-
Amerika dan Israel menyerang Universitas Sharif Teheran hingga merusak masjid dan fasilitas umum.
-
Lebih dari 30 universitas di Iran hancur akibat strategi militer yang menyasar pusat intelektual.
-
Menteri Sains Iran menyebut serangan kampus sebagai upaya mengembalikan negara mereka ke Zaman Batu.
Pemerintah Iran mencatat bahwa puluhan lembaga pendidikan tinggi telah menjadi korban langsung dari ledakan bom udara.
"Hingga saat ini, lebih dari 30 universitas telah menjadi target langsung," ujar Sarraf pada Minggu.
Pekan sebelumnya, militer Israel juga diketahui telah meluluhlantakkan Universitas Shahid Beheshti yang berlokasi di Teheran Utara.
Kampus tersebut bukan sekadar tempat belajar biasa, melainkan pusat riset strategis yang sangat krusial bagi pemerintah.
Fasilitas lain seperti Institut Riset Laser dan Plasma juga dilaporkan hancur akibat serangan udara dari pasukan Zionis.
Langkah penghancuran ini dianggap sebagai upaya untuk menghambat kemajuan teknologi dan sains yang sedang dikembangkan Iran.
Pemerintah Iran menilai tindakan ini merupakan sebuah upaya paksa untuk menghentikan inovasi domestik mereka secara permanen.
"Menyerang universitas dan pusat penelitian berarti membawa kita kembali ke Zaman Batu," kata Sarraf lagi.
Strategi militer Israel memang memfokuskan gempuran pada lokasi-lokasi pengembangan persenjataan dan program nuklir yang dianggap mengancam.
Pelemahan struktur pertahanan Iran dilakukan dengan cara menghancurkan fondasi ilmu pengetahuan dan laboratorium penelitian tingkat tinggi.
Selain infrastruktur fisik, keselamatan para akademisi kini berada dalam ancaman serius akibat eskalasi perang yang terbuka.
Sarraf mengungkapkan bahwa Amerika Serikat dan Israel tidak hanya mengincar bangunan, tetapi juga nyawa para pakar.
Para profesor dan peneliti jenius menjadi target operasi untuk memutus rantai regenerasi ilmu pengetahuan di negara Iran.
Data masa lalu menunjukkan bahwa banyak tenaga ahli yang telah kehilangan nyawa dalam konflik bersenjata sebelumnya.
Dalam Perang 12 Hari tahun lalu, sebanyak beberapa pakar tewas imbas serangan kedua negara tersebut.