- Iran resmi membuka kembali Selat Hormuz bagi kapal komersial selama masa gencatan senjata dengan Amerika Serikat berlangsung.
- Sekjen PBB menyambut baik keputusan tersebut guna membangun kepercayaan serta memperkuat dialog perdamaian yang difasilitasi oleh Pakistan.
- Presiden Trump menegaskan bahwa pembukaan selat tidak mengakhiri tekanan ekonomi maupun blokade laut terhadap pelabuhan milik Iran.
Suara.com - Ketegangan di jalur nadi perdagangan dunia, Selat Hormuz, mulai menunjukkan tanda-tanda mereda.
Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, secara resmi menyambut baik keputusan Iran untuk membuka kembali selat strategis tersebut bagi lalu lintas komersial.
Langkah ini dianggap sebagai kemajuan signifikan di tengah masa gencatan senjata yang rapuh antara Iran dan Amerika Serikat.
"Sekretaris Jenderal menyambut pengumuman hari ini oleh Republik Islam Iran bahwa Selat Hormuz sepenuhnya terbuka untuk semua kapal komersial selama sisa masa gencatan senjata. Sekretaris Jenderal menganggap ini sebagai langkah yang tepat," ujar juru bicara PBB, Stephane Dujarric, pada Jumat (17/4/2026).
Diplomasi di Tengah Ketegangan
Keputusan ini pertama kali mencuat setelah Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengonfirmasi bahwa seluruh aktivitas perkapalan akan dipulihkan sepenuhnya selama periode gencatan senjata dengan Washington berlangsung.
Meski demikian, jalan menuju perdamaian absolut masih berbatu.
Di seberang meja diplomasi, Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa pembukaan selat tidak berarti tekanan ekonomi berakhir.
Trump menyatakan blokade Angkatan Laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran tetap berlaku hingga kesepakatan final diteken.
"Sekretaris Jenderal tetap mendukung penuh upaya diplomatik untuk menemukan jalan damai keluar dari konflik saat ini," kata dia.
"Beliau juga berharap bahwa, bersama dengan gencatan senjata, langkah ini akan berkontribusi untuk menciptakan kepercayaan antara para pihak dan memperkuat dialog yang sedang berlangsung yang difasilitasi oleh Pakistan," Dujarric menambahkan.
PBB juga menegaskan posisi tegasnya terkait stabilitas kawasan. Seiring dibukanya kembali selat tersebut, PBB menuntut agar semua pihak yang terlibat dalam konflik Timur Tengah menghormati kebebasan navigasi internasional.
![Presiden AS, Donald Trump. [IG/@realdonaldtrump]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/17/13828-presiden-as-donald-trump.jpg)
Krisis ini merupakan buntut dari eskalasi berdarah pada 28 Februari lalu, saat AS dan Israel meluncurkan serangan udara ke berbagai target di Iran, termasuk Teheran, yang memicu kerusakan parah dan jatuhnya korban sipil.
Menanti Titik Terang di Akhir Pekan
Upaya damai sebenarnya telah diupayakan sejak 11 April dalam pertemuan di Islamabad, Pakistan. Namun, proses tersebut sempat mengalami kebuntuan. Pada 12 April, Wakil Presiden JD Vance sempat menyatakan bahwa kedua negara gagal mencapai titik temu.