Iran Mau Hukum Gantung Perempuan Pertama Buntut Aksi Demo Anti Rezim

Pebriansyah Ariefana

Kamis, 16 April 2026 | 11:55 WIB
Iran Mau Hukum Gantung Perempuan Pertama Buntut Aksi Demo Anti Rezim
Pemerintah Iran bersiap melaksanakan hukuman gantung terhadap Bita Hemmati yang menjadi pengunjuk rasa perempuan pertama dengan vonis mati. (FOX)
  • Bita Hemmati menjadi wanita pertama yang terancam eksekusi mati akibat protes anti-rezim Iran.

  • Tuduhan keterlibatan dengan Amerika Serikat menjadi dasar utama vonis mati bagi para aktivis.

  • Krisis ekonomi dan kematian Ali Khamenei memicu tindakan represif pemerintah Iran terhadap demonstran.

Suara.com - Pemerintah Iran bersiap melaksanakan hukuman gantung terhadap Bita Hemmati yang menjadi pengunjuk rasa perempuan pertama dengan vonis mati.

Langkah hukum ekstrem ini diambil sebagai respons atas keterlibatannya dalam pemberontakan besar-besaran di Teheran pada Januari 2026.

Dikutip dari FOX, keputusan pengadilan ini menandai babak baru yang lebih gelap dalam upaya Teheran membungkam oposisi melalui instrumen hukum formal.

Ilustrasi warga Iran rayakan Lebaran 2026 [BBC]
Ilustrasi warga Iran rayakan Lebaran 2026 [BBC]

Vonis ini bukan sekadar hukuman pidana melainkan alat politik untuk memadamkan sisa-sisa semangat revolusi yang masih membara.

Dunia internasional kini menyoroti bagaimana sistem peradilan Iran digunakan untuk melegitimasi pembunuhan terhadap warga sipil yang kritis.

Bita Hemmati tidak sendirian dalam menghadapi ujung tali gantungan yang dipersiapkan oleh otoritas keamanan Iran tersebut.

Suaminya yang bernama Mohammadreza Majid-Asl turut dijatuhi hukuman serupa oleh Pengadilan Revolusi Teheran dalam berkas yang sama.

Laporan dari Dewan Nasional Perlawanan Iran (NCRI) menyebutkan bahwa tetangga mereka juga tidak luput dari jeratan hukum mati.

Dua saudara yang tinggal di gedung yang sama yakni Behrouz Zamaninejad dan Kourosh Zamaninejad ikut masuk daftar eksekusi.

Sementara itu seorang kerabat mereka bernama Amir Hemmati dijatuhi hukuman penjara selama lima tahun oleh majelis hakim.

Tuduhan Spionase dan Penggunaan Kekuatan Militer

"Mohammadreza Majidi-Asl dan Bita Hemmati adalah pasangan yang tinggal di Teheran, dan Amir Hemmati adalah kerabat keduanya," ujar seorang sumber kepada HRANA.

"Kourosh Zamaninejad dan Behrouz Zamaninejad tinggal di gedung apartemen yang sama, dan penangkapan mereka terjadi secara bersamaan," lanjut sumber tersebut.

Hingga saat ini pihak berwenang di Teheran belum merilis jadwal pasti kapan proses eksekusi tersebut akan dilaksanakan.

Ketidakpastian tanggal eksekusi ini diyakini sebagai bentuk tekanan psikologis tambahan bagi para terpidana dan keluarga mereka.

Publik khawatir proses eksekusi akan dilakukan secara rahasia tanpa memberikan kesempatan pembelaan terakhir bagi para korban.

Para terdakwa dituduh melakukan tindakan yang merusak keamanan nasional dengan bekerja sama untuk kepentingan pemerintah Amerika Serikat.

Otoritas setempat mengeklaim bahwa kelompok ini menggunakan bahan peledak dan senjata api dalam aksi mereka pada awal Januari.

Dakwaan tersebut mencakup pelemparan balok beton dan bahan pembakar dari atap gedung yang menyebabkan luka pada pasukan keamanan.

Pemerintah Iran secara spesifik menyebut tindakan mereka sebagai bentuk propaganda melawan rezim yang bertujuan meruntuhkan stabilitas negara.

Selain hukuman mati hakim juga memerintahkan penyitaan seluruh aset pribadi milik para terdakwa untuk diambil alih negara.

Dugaan Manipulasi Pengakuan Melalui Penyiksaan

Kelompok pejuang hak asasi manusia mencurigai bahwa pengakuan para terdakwa didapatkan melalui metode paksaan yang melanggar hukum.

Ada indikasi kuat bahwa penyiksaan fisik dan interogasi tanpa pendampingan hukum terjadi selama masa penahanan para pengunjuk rasa.

Organisasi internasional mendesak Iran untuk segera membatalkan vonis ini karena kurangnya bukti konkret yang mengaitkan mereka dengan kejahatan.

Banyak pihak menilai bahwa Teheran sedang mencoba menyebarkan ketakutan kolektif agar warga tidak lagi berani turun ke jalan.

Taktik intimidasi ini dianggap sebagai upaya terakhir rezim untuk bertahan di tengah tekanan domestik dan internasional yang hebat.

Gelombang protes besar di Iran bermula pada akhir Desember 2025 yang dipicu oleh kehancuran ekonomi dan inflasi yang tidak terkendali.

Mata uang yang jatuh bebas membuat rakyat kesulitan memenuhi kebutuhan pokok sehingga memicu kemarahan massa di berbagai kota.

Ketegangan mencapai puncaknya ketika Amerika Serikat meluncurkan Operasi Epic Fury pada akhir Februari 2026 yang mengguncang stabilitas kawasan.

Serangan udara gabungan antara Amerika Serikat dan Israel tersebut dilaporkan berhasil menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei.

Kematian pemimpin tertinggi menciptakan kekosongan kekuasaan dan kekacauan politik yang membuat pemerintah bertindak semakin represif terhadap rakyatnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Beda Peran Laut Merah dan Selat Hormuz, Akan Ditutup Iran?

Beda Peran Laut Merah dan Selat Hormuz, Akan Ditutup Iran?

News | Kamis, 16 April 2026 | 11:39 WIB

Dokumen Bocor, Iran Gunakan Satelit Mata-Mata China Untuk Perang Lawan Amerika Serikat

Dokumen Bocor, Iran Gunakan Satelit Mata-Mata China Untuk Perang Lawan Amerika Serikat

News | Kamis, 16 April 2026 | 11:33 WIB

AS-Iran Mainkan 'Game of Chicken' di Selat Hormuz: Blokade Trump Terancam Jadi Boomerang

AS-Iran Mainkan 'Game of Chicken' di Selat Hormuz: Blokade Trump Terancam Jadi Boomerang

News | Kamis, 16 April 2026 | 11:27 WIB

Terkini

Ritual Ganjil Suami di Kendari: Usai Injak Istri hingga Tewas, Jasad Korban Dimandikan dan Disisir

Ritual Ganjil Suami di Kendari: Usai Injak Istri hingga Tewas, Jasad Korban Dimandikan dan Disisir

News | Minggu, 31 Mei 2026 | 23:48 WIB

Gudang Limbah Membara di Cikarang, Api Sambar Pemukiman dan Truk

Gudang Limbah Membara di Cikarang, Api Sambar Pemukiman dan Truk

News | Minggu, 31 Mei 2026 | 23:38 WIB

Presiden Prabowo: Cahaya Kebijaksanaan Waisak Jadi Fondasi Karakter dan Persatuan Bangsa

Presiden Prabowo: Cahaya Kebijaksanaan Waisak Jadi Fondasi Karakter dan Persatuan Bangsa

News | Minggu, 31 Mei 2026 | 23:34 WIB

Cikeas Penuh Karangan Bunga, Para Tokoh Beri Penghormatan Terakhir untuk Ryamizard Ryacudu

Cikeas Penuh Karangan Bunga, Para Tokoh Beri Penghormatan Terakhir untuk Ryamizard Ryacudu

News | Minggu, 31 Mei 2026 | 23:30 WIB

12 Unit Damkar Berjibaku Jinakkan Kebakaran Gudang Limbah di Rawajulang

12 Unit Damkar Berjibaku Jinakkan Kebakaran Gudang Limbah di Rawajulang

News | Minggu, 31 Mei 2026 | 23:26 WIB

Remaja Pembunuh Gadis 12 Tahun di Makassar Dijerat Pasal Berlapis, Ibu Korban Desak Hukuman Mati

Remaja Pembunuh Gadis 12 Tahun di Makassar Dijerat Pasal Berlapis, Ibu Korban Desak Hukuman Mati

News | Minggu, 31 Mei 2026 | 23:21 WIB

Uang Tunai Rp65 Juta Jadi Abu, Tabungan Lansia di Blora Ludes akibat Kebakaran Rumah

Uang Tunai Rp65 Juta Jadi Abu, Tabungan Lansia di Blora Ludes akibat Kebakaran Rumah

News | Minggu, 31 Mei 2026 | 22:59 WIB

Presiden Prabowo Berduka atas Kepergian Jenderal Ryamizard Ryacudu

Presiden Prabowo Berduka atas Kepergian Jenderal Ryamizard Ryacudu

News | Minggu, 31 Mei 2026 | 22:19 WIB

Remaja Putri Tewas Terjebak Saat Api Mengamuk di Bengkel Cikupa

Remaja Putri Tewas Terjebak Saat Api Mengamuk di Bengkel Cikupa

News | Minggu, 31 Mei 2026 | 20:58 WIB

Evaluasi Besar-besaran: 8.182 SPPG Pernah Ditangguhkan, 2.213 Masih Berstatus Suspend

Evaluasi Besar-besaran: 8.182 SPPG Pernah Ditangguhkan, 2.213 Masih Berstatus Suspend

News | Minggu, 31 Mei 2026 | 20:30 WIB