- Hakim PN Jaksel mengabulkan permohonan praperadilan Sekjen DPR RI, Indra Iskandar, atas penetapan status tersangka oleh pihak KPK.
- Status tersangka Indra Iskandar dinyatakan gugur karena KPK dianggap melakukan cacat prosedur serta minimnya alat bukti sah.
- Putusan tersebut menghentikan sementara status tersangka Indra dalam kasus dugaan korupsi pengadaan sarana rumah jabatan anggota DPR.
Status tersangka Indra Iskandar sendiri pertama kali diumumkan oleh KPK pada Maret 2025 silam.
Saat itu, Wakil Ketua KPK Alexander Marwata mengungkapkan bahwa penyidik menemukan indikasi kuat bahwa harga-harga perangkat kelengkapan rumah jabatan sengaja dibuat lebih mahal dibandingkan dengan harga pasar yang berlaku.
Hal ini diduga dilakukan untuk menguntungkan pihak-pihak tertentu dan merugikan keuangan negara.
Meskipun telah diumumkan sebagai tersangka sejak setahun yang lalu, KPK terpantau belum melakukan tindakan penahanan terhadap Indra Iskandar. Hal yang sama juga berlaku bagi enam orang lainnya yang turut terseret dalam pusaran kasus yang sama.
Hingga putusan praperadilan ini dibacakan di PN Jaksel, Indra Iskandar masih menjalankan tugas-tugasnya sebagai pejabat tinggi di parlemen.
Putusan praperadilan ini menjadi sorotan publik, terutama bagi masyarakat di kota-kota besar yang mengikuti perkembangan isu integritas pejabat negara.
Kekalahan KPK di praperadilan sering kali menjadi bahan diskusi mengenai kualitas penyidikan dan pemenuhan aspek formal dalam setiap penanganan kasus korupsi besar.
Dengan gugurnya status tersangka Indra Iskandar, KPK kini dihadapkan pada tantangan hukum baru. Lembaga tersebut harus menentukan langkah selanjutnya, apakah akan menerbitkan surat perintah penyidikan baru dengan melengkapi alat bukti dan prosedur yang diminta hakim, atau melakukan upaya hukum lainnya.
Sementara itu, bagi pihak Indra Iskandar, putusan ini menjadi pemulihan nama baik sementara di tengah proses hukum yang masih dinamis.
Proses persidangan praperadilan ini berlangsung dengan pengawalan ketat dan menjadi perhatian banyak praktisi hukum.
Hakim Sulistiyanto menegaskan bahwa setiap lembaga penegak hukum, termasuk KPK, wajib mematuhi koridor hukum acara yang berlaku agar tidak terjadi tindakan yang dikategorikan sebagai kesewenang-wenangan dalam menjalankan fungsi pemberantasan korupsi.