-
Jurnalis Amal Khalil tewas akibat serangan udara Israel saat meliput di desa al-Tiri Lebanon.
-
PM Lebanon menuduh Israel sengaja menargetkan jurnalis sebagai bagian dari kejahatan perang sistematis.
-
Tim evakuasi diduga sempat dihambat oleh tembakan Israel saat mencoba menyelamatkan Amal Khalil.
Suara.com - Pembunuhan jurnalis Amal Khalil oleh tentara Israel mengungkap pola penyerangan sistematis terhadap awak media di wilayah konflik.
Tragedi ini memicu kemarahan global karena adanya dugaan penghambatan tim penyelamat saat mengevakuasi korban di reruntuhan.
Dikutip DW, Dunia internasional kini menyoroti rapuhnya gencatan senjata setelah sembilan jurnalis tewas di Lebanon sepanjang tahun ini.
Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam, menegaskan bahwa tindakan militer Israel tersebut tidak bisa lagi dianggap sebagai ketidaksengajaan.
“Penargetan pekerja media oleh Israel di selatan saat mereka menjalankan tugas profesional bukan lagi insiden yang terisolasi, namun telah menjadi pendekatan mapan yang kami kutuk dan tolak,” tegasnya.
Amal Khalil yang bekerja untuk harian Al-Akhbar sedang meliput di desa al-Tiri saat serangan pertama menghantam kendaraannya.
Ia sempat mencari perlindungan di sebuah rumah terdekat bersama rekannya, Zeinab Faraj, sebelum bangunan itu ikut dirudal.
Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan bahwa tim penyelamat gagal mencapai lokasi lebih cepat karena terus dihujani tembakan.
Reporters Without Borders mendesak komunitas internasional untuk menekan militer Israel agar membuka akses penyelamatan bagi Khalil.
Sayangnya, tubuh jurnalis perempuan tersebut baru bisa dievakuasi dari puing-puing bangunan beberapa jam setelah serangan terjadi.
Kutukan Keras Terhadap Kejahatan Perang
Nawaf Salam menekankan bahwa menghalangi bantuan medis bagi jurnalis adalah pelanggaran berat terhadap hukum humaniter internasional.
“Menargetkan jurnalis, menghalangi akses tim penolong kepada mereka, dan bahkan menargetkan lokasi mereka kembali setelah tim tersebut tiba, merupakan kejahatan perang,” ujar Salam.
Pemerintah Lebanon berjanji akan membawa kasus pembunuhan ini ke meja pengadilan internasional guna menuntut keadilan bagi korban.
Committee to Protect Journalists juga menyatakan kemarahan atas hambatan evakuasi yang sengaja dilakukan oleh pihak militer di lapangan.
Israel membantah tuduhan tersebut dan mengklaim bahwa mereka hanya menyerang pihak yang melanggar ketentuan gencatan senjata.
Pihak militer Israel menyatakan sedang meninjau kembali insiden di al-Tiri yang merenggut nyawa jurnalis profesional tersebut.
Insiden berdarah ini terjadi tepat saat para pejabat tinggi dijadwalkan bertemu di Washington untuk membahas kelanjutan damai.
Ketegangan antara militer Israel dan kelompok Hezbollah tetap tinggi meskipun kesepakatan penghentian tembakan sudah berjalan sepuluh hari.
Amal Khalil tercatat sebagai jurnalis kesembilan yang menjadi korban jiwa dalam pusaran konflik bersenjata di perbatasan Lebanon.
Kematian ini menjadi bukti nyata betapa tingginya risiko yang dihadapi pekerja pers di tengah zona perang yang tidak stabil.
Ketegangan di perbatasan Lebanon meningkat drastis sejak Maret lalu seiring memanasnya konfrontasi antara militer Israel dan kelompok Hezbollah.
Meskipun gencatan senjata telah diupayakan sejak 16 April, pertukaran tembakan di wilayah selatan Lebanon masih terus terjadi secara sporadis.
Hezbollah yang didukung Iran terus terlibat dalam pertempuran lintas batas yang membuat warga sipil dan awak media berada dalam posisi terancam.