- Anggota DPRD DKI Jakarta, Kevin Wu, mengkritik maraknya aksi premanisme terhadap pedagang dan sopir di Tanah Abang.
- Kevin mendesak Pemprov DKI Jakarta segera memberantas praktik pemalakan agar kawasan pusat ekonomi tersebut lebih aman.
- Aparat diminta melakukan pengawasan proaktif tanpa harus menunggu kejadian atau aksi kekerasan menjadi viral di media.
Suara.com - Aksi premanisme yang terjadi di kawasan pusat ekonomi Tanah Abang, Jakarta Pusat memicu kritik pedas dari parlemen Kebon Sirih. Anggota DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PSI, Kevin Wu, menilai keberadaan preman yang merajalela tidak hanya meresahkan warga, tetapi juga mencoreng citra Jakarta sebagai pusat ekonomi nasional.
Kevin mendesak Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta untuk memberikan perhatian serius dan segera memberantas praktik pemalakan yang kian berani di ruang publik tersebut.
“Saya sangat menyayangkan premanisme masih terjadi di Jakarta. Fenomena tersebut sangat mengganggu dan merugikan masyarakat. Saya harap Pemprov (Pemerintah Provinsi) DKI bisa memberikan atensi dan segera mengatasinya," ujar Kevin Wu saat dikonfirmasi awak media, Minggu (12/4/2026).
Politisi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) ini juga memberikan catatan keras terkait pola penanganan keamanan yang ada. Ia memperingatkan Pemprov Jakarta agar tidak terjebak dalam kebiasaan reaktif, yakni baru bertindak setelah ada video kekerasan yang viral di media sosial.
Menurut Kevin, aparat seharusnya memiliki sistem pengawasan yang proaktif karena banyak masyarakat kecil yang sudah menjadi korban jauh sebelum aksi tersebut terendus netizen.
“Dan jangan sampai Pemprov DKI juga baru bertindak ketika ada kejadian-kejadian yang viral. Karena masyarakat yang menghadapi premanisme ini sebenarnya sudah dirugikan sebelum kasus-kasus itu mencuat di masyarakat,” tegasnya.
![Polisi meringkus tiga pria terkait aksi premanisme berupa pemerasan disertai ancaman terhadap pedagang di kawasan Jalan K.H. Mas Mansyur, Tanah Abang, Jakarta Pusat. [Instagram]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/10/96938-preman-tanah-abang.jpg)
Dari Sopir Bajaj hingga Tukang Bakso
Keresahan ini bukan tanpa alasan. Sebelumnya, jagat maya dihebohkan dengan rekaman aksi pemalakan terhadap sopir bajaj yang dipaksa menyetor uang jatah preman hingga Rp100 ribu per hari.
Tak hanya itu, aksi beringas preman juga menyasar pedagang bakso. Karena tidak diberikan uang jatah, preman tersebut dengan tega menghancurkan mangkok-mangkok milik pedagang di depan umum sebagai bentuk intimidasi.
Kevin berharap langkah nyata segera diambil agar para pejuang ekonomi di tingkat bawah seperti sopir bajaj dan pedagang kecil bisa mencari nafkah dengan tenang tanpa bayang-bayang ancaman premanisme.