- Amerika Serikat dan Iran sepakat menempuh jalur diplomasi melalui mediasi Pakistan setelah Presiden Trump menyatakan gencatan senjata.
- Pakistan berhasil menjadi mediator karena memiliki kedekatan personal dengan pemerintahan Trump serta posisi geopolitik yang sangat strategis.
- Peran Pakistan sebagai penengah bertujuan menguatkan pengaruh regional di tengah tantangan ekonomi dan persaingan politik dengan India.
Selama ini, India dianggap sebagai kekuatan dominan di Asia Selatan dengan pertumbuhan ekonomi yang jauh melampaui Pakistan.
Tapi, dalam konteks diplomasi dengan pemerintahan Trump, Pakistan tampak lebih lincah dalam mengambil hati sang Presiden.
Staniland mencatat, Pakistan bahkan melangkah lebih jauh dengan menominasikan Trump untuk Hadiah Nobel Perdamaian dan terlibat dalam Board of Peace atau Dewan Perdamaian bentukan Trump. Sebagai catatan, Indonesia juga menjadi anggota dewan ini.
Hal ini menciptakan kegelisahan tersendiri di New Delhi.
“Saya rasa, India khawatir Pakistan lebih efektif dalam mempermainkan pemerintahan Trump dan mendapatkan simpati darinya. Hal ini, dalam beberapa hal, menciptakan tantangan nyata bagi India,” jelas Staniland.
Fenomena ini juga menjawab pertanyaan tentang keandalan Washington sebagai mitra strategis bagi India.
Menurut Staniland, Washington kini tidak lagi dilihat sebagai mitra strategis yang sepenuhnya dapat diprediksi seperti satu dekade lalu, yang memberikan batas pada potensi kedekatan hubungan AS-India di masa depan.

Bangun reputasi di tengah krisis ekonomi
Bagi Pakistan, menjadi mediator bukan sekadar membantu perdamaian dunia, melainkan upaya untuk "bertarung di atas kelasnya".
Dengan krisis ekonomi domestik dan konflik di perbatasan Afghanistan yang masih memanas, Islamabad membutuhkan beragam portofolio hubungan internasional untuk menyeimbangkan pengaruh India di Asia Selatan.
Namun, posisi ini bukan tanpa risiko. Pakistan kini terikat pakta pertahanan dengan Arab Saudi. Jika perang antara AS dan Iran justru eskalasi, Pakistan akan berada dalam posisi sulit: harus membantu Arab Saudi melawan Iran, yang merupakan tetangga sekaligus mitra bisnis potensial mereka.
“Pakistan tidak ingin berada dalam situasi di mana perang meningkat, dan terpaksa meminta bantuan Arab Saudi melawan negara tetangganya—dan mitra bisnis potensial yang penting—Iran,” papar Staniland.
Masa Depan Diplomasi Pakistan
Meskipun Pakistan telah berhasil memfasilitasi pertukaran pesan dan mengadakan pertemuan tingkat regional di Islamabad, keberhasilan akhir tetap bergantung pada kejelasan tujuan pemerintahan Trump dan kesediaan Iran untuk berkompromi.
Staniland mengingatkan, pesan yang keluar dari Washington seringkali membingungkan dan kontradiktif.