- Anggota Kongres AS terbelah pendapat mengenai rencana Presiden Trump membangun aula dansa baru di Sayap Timur Gedung Putih.
- Debat terjadi terkait penggunaan dana pajak versus dana pribadi serta prosedur persetujuan resmi dari pihak Kongres AS.
- Proyek ini diusulkan pasca penembakan saat acara koresponden di Hotel Hilton untuk meningkatkan sistem keamanan fasilitas negara.
Suara.com - Anggota Kongres dari Partai Republik di Amerika Serikat terbelah pandangan terkait rencana pembangunan aula ruang dansa baru yang diusulkan Presiden Donald Trump di area Sayap Timur Gedung Putih.
Perdebatan mencuat soal sumber pendanaan, apakah akan menggunakan uang pajak atau dana pribadi.
"Kami memiliki utang 39 triliun dolar AS (Rp624 kuadriliun), mungkin kami harus berhenti menghabiskan uang," kata Rick Scott kepada NBC News, Senin.
Di sisi lain, Partai Demokrat secara umum menolak rencana tersebut. Mereka bahkan disebut berpotensi menggagalkan rancangan undang-undang (RUU) terkait, karena menilai Trump telah melanggar aturan dengan tidak meminta persetujuan Kongres sebelum merombak area Sayap Timur.
Rencana pembangunan ini kembali mencuat setelah insiden penembakan di Hotel Hilton Washington pada Sabtu (25/4).
Trump menyebut aula dansa yang dirancang bersifat "sangat rahasia" dan "militer" dapat mencegah kejadian serupa terulang, sekaligus mendesak agar proyek tersebut segera direalisasikan.
Peristiwa penembakan itu terjadi saat acara Makan Malam Asosiasi Koresponden Gedung Putih berlangsung.
Seluruh tamu undangan, termasuk Trump dan Melania, langsung dievakuasi. Aparat keamanan berhasil mengamankan pelaku, sementara seorang agen Dinas Rahasia AS dilaporkan mengalami luka-luka.
(Antara)