- Pemerintah dan publik Kamboja mengecam Wall Street Journal karena menggunakan istilah merendahkan Scambodia dalam pemberitaan mengenai kejahatan siber.
- Wall Street Journal melaporkan industri penipuan di Kamboja bernilai 19 miliar dolar AS dan melampaui sektor industri legal.
- Pemerintah Kamboja menyatakan bahwa pelabelan tersebut tidak profesional serta merusak reputasi negara dalam upaya pemberantasan kejahatan siber.
Suara.com - Pemerintah dan publik Kamboja mengecam keras media Amerika Serikat, Wall Street Journal, setelah menyebut negara mereka dengan istilah Scambodia dalam laporan tentang kejahatan siber.
Istilah itu dianggap publik dan pemerintah Kamboja merendahkan dan mencoreng citra negara.
Kontroversi bermula dari artikel berjudul How Cybercrime Became a Leading Industry in Scambodia yang terbit beberapa hari lalu.
Dalam tulisan itu, Kamboja digambarkan sebagai salah satu pusat utama kejahatan siber global.
Reaksi publik langsung memanas, terutama di media sosial.
![Pemerintah dan publik Kamboja mengecam keras media Amerika Serikat, Wall Street Journal, setelah menyebut negara mereka dengan istilah Scambodia dalam laporan tentang kejahatan siber. [Tangkap layar]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/22/39732-scambodia.jpg)
Banyak pihak menilai istilah Scambodia bersifat menghina dan tidak sesuai dengan standar jurnalisme profesional.
Menurut sejumlah pakar dari Kamboja, penggunaan istilah tersebut telah melewati batas.
“Ini bukan lagi sekadar pelaporan, tetapi sudah menjadi bentuk ejekan terhadap sebuah negara,” ujar pakar asal Kamboja, Roth Santepheap dikutip dari Khmer Times.
Pemerintah Kamboja melalui Kementerian Informasi juga melayangkan kritik tajam.
Pemerintah menyebut penggunaan istilah tersebut tidak profesional dan merusak reputasi negara serta upaya pemberantasan kejahatan siber.
Sejumlah kalangan di Kamboja mempertanyakan fokus pemberitaan yang dianggap tidak adil.
Mereka menilai kejahatan siber merupakan masalah global lintas negara, bukan hanya terjadi di Kamboja.
Wall Street Journal mengutip laporan yang menyebut industri penipuan di Kamboja bernilai hingga 19 miliar dolar AS per tahun.
Angka tersebut disebut setara hampir 40 persen dari produk domestik bruto negara itu, bahkan melampaui sektor manufaktur garmen sebagai industri legal terbesar.
Dalam beberapa waktu terakhir, Kamboja memang gencar melakukan operasi besar-besaran.