-
Jurnalis Amal Khalil tewas akibat serangan udara Israel di wilayah Tayri, Lebanon Selatan.
-
PM Lebanon menuduh Israel sengaja menargetkan jurnalis dan menghalangi evakuasi tim medis.
-
Militer Israel mengklaim serangan tersebut menyasar ancaman teroris, bukan sengaja menargetkan media.
Suara.com - Tragedi kemanusiaan kembali mencoreng masa gencatan senjata setelah serangan udara Israel menewaskan jurnalis di Lebanon Selatan.
Peristiwa mematikan di Kota Tayri ini menjadi bukti rapuhnya stabilitas keamanan meskipun kesepakatan damai tengah diupayakan.
Dikutip dri CNN, Kematian awak media ini memperpanjang daftar panjang kekerasan terhadap jurnalis yang bertugas di wilayah konflik perbatasan tersebut.
![Puluhan ribu warga Lebanon yang mengungsi mulai kembali ke rumah mereka di wilayah selatan, meski gencatan senjata dengan Israel masih diwarnai pelanggaran. [Tangkap layar X]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/18/25303-kondisi-lebanon.jpg)
Amal Khalil dari surat kabar Al Akhbar dikonfirmasi gugur saat menjalankan tugas jurnalistiknya di tengah gempuran udara.
Rekan sejawatnya, fotografer lepas Zeinab Faraj, dilaporkan mengalami luka serius akibat ledakan yang menghancurkan tempat perlindungan mereka.
Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam, memberikan pernyataan keras melalui media sosial terkait serangan mematikan yang menargetkan warga sipil.
“Menargetkan jurnalis dan menghalangi akses tim penyelamat ke lokasi mereka, kemudian menargetkan kembali tim tersebut setelah mereka tiba, merupakan kejahatan perang yang nyata,” ujar Nawaf Salam.
Beliau menegaskan bahwa tindakan militer Israel terhadap pekerja media bukan lagi merupakan kejadian yang berdiri sendiri.
“Ini adalah metode yang mapan yang kami kutuk,” tegas sang Perdana Menteri dalam pernyataan resminya.
Data menunjukkan bahwa Amal Khalil merupakan pekerja media keempat yang tewas akibat tindakan militer Israel sejak Maret lalu.
Upaya Penyelamatan di Bawah Desing Peluru
Laporan dari National News Agency (NNA) menyebutkan bahwa proses evakuasi korban berlangsung sangat mencekam dan berbahaya.
Tim Palang Merah terpaksa membawa Zeinab Faraj ke rumah sakit di tengah ancaman tembakan senjata api dari pasukan lawan.
Otoritas Lebanon menuding militer Israel sengaja menghambat pekerjaan tim darurat yang berusaha menolong para korban di reruntuhan.
Serangan di kota Tayri tersebut tidak hanya menyasar bangunan perlindungan jurnalis, tetapi juga merenggut nyawa beberapa warga lainnya.
Militer Israel sendiri berdalih bahwa serangan tersebut diarahkan pada struktur yang dianggap sebagai basis militer Hezbollah.
Pihak militer Israel mengklaim telah mendeteksi dua kendaraan mencurigakan yang mendekati posisi pasukan mereka dengan cara mengancam.
Meski mengakui ada jurnalis yang terluka, Israel bersikeras bahwa mereka tidak pernah menjadikan wartawan sebagai target operasi.
“Israel tidak menargetkan jurnalis dan bertindak untuk memitigasi bahaya terhadap mereka sambil menjaga keselamatan dan keamanan pasukannya,” tulis pernyataan resmi militer.
Namun, Committee to Protect Journalists (CPJ) memberikan pandangan yang berlawanan dan menuntut pertanggungjawaban penuh atas insiden ini.
“CPJ menganggap pasukan Israel bertanggung jawab atas bahaya terhadap nyawa Amal Khalil dan luka-luka yang diderita Zeinab Faraj setelah serangan yang ditargetkan pada lokasi mereka,” kata Direktur Regional CPJ, Sara Qudah.
Insiden berdarah ini terjadi di tengah masa gencatan senjata 10 hari yang sebelumnya diumumkan oleh Presiden AS Donald Trump.
Kesepakatan tersebut seharusnya memberikan ruang bagi dialog diplomatik untuk mengakhiri perseteruan antara Israel dan kelompok Hezbollah.
Rencananya, perundingan lanjutan antara pejabat kedua negara akan segera dilangsungkan di Washington guna membahas solusi jangka panjang.
Berdasarkan data CPJ, Israel bertanggung jawab atas dua pertiga dari total kematian jurnalis dan pekerja media sepanjang tahun 2025.
Pakar PBB kini mendesak adanya investigasi internasional yang independen untuk mengusut tuntas rangkaian pembunuhan wartawan di wilayah Lebanon.