusat pemerintahan Israel.
Sirine darurat aktif secara otomatis di wilayah padat seperti Tel Aviv, Shephelah, dan distrik sekitarnya.
Serangan susulan dilaporkan kembali meluncur menuju arah utara Israel serta kawasan suci Yerusalem.
Pasukan Pertahanan Israel atau IDF merespons cepat manuver agresif yang dilakukan oleh militer Iran tersebut.
Angkatan Udara Israel mulai melakukan serangan balasan besar-besaran ke situs infrastruktur vital di Teheran.