Tak Semua Penghijauan Berdampak Positif, Studi Ungkap Ancaman di Balik Penanaman Pohon Massal

Bimo Aria Fundrika | Suara.com

Senin, 13 April 2026 | 17:55 WIB
Tak Semua Penghijauan Berdampak Positif, Studi Ungkap Ancaman di Balik Penanaman Pohon Massal
Ilustrasi menanam pohon (Freepik)

Suara.com - Upaya global untuk menekan laju perubahan iklim terus dilakukan, terutama melalui pengurangan emisi karbon. Namun, tantangan yang dihadapi masih besar.

Data menunjukkan emisi global saat ini masih mencapai sekitar 42 miliar metrik ton karbon dioksida per tahun, yang berasal dari pembakaran bahan bakar fosil dan perubahan penggunaan lahan.

Untuk mencapai target Perjanjian Paris, membatasi kenaikan suhu global hingga 1,5 derajat Celsius—para ahli menilai bahwa pengurangan emisi saja tidak cukup.

Diperlukan pula strategi tambahan untuk menghapus karbon dioksida yang sudah berada di atmosfer dalam skala besar. Salah satu cara yang paling umum dilakukan adalah penanaman pohon.

Meski terdengar sederhana dan ramah lingkungan, studi terbaru yang dikutip dari Phys.org mengungkap bahwa strategi ini memiliki konsekuensi yang tidak bisa diabaikan.

Kebutuhan Lahan Jadi Tantangan

Penanaman pohon dalam skala besar membutuhkan area yang sangat luas, bahkan hingga jutaan kilometer persegi. Hal ini menimbulkan potensi konflik penggunaan lahan, terutama dengan kawasan yang memiliki nilai keanekaragaman hayati tinggi.

Para ilmuwan memetakan skenario dekarbonisasi dengan menggabungkan data penggunaan lahan dan peta keanekaragaman hayati. Hasilnya menunjukkan adanya tumpang tindih antara wilayah yang direncanakan untuk penyerapan karbon dengan ekosistem penting.

Jika tidak dikelola dengan hati-hati, upaya ini justru dapat merugikan lingkungan.

Risiko di Ekosistem Non-Hutan

Salah satu temuan utama dari penelitian tersebut adalah dampak negatif penanaman pohon di wilayah yang secara alami bukan hutan, seperti sabana dan padang rumput.

Ekosistem ini sering dianggap sebagai lahan kosong yang bisa dihijaukan. Padahal, kawasan tersebut memiliki fungsi ekologis penting dan menjadi habitat bagi berbagai spesies yang bergantung pada kondisi terbuka.

Penanaman pohon di wilayah ini dapat mengubah struktur ekosistem, mengganggu keseimbangan alami, dan berpotensi menghilangkan habitat spesies tertentu. Dengan kata lain, intervensi yang dimaksudkan untuk membantu lingkungan justru bisa merusaknya.

Selain itu, sekitar 13 persen wilayah refugia iklim global—area yang relatif lebih stabil terhadap perubahan iklim—berpotensi terdampak oleh strategi ini. Kawasan dengan keanekaragaman hayati tinggi juga menghadapi risiko serupa.

Perlu Perencanaan yang Tepat

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Emisi Karbon Terus Naik, Bisakah CO2 Diubah Jadi Produk Berguna?

Emisi Karbon Terus Naik, Bisakah CO2 Diubah Jadi Produk Berguna?

News | Kamis, 09 April 2026 | 11:55 WIB

Diklaim Ramah Lingkungan, Ekowisata Justru Berisiko Gagal Redam Emisi Karbon Global: Mengapa?

Diklaim Ramah Lingkungan, Ekowisata Justru Berisiko Gagal Redam Emisi Karbon Global: Mengapa?

Lifestyle | Kamis, 02 April 2026 | 19:30 WIB

Indonesia-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan, Dorong Investasi Karbon

Indonesia-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan, Dorong Investasi Karbon

News | Rabu, 01 April 2026 | 15:55 WIB

Terkini

Jubir Buka Peluang JK Dialog soal Laporan Dugaan Penistaan Agama

Jubir Buka Peluang JK Dialog soal Laporan Dugaan Penistaan Agama

News | Senin, 13 April 2026 | 18:00 WIB

Jejak Gelap Aep Saepudin: Sosok Pendiam di Rancaekek yang Jadi Broker Senpi Ilegal Ki Bedil

Jejak Gelap Aep Saepudin: Sosok Pendiam di Rancaekek yang Jadi Broker Senpi Ilegal Ki Bedil

News | Senin, 13 April 2026 | 17:53 WIB

Esra Erkomay: Deteksi Dini Harus Jadi Budaya Agar Kanker di Indonesia Bukan Lagi Vonis Mati

Esra Erkomay: Deteksi Dini Harus Jadi Budaya Agar Kanker di Indonesia Bukan Lagi Vonis Mati

News | Senin, 13 April 2026 | 17:50 WIB

Pramono Sebut Parpol Bisa Beli Nama Halte, NasDem Langsung Incar Naming Rights Gondangdia

Pramono Sebut Parpol Bisa Beli Nama Halte, NasDem Langsung Incar Naming Rights Gondangdia

News | Senin, 13 April 2026 | 17:40 WIB

Nekat Foto di Jalur Maut Sitinjau Lauik, Rombongan Arteria Dahlan Bikin Polisi Kena Getahnya!

Nekat Foto di Jalur Maut Sitinjau Lauik, Rombongan Arteria Dahlan Bikin Polisi Kena Getahnya!

News | Senin, 13 April 2026 | 17:26 WIB

Operasi Imigrasi Sapu Bersih, 346 WNA Diciduk dalam 5 Hari

Operasi Imigrasi Sapu Bersih, 346 WNA Diciduk dalam 5 Hari

News | Senin, 13 April 2026 | 17:15 WIB

Tolak 'War Tiket Haji', Maman DPR: Ibadah Bukan Ajang Kompetisi Klik Internet!

Tolak 'War Tiket Haji', Maman DPR: Ibadah Bukan Ajang Kompetisi Klik Internet!

News | Senin, 13 April 2026 | 17:10 WIB

1,5 Tahun Menjabat, Kepercayaan Publik pada Prabowo Tembus 75,1 Persen, MBG Jadi Faktor Utama

1,5 Tahun Menjabat, Kepercayaan Publik pada Prabowo Tembus 75,1 Persen, MBG Jadi Faktor Utama

News | Senin, 13 April 2026 | 17:05 WIB

Kepuasan Publik ke Prabowo-Gibran Tembus 74,1 Persen, Program MBG Jadi Faktor Utama

Kepuasan Publik ke Prabowo-Gibran Tembus 74,1 Persen, Program MBG Jadi Faktor Utama

News | Senin, 13 April 2026 | 17:03 WIB

Respons Modus 'Surat Mundur', Wagub Jatim Minta Inspektorat Dalami Kasus OTT Bupati Tulungagung

Respons Modus 'Surat Mundur', Wagub Jatim Minta Inspektorat Dalami Kasus OTT Bupati Tulungagung

News | Senin, 13 April 2026 | 16:52 WIB