-
Amerika Serikat mencegat tiga kapal tanker minyak milik Iran di perairan dekat wilayah Indonesia.
-
Blokade tetap berjalan untuk menekan Iran agar bersedia mengikuti perundingan damai di Pakistan.
-
Penutupan jalur laut ini berdampak signifikan terhadap krisis pasokan energi dan minyak global.
Suara.com - Militer Amerika Serikat secara agresif mencegat tiga kapal tanker berbendera Iran di wilayah perairan yang berbatasan langsung dengan Indonesia.
Langkah ini membuktikan bahwa blokade laut terhadap Teheran tetap berlaku ketat meski Presiden Donald Trump baru saja memperpanjang masa gencatan senjata.
Dikutip dari Reuuters, pencegatan strategis ini sengaja dilakukan di perairan terbuka untuk meminimalisir risiko ancaman ranjau laut yang kerap tersebar di area konflik.
Fokus operasi kini bergeser ke arah Selat Malaka yang diidentifikasi sebagai titik kumpul utama bagi aktivitas pelayaran tanker gelap internasional.
Tindakan tegas ini bertujuan memaksa pihak Teheran untuk bersedia kembali duduk di meja perundingan diplomatik di Islamabad, Pakistan.
Data pelacakan menunjukkan supertanker Deep Sea menjadi salah satu armada utama yang jalurnya dialihkan oleh pasukan keamanan Amerika Serikat.
Selain itu, kapal Sevin yang mengangkut muatan minyak sekitar 65 persen dari kapasitas total juga berhasil diamankan petugas.
Kapal Dorena yang membawa dua juta barel minyak mentah kini berada dalam pengawalan ketat kapal perusak Angkatan Laut AS.
Komando Pusat AS menyatakan bahwa kapal Dorena tertangkap tangan saat berusaha menembus barikade pengamanan di Samudra Hindia.
"Dorena kini berada di bawah pengawalan kapal perusak Angkatan Laut AS di Samudra Hindia setelah mencoba melanggar blokade," tulis pernyataan resmi tersebut.
Petugas militer juga dicurigai telah menghentikan tanker Derya yang sebelumnya gagal melakukan bongkar muat komoditas minyak di wilayah India.
Secara akumulatif, sudah ada 29 unit kapal yang dipaksa putar balik sejak kebijakan blokade pelabuhan Iran ini resmi diimplementasikan.
Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Dan Caine sebelumnya memang telah memprediksi bahwa Selat Malaka akan menjadi lokasi krusial pencegatan.
Operasi ini memicu balasan dari pihak Iran yang juga menyita dua kapal kontainer di area Selat Hormuz sebagai bentuk protes.
Kondisi tersebut memperparah gangguan pasokan energi global karena Selat Hormuz merupakan jalur bagi seperlima kebutuhan minyak dunia.