Tim Advokasi Tolak Hadiri Sidang Kasus Andrie Yunus di Pengadilan Militer, Anggap Hanya Skenario

Vania Rossa

Selasa, 28 April 2026 | 14:28 WIB
Tim Advokasi Tolak Hadiri Sidang Kasus Andrie Yunus di Pengadilan Militer, Anggap Hanya Skenario
Gema Gita Persada, perwakilan Tim Advokasi untuk Demokrasi sekaligus kuasa hukum Andrie Yunus. (Suara.com/Dinda Pramesti K)
baca 10 detik
  • Tim Advokasi untuk Demokrasi menolak menghadiri sidang perdana kasus penyiraman air keras Andrie Yunus di Pengadilan Militer pada Rabu.
  • Kuasa hukum korban menuntut perkara dialihkan ke peradilan umum demi menjamin transparansi serta akuntabilitas proses hukum yang lebih adil.
  • Tim Advokasi mencurigai adanya skenario terstruktur dan mendesak kepolisian menjelaskan status laporan dugaan keterlibatan pelaku sipil di Polda Metro.

Suara.com - Tim Advokasi untuk Demokrasi menyatakan sikap tegas untuk tidak menghadiri sidang perdana kasus penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus yang dijadwalkan digelar di Pengadilan Militer pada Rabu (29/5/2024) mendatang.

Gema Gita Persada, perwakilan Tim Advokasi untuk Demokrasi sekaligus kuasa hukum Andrie Yunus, menegaskan bahwa pihaknya menolak sejak awal kasus ini diseret ke yurisdiksi peradilan militer. Menurutnya, proses yang berjalan saat ini hanya berpotensi menjadi formalitas yang tidak merepresentasikan keadilan bagi korban.

"Kami tidak akan hadir tentunya. Pihak-pihak yang mewakili Andrie Yunus tidak akan hadir di pengadilan tersebut karena kami merasa proses yang berjalan ini tidak jadi representasi untuk memberikan keadilan bagi korban," ujar Gema saat ditemui dalam acara solidaritas “Dari Warga untuk Andrie Yunus”, Senin (27/4/2026).

Gema menjelaskan bahwa sejak awal Andrie Yunus sebagai korban secara tegas menolak kasusnya diadili di peradilan militer. Mereka mendorong agar perkara ini ditarik ke peradilan umum guna menjamin transparansi dan akuntabilitas.

“Melalui pengadilan militer ini semakin membuktikan lagi bahwa sepertinya ini adalah proses yang ingin dilakukan untuk menebus secara formalitas saja agar kasusnya segera selesai dan hilang dari perhatian publik,” lanjutnya.

Mencium Skenario dan Soroti Mundurnya Kabais

Tim Advokasi menduga terdapat skenario besar di balik bergulirnya persidangan di pengadilan militer. Gema menyebut adanya dugaan keterlibatan hingga 16 orang pelaku lapangan, yang mengindikasikan bahwa motif kasus ini tidak bersifat personal, melainkan terstruktur.

Ia juga menyoroti luputnya perhatian publik terhadap mundurnya Kepala Badan Intelijen Strategis (Kabais) TNI di tengah bergulirnya kasus ini. Menurutnya, pengunduran diri tidak serta-merta menghapuskan tanggung jawab hukum dalam rantai komando.

“Ini juga hal yang belum pernah ramai dibicarakan sebenarnya soal Kabais yang mundur, seharusnya memang tidak bisa mundur begitu saja. Ada pertanggungjawaban hukum yang harus ia jalankan,” tegas Gema.

baca juga

Karena itu, menghadiri persidangan militer dinilai sama saja dengan masuk ke dalam skenario yang telah disusun oleh pihak tertentu.

“Persidangan yang berjalan di pengadilan militer itu merupakan skenario yang sudah berjalan, dan kami tidak ingin ikut atau terbawa arus skenario tersebut,” tambahnya.

Teka-teki Laporan di Polda Metro Jaya

Selain menolak peradilan militer, pihak korban juga terus mendorong kepolisian untuk mengusut dugaan keterlibatan unsur sipil. Diketahui, mereka telah mengajukan laporan polisi Model B di Bareskrim yang kemudian dilimpahkan ke Polda Metro Jaya.

Namun, Gema menyayangkan proses di kepolisian yang dinilai kurang transparan terkait status laporan tersebut. Berdasarkan jawaban SP2HP yang diterima, Polda Metro Jaya disebut telah menyerahkan sejumlah barang bukti ke Puspom TNI tanpa kejelasan apakah penanganan perkara di kepolisian sudah dihentikan atau belum.

“Ini yang perlu kita kawal bersama, karena selama ini ternyata belum pernah ada kejelasan apakah kasusnya ditutup atau tidak, baik model A maupun model B yang kami ajukan,” pungkas Gema.

Meski tidak hadir secara resmi sebagai representasi korban, Tim Advokasi menyatakan tetap akan memantau jalannya persidangan melalui pemberitaan media dan jaringan masyarakat sipil lainnya, guna memastikan fakta-fakta yang terungkap maupun yang berpotensi diabaikan dalam proses persidangan tersebut.

Reporter: Dinda Pramesti K

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Kasus Andrie Yunus: Tim Hukum Curigai TNI Ikuti Skenario, Investigasi Independen Diabaikan

Kasus Andrie Yunus: Tim Hukum Curigai TNI Ikuti Skenario, Investigasi Independen Diabaikan

News | Selasa, 28 April 2026 | 14:18 WIB

Kasus Andrie Yunus Disebut Terorisme Negara, Rakyat Tolak 'Sandiwara' Peradilan Militer

Kasus Andrie Yunus Disebut Terorisme Negara, Rakyat Tolak 'Sandiwara' Peradilan Militer

News | Selasa, 28 April 2026 | 09:00 WIB

Sejajarkan Andrie Yunus dengan Marsinah, Dongker Bakal Abadikan Kasus Kekerasan Aparat dalam Lagu

Sejajarkan Andrie Yunus dengan Marsinah, Dongker Bakal Abadikan Kasus Kekerasan Aparat dalam Lagu

News | Selasa, 28 April 2026 | 06:10 WIB

Terkini

Tak Mau Turun Kasta, BEI Pede Indonesia Selamat dari Ancaman MSCI

Tak Mau Turun Kasta, BEI Pede Indonesia Selamat dari Ancaman MSCI

Bisnis | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 21:35 WIB

Ramai Dikritik Soal Acara Deklarasi Sumpah Pemuda, Raffi Ahmad Buka Suara

Ramai Dikritik Soal Acara Deklarasi Sumpah Pemuda, Raffi Ahmad Buka Suara

Video | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 21:30 WIB

In This Economy, Jadi Tentara Bayaran Rusia Diimingi Gaji Selangit Pulang Tinggal Nama

In This Economy, Jadi Tentara Bayaran Rusia Diimingi Gaji Selangit Pulang Tinggal Nama

News | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 21:00 WIB

Ketika Nonton Film Bareng Jadi Cara Baru Membangun Kedekatan di Dunia Kerja

Ketika Nonton Film Bareng Jadi Cara Baru Membangun Kedekatan di Dunia Kerja

Lifestyle | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 20:47 WIB

Manga Komedi-Romantis Hiragi-san's House of Vampires Dapat Adaptasi Anime

Manga Komedi-Romantis Hiragi-san's House of Vampires Dapat Adaptasi Anime

Your Say | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 20:40 WIB

BEI Siap Periksa Acak Free Float Emiten, Direksi Terancam Sanksi Tegas!

BEI Siap Periksa Acak Free Float Emiten, Direksi Terancam Sanksi Tegas!

Bisnis | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 20:15 WIB

Love's Ambition: Akting Sedih Zhao Lu Si yang Patahkan Genre Romansa CEO

Love's Ambition: Akting Sedih Zhao Lu Si yang Patahkan Genre Romansa CEO

Your Say | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 20:14 WIB

Pakar Geopolitik: Konser Andrea Bocelli di Borobudur Harus Jadi Pesan Perdamaian Dunia

Pakar Geopolitik: Konser Andrea Bocelli di Borobudur Harus Jadi Pesan Perdamaian Dunia

News | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 20:04 WIB

Kronologi WNI Eks Sopir Taksi Jadi Tentara Bayaran Rusia, Baru 10 Hari Latihan Tewas di Ukraina

Kronologi WNI Eks Sopir Taksi Jadi Tentara Bayaran Rusia, Baru 10 Hari Latihan Tewas di Ukraina

News | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 20:00 WIB

Kunci Sukses Indonesia di Mata Presiden Prabowo: Pendidikan dan Pemimpin Berhati Bersih

Kunci Sukses Indonesia di Mata Presiden Prabowo: Pendidikan dan Pemimpin Berhati Bersih

Video | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 20:00 WIB

×