-
Iran menetapkan status siaga seratus persen untuk menghadapi potensi serangan baru Amerika Serikat.
-
Penyitaan kapal kargo di Teluk Oman oleh Amerika Serikat dianggap melanggar gencatan senjata.
-
Teheran memastikan akan melancarkan aksi balasan terhadap blokade laut yang dilakukan Amerika Serikat.
Suara.com - Iran kini menetapkan status siaga tertinggi guna menangkal potensi serangan susulan dari militer Amerika Serikat.
Kewaspadaan ini muncul karena Washington dinilai belum mencapai target perangnya meski telah melenyapkan sejumlah pejabat teras Teheran.
Dikutip dari CNN, pemerintah Iran mendeteksi adanya indikasi kuat bahwa serangan baru akan dilancarkan dalam waktu dekat ini.
![Perang besar kembali mengancam setelah mantan pejabat keamanan Amerika Serikat mengungkap kemampuan rudal Iran yang disebut jauh lebih berbahaya dari perkiraan. [Tangkap layar X]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/03/26/23680-rudal-iran.jpg)
Langkah preventif diambil dengan memperketat seluruh lini pertahanan untuk menjaga kedaulatan wilayah dari ancaman luar.
Prioritas utama saat ini adalah memastikan kesiapan personel dan alutsista berada pada level seratus persen.
Kepala Peradilan Iran, Gholamhossein Mohseni Ejei, menegaskan bahwa negara harus berada dalam posisi siap sedia sepenuhnya.
"Pertahankan kesiapan 100%," tegas Ejei merujuk pada kemungkinan Amerika Serikat meluncurkan serangan-serangan baru.
Ejei memandang ada peluang besar terjadinya eskalasi militer karena ambisi perang Amerika Serikat belum sepenuhnya terpenuhi.
"Ada kemungkinan kuat akan adanya serangan lebih lanjut," ujar Ejei menambahkan bahwa tujuan perang lawan belum tercapai.
Kondisi ini memaksa Teheran untuk tidak mengendurkan pengawasan terhadap setiap pergerakan armada militer asing di sekitarnya.
Fokus ketegangan kini meluas ke wilayah perairan menyusul insiden penyitaan kapal kargo berbendera Iran.
Tindakan Amerika Serikat di Teluk Oman pada hari Minggu tersebut dianggap sebagai bentuk provokasi yang nyata.
Teheran secara resmi melabeli penyitaan kapal tersebut sebagai bentuk pelanggaran serius terhadap kesepakatan gencatan senjata.
Ejei memastikan bahwa otoritas Iran tidak akan tinggal diam melihat aset strategis mereka dikuasai pihak lawan.
Sikap tegas ini diambil sebagai bentuk perlindungan terhadap hak navigasi internasional dan kedaulatan ekonomi negara.
Pihak peradilan menyatakan bahwa tindakan blokade tersebut merupakan sebuah ilegalitas yang harus mendapat konsekuensi setimpal.
"Blokade angkatan laut yang (Amerika Serikat) bicarakan tidak diragukan lagi adalah pelanggaran nyata," ungkap Ejei secara terbuka.
Pernyataan ini menjadi sinyal hijau bagi militer Iran untuk merancang strategi balasan terhadap pihak Amerika Serikat.
Ejei menekankan bahwa tindakan hukum dan militer akan ditempuh guna merespon gangguan di jalur perdagangan laut.
"Republik Islam pasti akan membalas," tegasnya menanggapi penyitaan kapal kargo yang memicu amarah nasional tersebut.
Situasi di Timur Tengah kembali memanas setelah Amerika Serikat melakukan penyitaan kapal kargo Iran di Teluk Oman.
Ketegangan ini diperparah dengan serangkaian serangan udara yang sebelumnya menargetkan jajaran elit pemerintahan dan militer Iran.
Meskipun terdapat upaya gencatan senjata, kedua belah pihak masih saling melempar tuduhan pelanggaran komitmen keamanan di wilayah tersebut.