- Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan Iran tetap bersiap untuk perang total karena tidak memercayai komitmen diplomatik Amerika Serikat yang sering melakukan tipu daya.
- Iran mengeklaim kemenangan militer atas AS dan Israel setelah sukses menghancurkan ratusan drone serta jet tempur canggih selama agresi sejak Februari lalu.
- Teheran menolak keras blokade laut di Selat Hormuz dan menuntut agar Hezbollah dimasukkan ke dalam setiap poin kesepakatan gencatan senjata di masa depan.
Suara.com - Republik Islam Iran secara tegas menyatakan bahwa mereka tetap membuka pintu diplomasi dengan Amerika Serikat namun dalam posisi siaga tempur penuh untuk menghadapi segala kemungkinan terburuk di medan laga.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menekankan bahwa Teheran sama sekali tidak menaruh kepercayaan pada janji-janji Washington setelah mengalami serangkaian pengkhianatan di tengah proses perundingan.
Keberhasilan Iran dalam merontokkan ratusan drone dan jet tempur canggih milik lawan menjadi bukti bahwa "Diplomasi Kekuatan" yang dijalankan Teheran jauh lebih efektif dibandingkan sekadar tunduk pada tekanan blokade ilegal.
"Diplomasi Kekuatan" Melawan Tipu Daya Washington

Mohammad Bagher Ghalibaf menyampaikan pesan keras tersebut dalam pidato yang disiarkan televisi nasional pada Senin pagi waktu setempat.
Ia mengungkapkan bahwa konflik yang kini terjadi merupakan bentuk dari "perang ketiga yang dipaksakan" oleh pihak asing terhadap kedaulatan bangsa Iran.
"Kami tidak memercayai musuh. Sewaktu-waktu, mereka mungkin meningkatkan eskalasi perang," ujar Ghalibaf mengacu pada rekam jejak militer Amerika Serikat dan sekutunya dikutip dari Anadolu, Senin (20/4/2026).
Pihak Teheran merasa sangat kecewa karena agresi militer yang dimulai pada 28 Februari lalu justru terjadi saat proses negosiasi sedang berlangsung secara intensif.
"Kami sedang bernegosiasi, tetapi kami bersiap untuk langkah-langkah yang diperlukan," tambah Ghalibaf untuk menunjukkan kesiapan militer Iran yang tak tergoyahkan.
Prestasi Militer di Medan Tempur: Rontokkan Jet dan Drone
Ghalibaf mengeklaim bahwa militer Republik Islam Iran telah menunjukkan keunggulan kualitas dan perencanaan strategis yang jauh melampaui perkiraan para jenderal di Pentagon.
Data resmi menunjukkan bahwa pasukan pertahanan Iran berhasil mencegat antara 170 hingga 180 drone selama agresi yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel berlangsung.
Selain itu, keberhasilan menjatuhkan sejumlah jet tempur mutakhir musuh diklaim sebagai buah dari rancangan operasional yang telah dikembangkan secara saksama selama berbulan-bulan.
Iran mengakui secara objektif bahwa Amerika Serikat mungkin memiliki sumber daya militer yang lebih besar secara keseluruhan.
Namun, Ghalibaf menegaskan bahwa hasil akhir di lapangan membuktikan Iran keluar sebagai pemenang karena ketepatan strategi dan keberanian para pejuangnya.
Negara ini menganggap diri mereka menang karena berhasil mematahkan miskalkulasi musuh yang meremehkan ketahanan rakyat dan kekuatan pertahanan Teheran.
Kontrol Mutlak Selat Hormuz: Balasan untuk Blokade Trump
Terkait isu keamanan maritim, Ketua Parlemen Iran mengkritik keras langkah sepihak pemerintahan Donald Trump yang mencoba memberlakukan blokade laut di Selat Hormuz.
Ia menyebut kebijakan blokade tersebut sebagai langkah yang salah kaprah dan hanya akan merugikan stabilitas ekonomi internasional.
Ghalibaf, sebagaimana laporan Tasnim News, menegaskan bahwa Iran memiliki kontrol penuh atas Selat Hormuz dan tidak akan membiarkan satu pihak pun mencampuri urusan di jalur air strategis tersebut.
Menurutnya, tidak ada kapal yang bisa melewati jalur tersebut tanpa izin atau keberadaan Iran yang mampu menjamin keamanan navigasi sesuai hukum internasional.
Teheran juga menetapkan syarat bahwa setiap kesepakatan gencatan senjata di masa depan harus mencakup Hezbollah sebagai bagian dari Poros Perlawanan.
Sikap teguh ini diambil karena Hezbollah dianggap telah berdiri bersama Iran dalam menghadapi agresi luar, sehingga mereka harus berada di bawah perlindungan gencatan senjata yang sama.
Latar Belakang Konflik
Eskalasi besar antara Iran melawan aliansi Amerika Serikat dan Israel meletus sejak 28 Februari 2026, yang memicu serangkaian serangan balasan ke berbagai pangkalan militer di kawasan.
Iran memasuki konflik ini dengan bekal pengalaman berharga dari perang singkat selama 12 hari yang terjadi pada Juni 2025 silam.
Konflik yang menghancurkan infrastruktur energi di Teluk Persia ini sempat mereda setelah Pakistan memediasi gencatan senjata sementara selama dua minggu pada 8 April.
Meski pembicaraan damai terus diupayakan di Islamabad, Iran tetap curiga bahwa AS hanya menggunakan diplomasi sebagai kedok untuk menutupi menipisnya stok amunisi mereka.
Hingga saat ini, Teheran tetap pada pendiriannya untuk tidak memberikan konsesi apa pun yang dapat mencederai hak kedaulatan nuklir dan kedaulatan teritorial mereka.