-
Donald Trump mengancam menenggelamkan kapal Iran jika mendekati blokade laut di Selat Hormuz.
-
Perundingan damai di Pakistan gagal mencapai kesepakatan terkait pengawasan program nuklir Iran.
-
Blokade maritim memicu krisis kemanusiaan yang menyebabkan 20.000 pelaut terjebak di tengah laut.
“Saya benar-benar berpikir bola sekarang ada di pihak Iran karena kami sudah menawarkan banyak hal. Kami juga sudah sangat jelas mengenai garis merah kami,” kata Vance kepada Fox News.
Meskipun mediator seperti Qatar dan Pakistan berupaya meredakan situasi namun kebuntuan politik tetap tidak terhindarkan.
Pemerintah Pakistan sendiri masih optimis bahwa sisa waktu gencatan senjata dapat digunakan untuk mencari jalan tengah.
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengatakan, “Gencatan senjata masih bertahan dan saat saya berbicara, upaya penuh sedang dilakukan untuk menyelesaikan masalah yang tersisa.”
Di sisi lain Teheran melemparkan tanggung jawab kegagalan negosiasi ini sepenuhnya kepada sikap keras kepala pihak Gedung Putih.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menganggap Amerika Serikat mengajukan syarat-syarat yang melampaui batas kewajaran dalam perundingan tersebut.
Tudingan Tuntutan Berlebihan dan Kritik Internasional
Pihak Iran menilai bahwa Amerika Serikat sengaja menciptakan hambatan agar kesepakatan damai mustahil untuk dicapai dalam waktu dekat.
“Sayangnya, kami menyaksikan tuntutan berlebihan yang terus berlanjut dari pihak Amerika dalam perundingan, yang menyebabkan kegagalan mencapai hasil,” ujarnya.
Langkah blokade laut ini juga memancing reaksi keras dari negara-negara besar lain termasuk China sebagai mitra dagang utama.
Beijing mengkhawatirkan dampak jangka panjang dari penutupan jalur laut terhadap stabilitas harga energi dan ekonomi dunia.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Guo Jiakun menekankan pentingnya stabilitas Selat Hormuz bagi perdagangan global dengan menyatakan, “Menjaga keamanan, stabilitas, dan kelancaran arusnya adalah kepentingan bersama komunitas internasional.”
Dampak dari blokade militer ini mulai merambah ke sektor kemanusiaan dengan terjebaknya ribuan pekerja di sektor maritim.
Perserikatan Bangsa-Bangsa melaporkan adanya ancaman serius bagi keselamatan para pelaut yang tertahan di zona konflik tersebut.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres melalui juru bicaranya menyatakan bahwa kondisi para pelaut tersebut semakin memburuk setiap harinya.