91 Persen Koruptor Laki-laki, Benarkah Perempuan Lebih Antikorupsi?

Muhammad Yasir, Dea Hardiningsih Irianto

Kamis, 23 April 2026 | 17:05 WIB
91 Persen Koruptor Laki-laki, Benarkah Perempuan Lebih Antikorupsi?
Ilusrasi pelaku korupsi di Indonesia didominasi laki-laki. [Suara.com]
baca 10 detik
  • Data KPK periode 2004 hingga 2025 menunjukkan 91 persen dari 1.904 pelaku korupsi di Indonesia adalah laki-laki.
  • Dominasi laki-laki dalam korupsi disebabkan oleh ketimpangan akses terhadap kekuasaan dan eksklusivitas jaringan yang bersifat maskulin.
  • Kehadiran perempuan di posisi strategis berpotensi memperkuat mekanisme pengawasan dan memecah budaya koruptif dalam birokrasi pemerintahan.

Suara.com - Wajah korupsi di Indonesia selama puluhan tahun nyaris tak berubah: didominasi laki-laki. Ini bukan sekadar persepsi, melainkan fakta berbasis data penindakan.

Catatan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) periode 2004 hingga awal 2025 menunjukkan, dari 1.904 pelaku korupsi, sebanyak 1.742 orang atau sekitar 91 persen adalah laki-laki.

"Sisanya 9 persen atau sebanyak 162 pelaku merupakan perempuan," ujar Juru Bicara KPK Budi Prasetyo kepada wartawan di Jakarta, Selasa (21/4/2026).

Angka yang timpang ini memantik pertanyaan: apakah perempuan memang lebih antikorupsi, atau justru belum memiliki akses yang sama ke pusat-pusat kekuasaan?

Korupsi, Kekuasaan, dan Akses yang Tak Seimbang

Secara sosiologis, korupsi tumbuh dari peluang, dan peluang lahir dari kekuasaan.

Dalam struktur yang masih patriarkis, jabatan strategis seperti pengambil kebijakan, pengelola anggaran, hingga elite partai politik masih didominasi laki-laki.

Ketika akses terhadap kekuasaan tidak merata, maka peluang untuk menyalahgunakannya pun ikut timpang.

Di titik ini, dominasi laki-laki dalam kasus korupsi bisa dibaca bukan semata soal moralitas, melainkan soal posisi dan akses.

baca juga

Ada faktor lain yang lebih subtil: eksklusivitas jaringan korupsi itu sendiri.

Para peneliti menyebutnya sebagai The Glass Ceiling of Corruption. Jaringan ini kerap terbentuk dalam ruang-ruang informal yang maskulin dan tertutup—tempat di mana transaksi gelap dinegosiasikan di balik relasi pertemanan, loyalitas, dan kekuasaan.

Perempuan, dalam banyak kasus, tidak hanya jarang dilibatkan, tetapi juga kerap tersisih dari “lingkaran dalam” tersebut. Akibatnya, mereka secara struktural berada di luar ekosistem korupsi yang terorganisir.

Dari sisi perilaku, perempuan cenderung lebih risk-averse atau menghindari risiko. Dalam keputusan finansial berisiko tinggi, mereka umumnya lebih berhati-hati dan mempertimbangkan dampak jangka panjang.

Ada pula faktor sosial yang tak kalah kuat: beban reputasi keluarga dan tanggung jawab domestik.

Kekhawatiran akan dampak buruk terhadap anak dan keluarga sering menjadi “rem” yang menahan perempuan untuk terlibat dalam praktik ilegal.

Info grafis: Benarkah perempuan lebih antikorupsi? [Suara.com]
Info grafis: Benarkah perempuan lebih antikorupsi? [Suara.com]

Minim, Tapi Bukan Nol

Riset Pusat Kajian Politik Universitas Indonesia (PUSKAPOL UI) pada 2024 memperkuat pola ini.

Di Komisi Pemilihan Umum (KPU), dari 18 kasus korupsi dalam 15 tahun, tercatat 29 pelaku laki-laki dan hanya satu perempuan.

Pola serupa juga ditemukan di Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu).

Menariknya, ketika perempuan terlibat, perannya cenderung sebagai aktor pendukung dengan skala kasus yang relatif lebih kecil dibandingkan pelaku laki-laki.

Meski angkanya kecil, bukan berarti perempuan kebal korupsi. Sejumlah studi menunjukkan, dalam sistem yang rusak, baik laki-laki maupun perempuan memiliki kerentanan yang sama.

Namun, kehadiran perempuan dalam jumlah signifikan terbukti mampu mengubah dinamika.

Diversitas gender dapat memecah budaya maskulin dalam birokrasi yang kerap menjadi lahan subur korupsi berjamaah.

Kehadiran perempuan di posisi strategis juga cenderung memperkuat mekanisme checks and balances dan mempersempit ruang terbentuknya klik-klik koruptif.

Contoh konkret terlihat di Bawaslu Kota Palu serta inisiatif kode etik internal di KPU RI yang digagas komisioner perempuan, keduanya menunjukkan bagaimana perspektif berbeda bisa melahirkan pengawasan yang lebih ketat.

Pada akhirnya, angka 91 persen bukan sekadar statistik. Ia adalah sinyal tentang ketimpangan akses sekaligus peluang perbaikan.

Mendorong keterwakilan perempuan di ruang publik bukan hanya soal keadilan gender, tetapi juga strategi memperkuat integritas.

Perempuan memang bukan tanpa cela, tetapi kehadiran mereka membawa perspektif etika yang berbeda, yang jika dikelola dengan baik, bisa menjadi salah satu kunci memutus rantai korupsi yang selama ini didominasi satu gender.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

KPK Bongkar Peran Circle dalam Korupsi: Dari Keluarga hingga Kolega Jadi Jalur Uang Haram

KPK Bongkar Peran Circle dalam Korupsi: Dari Keluarga hingga Kolega Jadi Jalur Uang Haram

News | Selasa, 21 April 2026 | 14:04 WIB

KPK: 91 Persen Koruptor Adalah Laki-laki

KPK: 91 Persen Koruptor Adalah Laki-laki

News | Selasa, 21 April 2026 | 13:13 WIB

KPK: 25 Persen Kasus Korupsi Berkaitan dengan Pengadaan Barang dan Jasa

KPK: 25 Persen Kasus Korupsi Berkaitan dengan Pengadaan Barang dan Jasa

News | Selasa, 21 April 2026 | 12:24 WIB

Terkini

PKS Buka Peluang Gulirkan Hak Angket Ijazah Gibran Usai Dapat Sinyal Positif dari PDIP

PKS Buka Peluang Gulirkan Hak Angket Ijazah Gibran Usai Dapat Sinyal Positif dari PDIP

News | Rabu, 28 Oktober 2026 | 15:41 WIB

Demonstrasi Makin Marak, Pakar Sentil Lambatnya Respon Pemerintah, Rakyat Jangan Terus Disalahkan

Demonstrasi Makin Marak, Pakar Sentil Lambatnya Respon Pemerintah, Rakyat Jangan Terus Disalahkan

Jogja | Rabu, 28 Oktober 2026 | 15:41 WIB

3 Parfum Lokal yang Cocok Dipakai saat Musim Hujan, dari Aroma Woody Hangat hingga Manis Nyaman

3 Parfum Lokal yang Cocok Dipakai saat Musim Hujan, dari Aroma Woody Hangat hingga Manis Nyaman

Lifestyle | Rabu, 28 Oktober 2026 | 15:40 WIB

Rupiah Makin Terpuruk! Dolar AS Tembus Rp18.184, Asing Ramai-Ramai Keluar

Rupiah Makin Terpuruk! Dolar AS Tembus Rp18.184, Asing Ramai-Ramai Keluar

Bisnis | Rabu, 28 Oktober 2026 | 15:40 WIB

Kupas Tuntas Gaya Kalcer Honda Genio, Motor Retro yang Paham Kebutuhan Komuter dan Punya Warna Baru

Kupas Tuntas Gaya Kalcer Honda Genio, Motor Retro yang Paham Kebutuhan Komuter dan Punya Warna Baru

Otomotif | Rabu, 28 Oktober 2026 | 15:40 WIB

Tak Perlu Mahal, Ini 4 Lip Balm untuk Bibir Hitam dan Kering di Bawah Rp30 Ribu

Tak Perlu Mahal, Ini 4 Lip Balm untuk Bibir Hitam dan Kering di Bawah Rp30 Ribu

Lifestyle | Rabu, 28 Oktober 2026 | 15:40 WIB

Persib Waspada! Igor Tolic Akui Melbourne Victory Punya Transisi Permainan Mematikan

Persib Waspada! Igor Tolic Akui Melbourne Victory Punya Transisi Permainan Mematikan

Bola | Rabu, 28 Oktober 2026 | 15:39 WIB

Mainkan Peran Ganda di Film Kembar Tak Sama, Endy Arfian Bongkar Tantangan Terberatnya

Mainkan Peran Ganda di Film Kembar Tak Sama, Endy Arfian Bongkar Tantangan Terberatnya

Entertainment | Rabu, 28 Oktober 2026 | 15:39 WIB

Rupiah Kian Letoi, BI Bilang MSCI dan Konflik Timteng Jadi Biang Kerok

Rupiah Kian Letoi, BI Bilang MSCI dan Konflik Timteng Jadi Biang Kerok

Bisnis | Rabu, 28 Oktober 2026 | 15:33 WIB

Demo Hari Sumpah Pemuda, Massa Kepatihan Tuntut UMK Rp4,6 Juta dan Turunkan Prabowo

Demo Hari Sumpah Pemuda, Massa Kepatihan Tuntut UMK Rp4,6 Juta dan Turunkan Prabowo

Jogja | Rabu, 28 Oktober 2026 | 15:32 WIB

×