Rihan Dibunuh Israel: Berangkat Berseragam Sekolah, Pulang Dibalut Kain Kafan

Pebriansyah Ariefana

Rabu, 15 April 2026 | 14:46 WIB
Rihan Dibunuh Israel: Berangkat Berseragam Sekolah, Pulang Dibalut Kain Kafan
Ritaj Abdulrahman Rihan (MME)
  • Penembakan Siswi Gaza di Kelas Matematika Bukti Pelanggaran Gencatan Senjata pada Zona Aman Militer

  • Tragedi Darah di Buku Catatan Ritaj Rihan Ungkap Kekejaman Penembak Jitu di Sekolah Gaza

  • Siswi Sembilan Tahun Tewas Ditembak Saat Belajar di Sekolah Abu Ubaida Gaza Utara Hari Ini

Suara.com - Tragedi berdarah yang menimpa Ritaj Abdulrahman Rihan mengungkap fakta pahit bahwa ruang kelas di Gaza utara bukan lagi tempat bernaung yang terlindungi.

Gadis berusia sembilan tahun itu meregang nyawa akibat peluru tajam saat sedang menekuni pelajaran matematika di Sekolah Abu Ubaida Bin al-Jarrah.

Insiden ini merobek klaim zona aman karena lokasi sekolah berada cukup jauh dari batas wilayah militer yang ditetapkan secara sepihak.

Seorang anak laki-laki Palestina duduk ketika orang-orang memeriksa kehancuran menyusul serangan tentara Israel di sekitar tenda-tenda pengungsi di dalam tembok Rumah Sakit Martir Al-Aqsa di Deir al-Balah, di Jalur Gaza, Palestina, Senin (14/10/2024). [Eyad BABA / AFP]
Seorang anak laki-laki Palestina duduk ketika orang-orang memeriksa kehancuran menyusul serangan tentara Israel di sekitar tenda-tenda pengungsi di dalam tembok Rumah Sakit Martir Al-Aqsa di Deir al-Balah, di Jalur Gaza, Palestina, Senin (14/10/2024). [Eyad BABA / AFP]

Kematian Ritaj menjadi simbol kehancuran harapan generasi muda Palestina yang mencoba bangkit dari trauma genosida melalui jalur pendidikan.

Darah yang membasahi buku catatan matematikanya menjadi bukti otentik bagaimana proses belajar mengajar berakhir menjadi ladang pembantaian.

Ritaj sedang berusaha memecahkan soal pengurangan empat digit ketika proyektil peluru menembus kepalanya tanpa peringatan apa pun.

Sekitar 40 rekan sekelasnya menjadi saksi mata saat bangku sekolah berubah menjadi tempat kejadian perkara yang mengerikan.

Meski sempat dilarikan ke fasilitas medis terdekat, nyawa siswi cerdas ini tidak tertolong sebelum orang tuanya sempat memberikan salam perpisahan.

Ayah korban, Abdulrahman, menyatakan bahwa sekolah seharusnya menjadi tempat paling netral dan aman bagi anak-anak untuk berkembang.

“Setiap hari, saya mengantar putri saya ke sekolah agar dia bisa belajar seperti anak-anak lain di dunia,” ujar Abdulrahman kepada Middle East Eye.

Ironi Keamanan di Balik Garis Kuning Ilegal

Keluarga Rihan sebelumnya telah kehilangan tempat tinggal akibat serangan udara dan terpaksa bertahan hidup di dalam tenda darurat.

Semangat Ritaj untuk kembali bersekolah sangat tinggi setelah dua tahun proses pendidikannya terputus total akibat eskalasi konflik.

Sekolah tersebut berada sekitar dua kilometer dari "Garis Kuning", sebuah zona larangan masuk yang dipaksakan oleh militer Israel.

Pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata Oktober 2025 terus terjadi melalui aksi penembak jitu yang mengincar pemukiman sipil.

“Hari ini, sekitar satu jam setelah saya mengantarnya, saya menerima kabar bahwa putri saya telah terbunuh. Saya tidak pernah menyangka akan menerima kabar pembunuhannya saat dia berada di tempat belajar. Itu adalah kejutan yang melampaui kata-kata,” kata Abdulrahman.

Ibu korban, Ola, mengenang bagaimana ia merapikan rambut dan pakaian putrinya dengan penuh kasih sayang pada pagi yang nahas itu.

Ia kini hanya bisa memeluk buku tulis Ritaj yang separuh halamannya masih kosong namun sudah ternoda bercak darah merah pekat.

Pihak keluarga tidak pernah membayangkan bahwa jarak aman dari zona militer tidak menjamin keselamatan nyawa anak pertama mereka.

Bagi mereka, tindakan militer ini bukan sekadar kecelakaan perang, melainkan upaya sistematis untuk melumpuhkan masa depan intelektual anak-anak Gaza.

“Kami senang dia sudah cukup besar dan tetap hidup serta sehat setelah dua tahun genosida untuk membawa tas sekolah dan buku catatan. Dia akhirnya kembali ke sekolah. Dia pintar dan mencintai sekolah,” kenang ayahnya dengan pilu.

Target Militer pada Fasilitas Pendidikan Sipil

Pihak keluarga telah menyiapkan gaun dan sepatu baru untuk perayaan pernikahan kerabat yang direncanakan berlangsung pekan depan.

Namun, pakaian baru tersebut kini tersimpan sia-sia karena Ritaj justru pulang ke rumah dengan balutan kain kafan yang putih bersih.

Kematian ini menambah panjang daftar anggota keluarga Ola yang tewas, mulai dari ibu, saudara perempuan, hingga keponakannya.

Eskalasi di sekitar Garis Kuning terus meluas setiap bulan, memaksa ribuan warga sipil yang baru kembali untuk kembali mengungsi.

“Sekolah itu seharusnya berada di area yang aman. Jaraknya tidak dekat dengan Garis Kuning, dan itulah sebabnya kami merasa cukup nyaman untuk mengirimnya ke sana untuk belajar,” jelas Ola.

Militer sering kali meratakan bangunan di area yang baru dikuasai, menghancurkan sisa-sisa kehidupan warga yang mencoba bertahan di zona tersebut.

Bagi warga Gaza, buku catatan yang berdarah adalah dokumen hukum paling kuat mengenai dugaan kejahatan perang yang menyasar anak sekolah.

“Saya telah memakaikan bajunya, menyisir rambutnya, dan mengikatnya untuk sekolah pagi ini. Dia dikembalikan kepada saya dalam keadaan mati, dengan wajah berlumuran darah. Saya masih tidak bisa memproses keterkejutan ini,” ungkap Ola tersedu.

“Ritaj ceria dan baik hati. Dia tidak pernah merepotkan saya dan akan selalu mengatakan 'ya, Mama' untuk semuanya. Bahkan sekarang, saya melihat bayangannya di depan saya. Saya tidak percaya dia sudah tiada,” lanjutnya.

“Ini adalah buku catatannya, dan ini adalah pelajaran yang dia pelajari hari ini, tetapi tidak bisa diselesaikan. Ini adalah halaman-halaman yang ternoda oleh darah putri saya. Ini bukan tinta; ini adalah darah putri saya,” tegas Ola sambil memegang buku tersebut.

Insiden penembakan ini terjadi di tengah situasi gencatan senjata yang sangat rapuh sejak Oktober 2025 di bawah mediasi Amerika Serikat.

Pihak Israel secara sepihak menetapkan batas "Garis Kuning" di dalam wilayah Jalur Gaza yang melarang akses bagi warga Palestina di sisi utara, selatan, dan timur.

Meskipun sekolah Abu Ubaida Bin al-Jarrah terletak di zona yang dianggap relatif aman, serangan artileri dan penembak jitu Israel dilaporkan rutin menyasar area pemukiman di sekitarnya.

Sejak kebijakan ini diberlakukan, puluhan warga sipil dilaporkan menjadi korban meski berada di luar zona terlarang, yang semakin memperburuk krisis kemanusiaan dan akses pendidikan di Gaza.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Krisis Kemanusiaan! Rakyat Lebanon: Tewas Dirudal Israel atau Mati Kelaparan

Krisis Kemanusiaan! Rakyat Lebanon: Tewas Dirudal Israel atau Mati Kelaparan

News | Rabu, 15 April 2026 | 14:27 WIB

Manuver AS! Coba Dudukan Lebanon dan Israel tapi Berakhir Tanpa Jabat Tangan

Manuver AS! Coba Dudukan Lebanon dan Israel tapi Berakhir Tanpa Jabat Tangan

News | Rabu, 15 April 2026 | 14:16 WIB

Iran Beberkan Update Negosiasi Damai ke Turki, Soroti Dosa Besar AS-Israel

Iran Beberkan Update Negosiasi Damai ke Turki, Soroti Dosa Besar AS-Israel

News | Rabu, 15 April 2026 | 14:03 WIB

Terkini

Bakal Bertemu Prabowo-Gibran? Djarot Beri Sinyal Megawati Hadiri Peringatan Hari Lahir Pancasila

Bakal Bertemu Prabowo-Gibran? Djarot Beri Sinyal Megawati Hadiri Peringatan Hari Lahir Pancasila

News | Sabtu, 30 Mei 2026 | 20:55 WIB

3 Kali ke Prancis dalam 5 Bulan, Elite PDIP Pertanyakan Urgensi Kunjungan Presiden Prabowo

3 Kali ke Prancis dalam 5 Bulan, Elite PDIP Pertanyakan Urgensi Kunjungan Presiden Prabowo

News | Sabtu, 30 Mei 2026 | 19:29 WIB

Sumber Teror Api Misterius di Seyegan Mulai Terkuak, Tim UPN Soroti Gas Metana dari Bekas Rawa

Sumber Teror Api Misterius di Seyegan Mulai Terkuak, Tim UPN Soroti Gas Metana dari Bekas Rawa

News | Sabtu, 30 Mei 2026 | 18:45 WIB

Bukan Mistis! Misteri Barang Terbakar Sendiri di Sleman Terungkap, Pakar UGM Bongkar Biang Keroknya

Bukan Mistis! Misteri Barang Terbakar Sendiri di Sleman Terungkap, Pakar UGM Bongkar Biang Keroknya

News | Sabtu, 30 Mei 2026 | 18:19 WIB

Pandji Pragiwaksono Soroti 'Pengakuan Terbuka' Prabowo Soal Keterlibatan Partai dalam Tender Negara

Pandji Pragiwaksono Soroti 'Pengakuan Terbuka' Prabowo Soal Keterlibatan Partai dalam Tender Negara

News | Sabtu, 30 Mei 2026 | 17:53 WIB

Prof Uceng: Negara Bukan Takut Film Pesta Babi, Tapi Takut Narasi Alternatif

Prof Uceng: Negara Bukan Takut Film Pesta Babi, Tapi Takut Narasi Alternatif

News | Sabtu, 30 Mei 2026 | 16:44 WIB

Sebut Film 'Pesta Babi' Aman Secara Hukum, Uceng UGM: Jangan-Jangan Ada Unsur Politik?

Sebut Film 'Pesta Babi' Aman Secara Hukum, Uceng UGM: Jangan-Jangan Ada Unsur Politik?

News | Sabtu, 30 Mei 2026 | 16:35 WIB

Ribuan Lansia Jalan Sehat Meriahkan Puncak HLUN 2026 di NTT

Ribuan Lansia Jalan Sehat Meriahkan Puncak HLUN 2026 di NTT

News | Sabtu, 30 Mei 2026 | 16:10 WIB

Guru Besar UGM Cium Ada Perubahan Sikap yang Tak Biasa Usai Mama Sinta Lapor Polisi soal Pesta Babi

Guru Besar UGM Cium Ada Perubahan Sikap yang Tak Biasa Usai Mama Sinta Lapor Polisi soal Pesta Babi

News | Sabtu, 30 Mei 2026 | 16:05 WIB

HLUN 2026 Momentum Wujudkan Lansia Tangguh Menuju Indonesia Emas

HLUN 2026 Momentum Wujudkan Lansia Tangguh Menuju Indonesia Emas

News | Sabtu, 30 Mei 2026 | 16:04 WIB