-
Serangan Iran merusak 1.000 apartemen di Tel Aviv hingga tidak layak huni.
-
Kerugian ekonomi akibat perang selama enam minggu mencapai 17,5 miliar dolar AS.
-
Warga mengajukan 30.000 klaim ganti rugi atas kerusakan bangunan dan kendaraan pribadi.
Suara.com - Konflik bersenjata antara Iran dan Israel telah memicu krisis hunian besar di Tel Aviv setelah lebih dari seribu apartemen dinyatakan tidak layak huni.
Wali Kota Tel Aviv, Ron Huldai, mengungkapkan bahwa gempuran udara tersebut merusak struktur bangunan secara masif hingga membahayakan keselamatan para penghuninya.
Kerusakan ini menjadi potret nyata betapa agresifnya dampak serangan proyektil dan pesawat tak berawak yang menyasar pusat kota pesisir tersebut.
![Potret Tel Aviv Luluh Lantak Dihujani Rudal Iran, Eks Tentara Israel: Netanyahu Penjahat! [Emess]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/03/10/21073-tel-aviv.jpg)
Dikutip dari Yenisafak, selain krisis tempat tinggal, stabilitas ekonomi Israel kini berada di bawah tekanan besar akibat beban biaya pemulihan yang sangat fantastis.
Fenomena ini menunjukkan bahwa eskalasi militer telah melumpuhkan fungsi infrastruktur perkotaan dan menghentikan laju produktivitas masyarakat sipil secara luas.
Ron Huldai menyatakan, "Wali Kota Tel Aviv, Ron Huldai, melaporkan bahwa serangan rudal dan drone Iran telah menyebabkan lebih dari 1.000 apartemen tidak dapat ditinggali."
Kondisi bangunan yang tidak aman memaksa ribuan warga mengungsi sementara waktu di tengah ketidakpastian proses rekonstruksi yang membutuhkan waktu lama.
Kegagalan struktural pada hunian warga ini disebabkan oleh hantaman langsung maupun dampak ledakan sekunder dari intersepsi sistem pertahanan udara.
Pemerintah setempat kini menghadapi tantangan berat dalam menyediakan hunian darurat bagi warga yang kehilangan tempat tinggal dalam sekejap.
Kehancuran properti ini juga mencakup fasilitas pendukung di lingkungan pemukiman yang membuat aktivitas harian warga menjadi lumpuh total.
Dampak Finansial Terhadap Perekonomian Nasional
Analis ekonomi memprediksi total kerugian akibat konfrontasi selama enam minggu ini mencapai angka 17,5 miliar dolar Amerika Serikat.
Angka tersebut mencakup pengeluaran militer secara langsung serta kerusakan fisik segera yang dialami oleh berbagai sektor di Israel.
Namun, nilai kerugian itu belum menghitung biaya rehabilitasi infrastruktur jangka panjang yang diperkirakan akan membengkak jauh lebih besar.
Terhentinya aktivitas komersial selama masa peperangan turut menyumbang penurunan pendapatan negara yang sangat signifikan bagi kas pemerintah Israel.
Kementerian Keuangan setempat memproyeksikan kewajiban pembayaran kompensasi mencapai 6,5 miliar shekel hanya untuk periode operasi militer tertentu saja.
Hingga saat ini, tercatat sekitar 30.000 warga telah mengajukan permohonan resmi untuk mendapatkan kompensasi melalui otoritas pajak terkait.
Data resmi merinci bahwa sebanyak 18.408 petisi diajukan khusus untuk melaporkan kehancuran properti bangunan yang bersifat struktural dan permanen.
Selain bangunan, sebanyak 6.617 warga melaporkan kerusakan pada kendaraan pribadi mereka yang terkena serpihan ledakan rudal di jalanan.
Terdapat pula 2.594 klaim yang melibatkan kehilangan peralatan pribadi serta inventaris usaha milik warga yang hancur akibat guncangan bom.
Dampak destruktif ini tidak hanya terkonsentrasi di Tel Aviv, tetapi juga meluas ke wilayah sekitarnya seperti Ramat Gan dan Bnei Brak.
Lokasi Terdampak dan Gencatan Senjata
Serpihan proyektil dan puing-puing hasil intersepsi rudal dilaporkan menghujani pemukiman padat penduduk yang memicu kerusakan berantai di wilayah penyangga.
Eskalasi serangan ini sebelumnya berlangsung sejak akhir Februari hingga menyebabkan puluhan korban jiwa di pihak sipil akibat ledakan hebat.
Teheran melakukan serangan tersebut sebagai bentuk aksi balasan terhadap rangkaian serangan militer yang sebelumnya menghantam wilayah kedaulatan tanah Iran.
Ketegangan militer ini baru mulai mereda setelah adanya pembicaraan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran yang difasilitasi di Islamabad.
Meskipun gencatan senjata telah dilakukan, hingga kini belum ada kesepakatan perdamaian komprehensif yang menjamin keamanan jangka panjang di kawasan tersebut.
Perang antara Iran dan Israel yang berlangsung selama 40 hari ini bermula pada 28 Februari dan sempat terhenti pada 8 April 2024.
Ketegangan ini melibatkan serangan balasan dari Teheran yang menggunakan rudal balistik dan drone untuk menyasar pusat populasi utama di Israel.
Dampak dari konflik ini tidak hanya merenggut nyawa warga sipil, tetapi juga meluluhlantakkan sektor ekonomi dan infrastruktur hunian di kota-kota besar.
Saat ini, Israel harus menanggung beban fiskal yang sangat berat untuk memulihkan kembali kondisi sosial dan ekonomi negaranya.