Breakingnews! Negosiasi Amerika Serikat dan Iran di Pakistan Buntu

Pebriansyah Ariefana

Minggu, 12 April 2026 | 11:20 WIB
Breakingnews! Negosiasi Amerika Serikat dan Iran di Pakistan Buntu
Kegagalan negosiasi nuklir antara Amerika Serikat dan Iran di Islamabad mengancam stabilitas pasokan energi dunia.
  • Negosiasi nuklir antara AS dan Iran di Islamabad berakhir buntu tanpa ada kesepakatan resmi.

  • Penolakan Iran terhadap syarat nuklir AS mengancam pembukaan jalur energi Selat Hormuz.

  • JD Vance menegaskan posisi Washington tidak akan berkompromi terhadap pengembangan senjata nuklir Iran.

Suara.com - Kegagalan pencapaian kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran di Islamabad memperburuk risiko krisis energi global.

Ketiadaan titik temu dalam negosiasi maraton tersebut mengancam pembukaan kembali jalur vital Selat Hormuz.

Dikutip dari Guardian, kondisi ini diprediksi akan terus menekan harga minyak mentah di pasar internasional secara signifikan.

Cawapres Donald Trump, JD Vance (instagram/teamjdvance)
Cawapres Donald Trump, JD Vance (instagram/teamjdvance)

JD Vance meninggalkan lokasi perundingan tanpa membawa dokumen kesepakatan yang diharapkan mampu meredakan ketegangan.

Amerika Serikat menegaskan tetap pada posisi keras terkait penghentian total ambisi nuklir Teheran.

Vance mengungkapkan bahwa Iran tidak bersedia menerima poin-poin krusial yang diajukan oleh pihak Washington.

Isi kesepakatan tersebut mencakup komitmen tegas untuk tidak membangun atau mengembangkan senjata nuklir.

“Berita buruknya adalah kita belum mencapai kesepakatan, dan menurut saya itu adalah berita buruk bagi Iran lebih dari sekadar berita buruk bagi Amerika Serikat,” kata Vance.

Penolakan Teheran terhadap syarat Amerika Serikat membuat delegasi pimpinan JD Vance memutuskan untuk pulang.

Sikap keras kepala dalam meja perundingan ini dianggap sebagai kerugian besar bagi stabilitas keamanan regional.

Posisi Tegas Washington dan Garis Merah

Vance memastikan bahwa batas-batas kebijakan luar negeri Amerika Serikat telah disampaikan secara transparan kepada Iran.

“Jadi kita kembali ke Amerika Serikat dengan tidak menghasilkan kesepakatan. Kami telah menjelaskan dengan sangat jelas apa garis merah kami,” tegas Vance.

Selama proses negosiasi, Vance mengaku terus melakukan koordinasi intensif dengan Presiden Donald Trump.

Setidaknya terdapat enam kali komunikasi langsung antara Vance dan Trump untuk membahas dinamika di ruang rapat.

Perselisihan paling tajam di antara kedua negara terletak pada isu pengembangan teknologi persenjataan atom.

Pemerintah Amerika Serikat menginginkan adanya jaminan tertulis bahwa Iran tidak akan pernah memiliki bom atom.

“Kami perlu melihat komitmen afirmatif bahwa [Iran] tidak akan mencari senjata nuklir, dan mereka tidak akan mencari alat yang memungkinkan mereka mencapai senjata nuklir dengan cepat,” jelas Vance.

Kepastian tersebut merupakan target utama yang dicanangkan oleh Presiden Trump dalam diplomasi luar negerinya.

Namun, media pemerintah Iran justru menuding Amerika Serikat mengajukan permintaan yang terlalu berlebihan.

Kantor berita Tasnim menyebut hambatan utama muncul dari tekanan sepihak yang dianggap tidak masuk akal.

Sinyal Kontradiktif dari Delegasi Teheran

Sebelum pernyataan resmi Vance keluar, pihak Iran sempat mengisyaratkan bahwa komunikasi teknis masih akan berlanjut.

Melalui unggahan di media sosial, mereka menyebutkan bahwa para ahli dari kedua belah pihak tetap bertukar dokumen.

Pertemuan di Islamabad ini sebenarnya menjadi momen sejarah karena merupakan diskusi tingkat tertinggi sejak 1979.

Pakistan memainkan peran krusial sebagai mediator dalam pertemuan yang melibatkan menteri luar negeri dan ketua parlemen Iran.

Situasi di dalam ruang pertemuan dilaporkan sangat emosional dengan suasana yang berubah-ubah secara drastis.

Konflik ini bermula dari perang yang telah menewaskan ribuan orang dan memicu penutupan Selat Hormuz oleh Iran.

Jalur laut tersebut sangat vital karena menjadi tempat perlintasan bagi sekitar 20 persen pasokan energi dunia.

Iran menuntut pembebasan aset yang dibekukan, pembayaran reparasi perang, serta kendali penuh atas wilayah selat tersebut.

Di sisi lain, Amerika Serikat mulai menyiapkan armada militer untuk membersihkan ranjau di jalur pelayaran strategis itu.

Hingga saat ini, belum ada kepastian kapan kedua negara akan kembali duduk bersama untuk mengakhiri kebuntuan diplomatik.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Negosiasi Iran dan AS di Islamabad Berlanjut, Delegasi Perpanjang Waktu Perundingan

Negosiasi Iran dan AS di Islamabad Berlanjut, Delegasi Perpanjang Waktu Perundingan

News | Minggu, 12 April 2026 | 11:08 WIB

Strategi Bertahan Iran Selama 40 Hari Runtuhkan Dominasi Pertahanan Udara Zionis

Strategi Bertahan Iran Selama 40 Hari Runtuhkan Dominasi Pertahanan Udara Zionis

News | Minggu, 12 April 2026 | 10:51 WIB

Perundingan AS-Iran Kacau, Trump Malah Nonton UFC Ketimbang Negosiasi Selat Hormuz

Perundingan AS-Iran Kacau, Trump Malah Nonton UFC Ketimbang Negosiasi Selat Hormuz

Bisnis | Minggu, 12 April 2026 | 10:49 WIB

Terkini

Predator di Balik Tembok Pesantren: Mengapa Kasus Kekerasan Seksual Sulit Diungkap?

Predator di Balik Tembok Pesantren: Mengapa Kasus Kekerasan Seksual Sulit Diungkap?

News | Minggu, 31 Mei 2026 | 07:00 WIB

Bakal Bertemu Prabowo-Gibran? Djarot Beri Sinyal Megawati Hadiri Peringatan Hari Lahir Pancasila

Bakal Bertemu Prabowo-Gibran? Djarot Beri Sinyal Megawati Hadiri Peringatan Hari Lahir Pancasila

News | Sabtu, 30 Mei 2026 | 20:55 WIB

3 Kali ke Prancis dalam 5 Bulan, Elite PDIP Pertanyakan Urgensi Kunjungan Presiden Prabowo

3 Kali ke Prancis dalam 5 Bulan, Elite PDIP Pertanyakan Urgensi Kunjungan Presiden Prabowo

News | Sabtu, 30 Mei 2026 | 19:29 WIB

Sumber Teror Api Misterius di Seyegan Mulai Terkuak, Tim UPN Soroti Gas Metana dari Bekas Rawa

Sumber Teror Api Misterius di Seyegan Mulai Terkuak, Tim UPN Soroti Gas Metana dari Bekas Rawa

News | Sabtu, 30 Mei 2026 | 18:45 WIB

Bukan Mistis! Misteri Barang Terbakar Sendiri di Sleman Terungkap, Pakar UGM Bongkar Biang Keroknya

Bukan Mistis! Misteri Barang Terbakar Sendiri di Sleman Terungkap, Pakar UGM Bongkar Biang Keroknya

News | Sabtu, 30 Mei 2026 | 18:19 WIB

Pandji Pragiwaksono Soroti 'Pengakuan Terbuka' Prabowo Soal Keterlibatan Partai dalam Tender Negara

Pandji Pragiwaksono Soroti 'Pengakuan Terbuka' Prabowo Soal Keterlibatan Partai dalam Tender Negara

News | Sabtu, 30 Mei 2026 | 17:53 WIB

Prof Uceng: Negara Bukan Takut Film Pesta Babi, Tapi Takut Narasi Alternatif

Prof Uceng: Negara Bukan Takut Film Pesta Babi, Tapi Takut Narasi Alternatif

News | Sabtu, 30 Mei 2026 | 16:44 WIB

Sebut Film 'Pesta Babi' Aman Secara Hukum, Uceng UGM: Jangan-Jangan Ada Unsur Politik?

Sebut Film 'Pesta Babi' Aman Secara Hukum, Uceng UGM: Jangan-Jangan Ada Unsur Politik?

News | Sabtu, 30 Mei 2026 | 16:35 WIB

Ribuan Lansia Jalan Sehat Meriahkan Puncak HLUN 2026 di NTT

Ribuan Lansia Jalan Sehat Meriahkan Puncak HLUN 2026 di NTT

News | Sabtu, 30 Mei 2026 | 16:10 WIB

Guru Besar UGM Cium Ada Perubahan Sikap yang Tak Biasa Usai Mama Sinta Lapor Polisi soal Pesta Babi

Guru Besar UGM Cium Ada Perubahan Sikap yang Tak Biasa Usai Mama Sinta Lapor Polisi soal Pesta Babi

News | Sabtu, 30 Mei 2026 | 16:05 WIB