-
Pemuda Iran membentuk rantai manusia untuk melindungi pembangkit listrik dari serangan militer Amerika.
-
Donald Trump mengancam akan menghancurkan seluruh jembatan dan fasilitas listrik Iran besok malam.
-
Teheran menolak gencatan senjata sementara dan menuntut jaminan keamanan permanen melalui mediator Pakistan.
Di sisi lain, Donald Trump justru memperluas target serangannya yang kini mencakup jembatan-jembatan strategis di seluruh wilayah Iran.
Ultimatum ini menjadi semakin panas setelah Teheran secara tegas menolak usulan gencatan senjata selama empat puluh lima hari.
Pihak Iran berkeras bahwa mereka hanya menginginkan kesepakatan permanen yang bisa mengakhiri konflik secara tuntas tanpa syarat tambahan.
Presiden Amerika Serikat tersebut menegaskan bahwa kapasitas pertahanan Iran bisa dilumpuhkan total dalam waktu yang sangat singkat.
"Seluruh negara dapat dihancurkan dalam satu malam, dan malam itu mungkin besok malam," ujar Trump yang menegaskan bahwa batas waktu ini bersifat final.
Meskipun telah memberikan beberapa kali perpanjangan waktu sebelumnya, Trump kini terlihat lebih serius untuk melancarkan serangan udara besar-besaran.
Fasilitas publik seperti jembatan penyeberangan menjadi target utama yang akan dihancurkan jika tuntutan Amerika Serikat tidak segera dipenuhi.
"Setiap jembatan di Iran akan hancur pada jam 12 besok malam," tegasnya mengenai rencana operasi militer yang akan datang.
Ia juga menambahkan bahwa seluruh fasilitas pembangkit tenaga listrik di Iran akan dibuat tidak berfungsi untuk selamanya melalui serangan tersebut.
Pembangkit-pembangkit itu akan "terbakar, meledak, dan tidak akan pernah digunakan lagi," sesuai dengan pernyataan keras sang presiden.
Saat dikonfrontasi mengenai potensi tuduhan kejahatan perang karena menargetkan infrastruktur sipil, Trump memberikan jawaban yang sangat mengejutkan publik.
Ia merasa tidak perlu khawatir terhadap opini internasional maupun hukum perang terkait dampak dari aksi militer yang ia rencanakan.
Ditanya apakah ia khawatir tentang tuduhan kejahatan perang, Trump menjawab, "Tidak, tidak sama sekali."
Trump bahkan mengklaim bahwa sebenarnya masyarakat Iran sendiri yang mengharapkan adanya intervensi dari militer Amerika Serikat saat ini.
Menurut pandangannya, tekanan militer tersebut merupakan satu-satunya jalan untuk mengganti kepemimpinan yang saat ini berkuasa di Teheran.
Warga Iran disebut oleh Trump sebagai kelompok yang memiliki ketabahan tinggi dalam menghadapi penderitaan demi sebuah visi perubahan.
Warga Iran "bersedia menderita", katanya, "demi memiliki kebebasan," meskipun situasi di lapangan menunjukkan pemandangan yang sangat berbeda.
Hingga saat ini, belum terlihat adanya tanda-tanda pemberontakan rakyat di tengah ancaman pengeboman yang semakin mendekat ke pemukiman.
Amerika Serikat memberikan pilihan sulit bagi Iran: buka Selat Hormuz bagi semua kapal atau hadapi kehancuran total infrastruktur.
Situasi semakin rumit setelah Israel turut menyerang pabrik petrokimia dan menargetkan petinggi intelijen Garda Revolusi Iran beberapa waktu lalu.
Teheran telah mengirimkan sepuluh poin rencana perdamaian melalui Pakistan sebagai mediator utama dalam konflik yang sedang berlangsung ini.
Pemerintah Iran menegaskan tidak akan mundur sebelum mendapatkan jaminan keamanan yang pasti dari pihak Washington dan sekutunya.
"Kami hanya menerima diakhirinya perang dengan jaminan bahwa kami tidak akan diserang lagi," tegas Mojtaba Ferdousi Pour kepada media.
Rasa tidak percaya Iran terhadap pemerintahan Trump menjadi hambatan besar karena adanya riwayat pemboman pada sesi perundingan sebelumnya.
"Kami masih berbicara dengan kedua belah pihak," ujar seorang pejabat regional yang berusaha menjaga agar jalur diplomasi tetap terbuka.