
3. Isu Lebanon dan Konflik Regional
Faktor lain yang turut menghambat kesepakatan adalah konflik di Lebanon. Iran menekankan bahwa gencatan senjata seharusnya mencakup seluruh wilayah konflik, termasuk Lebanon yang masih mengalami serangan militer Israel.
Namun, posisi ini tidak sepenuhnya sejalan dengan pandangan sekutu AS, khususnya Israel. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebelumnya menyatakan bahwa Lebanon tidak termasuk dalam cakupan kesepakatan gencatan senjata.
Di sisi lain, Pakistan sebagai mediator justru menyatakan bahwa Lebanon seharusnya menjadi bagian dari kesepakatan. Perbedaan pandangan ini menambah kompleksitas negosiasi, karena melibatkan kepentingan banyak pihak di kawasan Timur Tengah.
4. Rendahnya Tingkat Kepercayaan
Kegagalan perundingan juga dipengaruhi oleh rendahnya tingkat kepercayaan antara kedua negara. Iran menilai AS mengajukan tuntutan yang berlebihan dan tidak masuk akal.
Dalam pernyataannya, Esmail Baghaei menegaskan bahwa keberhasilan diplomasi sangat bergantung pada keseriusan dan itikad baik kedua pihak. Ia juga menekankan pentingnya menghormati hak serta kepentingan sah masing-masing negara.
Lebih jauh, Iran mengingatkan bahwa mereka tidak memiliki ekspektasi tinggi terhadap AS, mengingat pengalaman masa lalu di mana Washington dianggap pernah mengingkari kesepakatan saat negosiasi masih berlangsung. Di sisi lain, AS menilai Iran tidak menunjukkan komitmen yang cukup untuk meredakan ketegangan, terutama dalam hal program nuklir dan stabilitas kawasan.
Kegagalan mencapai kesepakatan damai ini tidak hanya berdampak pada hubungan bilateral AS dan Iran, tetapi juga memicu ketidakpastian global. Gangguan di Selat Hormuz telah menyebabkan lonjakan harga energi, yang pada akhirnya mempengaruhi ekonomi berbagai negara.
![Gencatan senjata antara AS-Iran ternyata belum sepenuhnya membuat Selat Hormuz dibuka untuk lalu lintas kapal tanker. [Bartarinha.ir]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/09/96199-selat-hormuz.jpg)
Banyak negara kini terpaksa melakukan penghematan dan penyesuaian kebijakan energi untuk menghadapi situasi yang tidak menentu. Para analis bahkan memperingatkan bahwa jika ketegangan terus berlanjut, dampaknya bisa lebih buruk dibanding krisis energi sebelumnya.
Meski perundingan kali ini gagal mencapai kesepakatan, Iran menegaskan bahwa hal tersebut tidak sepenuhnya bisa dianggap sebagai kegagalan total. Masih adanya titik temu dalam beberapa isu menunjukkan bahwa jalur diplomasi tetap terbuka.
Namun, selama perbedaan mendasar terkait program nuklir, Selat Hormuz, dan konflik regional belum menemukan solusi, jalan menuju perdamaian tampaknya masih panjang. Konflik geopolitik tidak mudah diselesaikan hanya dengan satu meja perundingan. Dibutuhkan kompromi besar, kepercayaan yang dibangun kembali, serta kesediaan untuk memahami kepentingan masing-masing pihak. Tanpa itu, kesepakatan damai hanya akan menjadi harapan yang terus tertunda.
Kontributor : Mutaya Saroh