Indonesia Lebih Dulu, Kenapa Donald Trump Pilih Pakistan Jadi Mediator Damai?

Bernadette Sariyem

Jum'at, 10 April 2026 | 11:44 WIB
Indonesia Lebih Dulu, Kenapa Donald Trump Pilih Pakistan Jadi Mediator Damai?
Kolase foto Presiden RI Prabowo bersama Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif (kiri), dan Presiden AS Donald Trump bersama Sharif (kanan). [Suara.com]
baca 10 detik
  • Amerika Serikat dan Iran sepakat menempuh jalur diplomasi melalui mediasi Pakistan setelah Presiden Trump menyatakan gencatan senjata.
  • Pakistan berhasil menjadi mediator karena memiliki kedekatan personal dengan pemerintahan Trump serta posisi geopolitik yang sangat strategis.
  • Peran Pakistan sebagai penengah bertujuan menguatkan pengaruh regional di tengah tantangan ekonomi dan persaingan politik dengan India.

Suara.com - Ketika Amerika Serikat dan Israel melakukan serangan agresi terhadap Iran, 28 Februari 2026, pemerintah Indonesia menyatakan siap menjadi juru damai. Tapi kini, ketiga negara yang bertikai justru memilih Pakistan sebagai mediator, apa alasannya?

Selasa (3/3), Menteri Luar Negeri Sugiono mengatakan telah berkomunikasi dengan Amerika Serikat maupun Iran agar mau duduk berunding di meja mediasi, ditengahi oleh Presiden RI Prabowo Subianto.

"Saya sudah berkomunikasi dengan pihak AS dan Iran. Tapik mereka belum memberikan keputusan. Kita tunggu bagaimana nanti," kata Menteri Luar Negeri RI Sugiono, Selasa malam saat itu.

Namun, begitu Presiden AS Donald Trump menyatakan gencatan senjata pada Rabu (8/4) pekan ini, dia maupun pihak Iran bersepakat menempuh jalur diplomasi dengan perantara Pakisan.

Bahkan, Trump mengucapkan terima kasih kepada Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif karena gigih mengupayakan perdamaian.

Begitu juga Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi yang mengatakan pihaknya mau gencatan senjata karena Sharif berhasil meyakinkan untuk duduk berunding.

Paul Staniland, Profesor Ilmu Politik dari University of Chicago, mengatakan Pakistan secara geopolitik mempunyai keunggulan sebagai penengah antara AS dan Iran.

Pakistan, kata dia, negara yang berbatasan langsung dengan Iran di sisi barat ini, sudah sejak lama menjadi perantara pesan utama antara Teheran dan Washington.

Pada periode pertama Trump sebagai presiden AS, hubungan dengan Pakistan cenderung fluktuatif, bahkan seringkali diwarnai cuitan negatif dari Trump.

baca juga

Namun, pada masa jabatan kedua ini, Islamabad berhasil membalikkan keadaan dengan mendekati 'lingkaran dalam' Trump secara personal.

“Sebenarnya, jauh sebelum perang Iran ini, Pakistan telah benar-benar bisa menjangkau pemerintahan Trump maupun Trump secara pribadi beserta keluarga.  Jadi, terdapat dasar kuat yang sudah ada sebelumnya untuk menjadi mediator," kata Staniland, dikutip dari globalaffairs.org, Jumat (10/4/2026).

Keberhasilan Pakistan tidak hanya terletak pada lobi di Washington. Secara geografis dan geopolitik, Pakistan memiliki modal yang kuat: perbatasan darat yang panjang dengan Iran, pakta pertahanan dengan Arab Saudi, serta hubungan erat dengan China.

Posisi unik ini memungkinkan Pakistan menempatkan dirinya sebagai jembatan di tengah krisis energi dan keamanan yang melibatkan banyak aktor besar.

Perang antara AS-Israel melawan Iran akhirnya resmi berhenti sementara. AS dan Iran sama-sama sepakat untuk melakukan gencatan senjata. [Tangkap layar X]
Perang antara AS-Israel melawan Iran akhirnya resmi berhenti sementara. AS dan Iran sama-sama sepakat untuk melakukan gencatan senjata. [Tangkap layar X]

Mengungguli India dalam Perebutan Pengaruh?

Keterlibatan aktif Pakistan dalam negosiasi ini, terjadi di saat hubungan AS dan India justru sedang mengalami gesekan.

Selama ini, India dianggap sebagai kekuatan dominan di Asia Selatan dengan pertumbuhan ekonomi yang jauh melampaui Pakistan.

Tapi, dalam konteks diplomasi dengan pemerintahan Trump, Pakistan tampak lebih lincah dalam mengambil hati sang Presiden.

Staniland mencatat, Pakistan bahkan melangkah lebih jauh dengan menominasikan Trump untuk Hadiah Nobel Perdamaian dan terlibat dalam Board of Peace atau Dewan Perdamaian bentukan Trump. Sebagai catatan, Indonesia juga menjadi anggota dewan ini.

Hal ini menciptakan kegelisahan tersendiri di New Delhi.

“Saya rasa, India khawatir Pakistan lebih efektif dalam mempermainkan pemerintahan Trump dan mendapatkan simpati darinya. Hal ini, dalam beberapa hal, menciptakan tantangan nyata bagi India,” jelas Staniland.

Fenomena ini juga menjawab pertanyaan tentang keandalan Washington sebagai mitra strategis bagi India.

Menurut Staniland, Washington kini tidak lagi dilihat sebagai mitra strategis yang sepenuhnya dapat diprediksi seperti satu dekade lalu, yang memberikan batas pada potensi kedekatan hubungan AS-India di masa depan.

Presiden RI Prabowo Subianto bersalaman dengan Perdana Menteri India Narendra Modi di kediaman kenegaraan India, Hyderabad House yang terletak di New Delhi, Sabtu (25/1/2025) siang waktu setempat. (Foto dok. Biro Pers)
Presiden RI Prabowo Subianto bersalaman dengan Perdana Menteri India Narendra Modi di kediaman kenegaraan India, Hyderabad House yang terletak di New Delhi, Sabtu (25/1/2025) siang waktu setempat. (Foto dok. Biro Pers)

Bangun reputasi di tengah krisis ekonomi

Bagi Pakistan, menjadi mediator bukan sekadar membantu perdamaian dunia, melainkan upaya untuk "bertarung di atas kelasnya".

Dengan krisis ekonomi domestik dan konflik di perbatasan Afghanistan yang masih memanas, Islamabad membutuhkan beragam portofolio hubungan internasional untuk menyeimbangkan pengaruh India di Asia Selatan.

Namun, posisi ini bukan tanpa risiko. Pakistan kini terikat pakta pertahanan dengan Arab Saudi. Jika perang antara AS dan Iran justru eskalasi, Pakistan akan berada dalam posisi sulit: harus membantu Arab Saudi melawan Iran, yang merupakan tetangga sekaligus mitra bisnis potensial mereka.

“Pakistan tidak ingin berada dalam situasi di mana perang meningkat, dan terpaksa meminta bantuan Arab Saudi melawan negara tetangganya—dan mitra bisnis potensial yang penting—Iran,” papar Staniland.

Masa Depan Diplomasi Pakistan

Meskipun Pakistan telah berhasil memfasilitasi pertukaran pesan dan mengadakan pertemuan tingkat regional di Islamabad, keberhasilan akhir tetap bergantung pada kejelasan tujuan pemerintahan Trump dan kesediaan Iran untuk berkompromi.

Staniland mengingatkan, pesan yang keluar dari Washington seringkali membingungkan dan kontradiktif.

"Keberhasilan dalam memediasi resolusi perang ini akan menempatkan Pakistan sebagai penstabil regional, dan perantara yang berharga di panggung internasional," kata dia.

Namun, Staniland menekankan kemesraan ini mungkin sangat spesifik terhadap era Trump. Belum ada jaminan hubungan baik ini akan berlanjut setelah tahun 2028, mengingat sejarah hubungan AS-Pakistan yang selalu diwarnai pasang surut yang drastis.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Iran Endus Rencana Licik AS: Curiga Sabotase Perundingan dan Jadikan Israel Tameng

Iran Endus Rencana Licik AS: Curiga Sabotase Perundingan dan Jadikan Israel Tameng

News | Jum'at, 10 April 2026 | 11:38 WIB

Gencatan Senjata Terancam Batal, Iran Bersumpah Bakal Hanguskan Seluruh Aset AS di Timur Tengah

Gencatan Senjata Terancam Batal, Iran Bersumpah Bakal Hanguskan Seluruh Aset AS di Timur Tengah

News | Jum'at, 10 April 2026 | 11:32 WIB

Menlu Iran Peringatkan Amerika Serikat Jangan Mau Jadi Pion Benjamin Netanyahu

Menlu Iran Peringatkan Amerika Serikat Jangan Mau Jadi Pion Benjamin Netanyahu

News | Jum'at, 10 April 2026 | 10:45 WIB

Iran Ancam Hancurkan Kapal yang Lewati Selat Hormuz Tanpa Izin

Iran Ancam Hancurkan Kapal yang Lewati Selat Hormuz Tanpa Izin

News | Jum'at, 10 April 2026 | 10:40 WIB

Blokade Selat Hormuz Masuki Fase Baru Usai Mojtaba Khamenei Muncul

Blokade Selat Hormuz Masuki Fase Baru Usai Mojtaba Khamenei Muncul

News | Jum'at, 10 April 2026 | 10:22 WIB

Mia Khalifa Nangis Lebanon Dibom: AS dan Israel Negara Fasis Teroris

Mia Khalifa Nangis Lebanon Dibom: AS dan Israel Negara Fasis Teroris

News | Jum'at, 10 April 2026 | 10:22 WIB

Iran Bakal Bombardir Israel Jika Tetap Langgar Gencatan Senjata di Lebanon: Waktu Hampir Habis!

Iran Bakal Bombardir Israel Jika Tetap Langgar Gencatan Senjata di Lebanon: Waktu Hampir Habis!

News | Jum'at, 10 April 2026 | 10:05 WIB

Terkini

The Walk Hadir di Serpong, Satukan Kuliner dan Beauty dalam Satu Destinasi Lifestyle

The Walk Hadir di Serpong, Satukan Kuliner dan Beauty dalam Satu Destinasi Lifestyle

Lifestyle | Kamis, 17 September 2026 | 02:04 WIB

Momen Kaesang Pangarep Ajak Anak Penyintas Gempa Palue Main Catur dan Ular Tangga

Momen Kaesang Pangarep Ajak Anak Penyintas Gempa Palue Main Catur dan Ular Tangga

Bali | Rabu, 16 September 2026 | 23:24 WIB

Menkeu Suahasil Akan Evaluasi Perombakan Ratusan Pejabat Kemenkeu Era Purbaya

Menkeu Suahasil Akan Evaluasi Perombakan Ratusan Pejabat Kemenkeu Era Purbaya

Bisnis | Rabu, 16 September 2026 | 23:11 WIB

Teknologi Silicon-Carbon dan Update 6 Tahun, REDMI Note 17 Mulai Rp3,9 Jutaan

Teknologi Silicon-Carbon dan Update 6 Tahun, REDMI Note 17 Mulai Rp3,9 Jutaan

Tekno | Rabu, 16 September 2026 | 23:10 WIB

Antrean Pertalite Mengular di Bengkulu, Helmi Hasan Malah Ajak Warga Salat Tobat

Antrean Pertalite Mengular di Bengkulu, Helmi Hasan Malah Ajak Warga Salat Tobat

Sumsel | Rabu, 16 September 2026 | 23:00 WIB

44 Ribu Hektare Tanah TNI Bermasalah, TNI Akui Potensi Konflik Agraria Kian Tinggi

44 Ribu Hektare Tanah TNI Bermasalah, TNI Akui Potensi Konflik Agraria Kian Tinggi

News | Rabu, 16 September 2026 | 22:55 WIB

Dulu Cuma Scan QR, Kini Pembayaran Digital Makin Pintar dan Menembus Transaksi Global

Dulu Cuma Scan QR, Kini Pembayaran Digital Makin Pintar dan Menembus Transaksi Global

Tekno | Rabu, 16 September 2026 | 22:49 WIB

RUU Reforma Agraria akan Disahkan di Rapat Paripurna 22 September

RUU Reforma Agraria akan Disahkan di Rapat Paripurna 22 September

News | Rabu, 16 September 2026 | 22:41 WIB

Dirut BRI: Kekuatan Holding UMi Ditopang oleh Integrasi Keunggulan Entitas

Dirut BRI: Kekuatan Holding UMi Ditopang oleh Integrasi Keunggulan Entitas

Bri | Rabu, 16 September 2026 | 22:39 WIB

MK Minta Kewenangan Bakamla Disusun Ulang, DPR dan Pemerintah Diberi Waktu 2 Tahun

MK Minta Kewenangan Bakamla Disusun Ulang, DPR dan Pemerintah Diberi Waktu 2 Tahun

News | Rabu, 16 September 2026 | 22:31 WIB

×