- Dua tentara Israel dijatuhi hukuman 30 hari penjara setelah menghancurkan patung Yesus di Debel, Lebanon selatan.
- Militer Israel mencopot pelaku dari tugas tempur dan menyatakan penyesalan resmi atas tindakan pelanggaran serius tersebut.
- Pihak militer bekerja sama dengan komunitas lokal di Debel untuk mengganti patung yang rusak dengan salib baru.
Suara.com - Dua tentara Israel hanya dijatuhi hukuman 30 hari penjara militer setelah terbukti menghancurkan patung Yesus di Debel, Lebanon selatan.
Aksi tentara Israel itu memicu kecaman internasional setelah foto aksi tersebut viral di media sosial.
Militer Israel (IDF) menyatakan kedua prajurit itu telah dicopot dari tugas tempur dan dikenai sanksi disipliner.
Dalam pernyataan resminya, IDF mengaku pihaknya sangat menyesal atas terjadinya insiden tersebut.
Dilansir dari NY Post, IDF juga mengklaim bahwa operasi militer mereka tidak menargetkan warga sipil ataupun institusi keagamaan.
Sebagai langkah perbaikan, IDF bekerja sama dengan komunitas lokal di Debel untuk mengganti patung yang rusak dengan salib baru.
![Ilustrasi tentara Israel di Gaza. [Ist]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/05/24/17793-ilustrasi-tentara-israel-di-gaza-ist.jpg)
Militer Israel juga menegaskan akan memastikan insiden serupa tidak terulang di masa depan.
Sebelumnya, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Menteri Luar Negeri Gideon Saar turut mengutuk tindakan tersebut dan berjanji memberikan sanksi tegas.
Saat foto aksi para tentara itu viral, militer Israel awalnya menyatakan akan memverifikasi rekaman tersebut.
Namun setelah pemeriksaan, mereka mengonfirmasi video itu asli dan menyebut tindakan tersebut sebagai pelanggaran serius.
“Perilaku prajurit tersebut tidak sejalan dengan nilai-nilai yang diharapkan dari tentara kami,” kata juru bicara militer Israel dilansir dari Ynet.
“Tidak ada maksud untuk merusak bangunan atau simbol agama,” lanjut pernyataan resmi tersebut.
Sementara itu, koordinator forum Kristen di Tanah Suci, Wadie Abu Nassar, mengecam keras insiden tersebut.
Wadie menegaskan pentingnya penyelidikan menyeluruh dan mendorong agar pelaku diproses secara hukum jika terbukti bersalah.
“Tidak bisa diam terhadap pelanggaran seperti ini,” ujarnya. Ia juga meminta pengumpulan bukti dan pelaporan resmi guna memastikan akuntabilitas dalam kasus tersebut.