-
Prajurit Gannon Ken Van Dyke ditangkap karena judi menggunakan informasi rahasia penangkapan Maduro.
-
Keuntungan taruhan sebesar 400.000 dolar AS sempat disembunyikan melalui brankas kripto luar negeri.
-
Kasus ini memicu perdebatan regulasi pasar prediksi dan integritas personel militer Amerika.
Suara.com - Skandal memalukan mencoreng korps militer Amerika Serikat setelah seorang prajurit pasukan khusus diduga memanipulasi informasi rahasia negara demi memenangkan taruhan finansial.
Master Sergeant Gannon Ken Van Dyke ditangkap karena nekat memasang taruhan atas keberhasilan operasi penangkapan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro.
Dikutip dari CNN, tindakan ini mengungkap kerentanan baru di era digital di mana informasi klasifikasi militer dapat disalahgunakan menjadi komoditas pasar prediksi.
![Foto diduga Nicolas Maduro, Presiden Venezuela ditangkap AS [Truth/Donald Trump]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/01/04/12633-foto-diduga-nicolas-maduro-presiden-venezuela-ditangkap-as.jpg)
Van Dyke diduga menggunakan akses eksklusifnya terhadap perencanaan Operasi Absolute Resolve untuk meraup keuntungan pribadi hingga ratusan ribu dolar.
Penyidik menemukan bukti bahwa prajurit senior ini bertaruh pada platform Polymarket sesaat sebelum penangkapan dilakukan di Caracas.
Aksi spekulasi ilegal ini dilakukan dengan menempatkan dana sebesar 32.000 dolar AS pada prediksi jatuhnya kekuasaan Maduro sebelum Januari.
Kejaksaan menyebut Van Dyke melakukan sedikitnya 13 kali transaksi taruhan di tengah proses persiapan eksekusi militer yang sangat sensitif.
![Presiden Nicolas Maduro menunjukkan identitas dua orang A S yang diduga terlibat.[AFP/Marcelo Garcia]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2020/05/07/76180-presiden-nicolas-maduro-menunjukkan-identitas-dua-orang-a-s-yang-diduga-terlibat.jpg)
“Mereka yang dipercaya untuk menjaga rahasia negara kita memiliki kewajiban untuk melindungi mereka dan anggota dinas militer kita, dan bukan untuk menggunakan informasi itu untuk keuntungan finansial pribadi,” ujar Jay Clayton, Jaksa AS untuk Distrik Selatan New York.
Pasca kemenangan taruhan tersebut, Van Dyke disinyalir mencoba menyamarkan jejak kekayaannya melalui mekanisme teknologi finansial yang rumit.
Ia diduga memindahkan keuntungan sebesar 400.000 dolar AS atau Rp 6,9 miliar ke brankas mata uang kripto luar negeri sebelum mencairkannya ke akun broker.
Reaksi Keras Gedung Putih dan Regulator
Pemerintah Amerika Serikat segera merespons kasus ini sebagai ancaman serius terhadap etika pengabdian prajurit dan keamanan nasional.
Presiden Trump memberikan perumpamaan tajam terhadap tindakan memalukan ini dengan menyamakannya pada skandal perjudian atlet ternama.
“Itu seperti Pete Rose bertaruh pada timnya sendiri,” kata sang presiden saat merujuk pada pemain bisbol yang dilarang bertanding selamanya.
Trump juga menyatakan kekhawatirannya terhadap tren global yang menjadikan peristiwa geopolitik dan peperangan sebagai ajang kasino internasional.
Saat ini Commodity Futures Trading Commission turut menggugat Van Dyke untuk menuntut pengembalian seluruh keuntungan ilegal tersebut.
Platform Polymarket sendiri menyatakan telah bekerja sama sepenuhnya dengan Departemen Kehakiman untuk mengidentifikasi akun milik sang prajurit.
“Ketika kami mengidentifikasi pengguna yang bertransaksi berdasarkan informasi rahasia pemerintah, kami merujuk masalah tersebut ke DOJ & bekerja sama dengan penyelidikan mereka. Insider trading tidak memiliki tempat di Polymarket. Penangkapan hari ini adalah bukti bahwa sistem tersebut berfungsi,” tulis pihak Polymarket.
Meski demikian, pakar industri masih memperdebatkan apakah pasar prediksi merupakan alat transparansi atau justru insentif bagi pembocoran rahasia.
Kasus ini memicu desakan di Kongres untuk segera mengesahkan regulasi yang lebih ketat bagi pejabat yang terlibat dalam bursa prediksi.
Penggunaan VPN oleh warga Amerika untuk mengakses situs internasional yang tidak teregulasi tetap menjadi celah hukum yang sulit dibendung.
Penangkapan Van Dyke bermula dari suksesnya operasi rahasia militer AS yang berhasil mengekstradisi Nicolás Maduro dari istana kepresidenan di Caracas.
Maduro saat ini tengah menghadapi dakwaan terkait perdagangan narkoba federal di New York setelah ditangkap dalam sebuah penggerebekan malam hari.
Gannon Ken Van Dyke, yang bertugas di Fort Bragg, kini harus menghadapi lima dakwaan kriminal termasuk pencurian informasi rahasia pemerintah dan penipuan.
Sebagai bintara senior, Van Dyke seharusnya menjadi teladan taktis dan moral bagi prajurit muda, namun kini ia justru menanti persidangan di North Carolina.
Penyelidikan internal militer terus berlanjut untuk memastikan tidak ada personel lain yang terlibat dalam jaringan perjudian informasi rahasia ini.