Pakar UGM Soroti Efek Domino Tabrakan Kereta Bekasi: Pelanggaran di Perlintasan Jadi Pemicu Maut!

Muhammad Yasir, Hiskia Andika Weadcaksana

Selasa, 28 April 2026 | 15:04 WIB
Pakar UGM Soroti Efek Domino Tabrakan Kereta Bekasi: Pelanggaran di Perlintasan Jadi Pemicu Maut!
Petugas mengevakuasi korban yang terjebak di dalam gerbong KRL Commuterline yang bertabrakan dengan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Senin (27/4/2026). [ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/app/agr]
baca 10 detik
  • Taksi listrik mogok di perlintasan sebidang Stasiun Bekasi Timur pada 28 April 2026 menyebabkan rangkaian KRL terhenti mendadak.
  • KA Argo Bromo Anggrek menabrak bagian belakang KRL karena jarak pengereman tidak mencukupi untuk menghentikan kereta berkecepatan tinggi.
  • Pakar transportasi menilai kecelakaan terjadi akibat efek domino pelanggaran lalu lintas eksternal, bukan karena kerusakan sistem perkeretaapian internal.

Suara.com - Pakar Transportasi dari Pusat Studi Transportasi dan Logistik (PUSTRAL) Universitas Gadjah Mada (UGM), Iwan Puja Riyadi, membedah faktor fatalitas di balik kecelakaan maut yang melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Stasiun Bekasi Timur.

Iwan menilai insiden tersebut merupakan bentuk nyata dari efek domino pelanggaran lalu lintas di perlintasan sebidang yang berakibat fatal pada sistem perjalanan kereta api.

Menurut Iwan, tabrakan antarkereta tersebut hanyalah dampak akhir dari rangkaian peristiwa yang dipicu oleh faktor eksternal di luar sistem perkeretaapian.

"Kereta tertabraknya itu kan dampak bukan penyebab. Dia itu tertabrak disebabkan oleh ini karena ada runtutan. Kayak sistem itu habis satu dua tiga empat. Kalau satunya terganggu itu kan menggangu yang lain," ujar Iwan saat dihubungi Suara.com, Selasa (28/4/2026).

Bukan Masalah Sistem Blok

Berdasarkan kronologi kejadian, persitiwa kecelakaan ini bermula ketika sebuah taksi listrik Green SM mogok di tengah perlintasan sebidang hingga tertemper KRL dari arah Cikarang menuju Bekasi.

Akibat peristiwa itu, perjalanan commuter line dari Jakarta menuju Cikarang terganggu dan rangkaian terpaksa berhenti di jalur.

Tak lama kemudian, KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi melaju di jalur yang sama dan menabrak bagian belakang rangkaian KRL yang tengah berhenti di Stasuin Bekasi Timur.

Taksi GreenSM tertemper kereta sebelum peristiwa kecelakaan KA Argo Bromo dan KRL [TMC Polda Metro Jaya]
Taksi GreenSM tertemper kereta sebelum peristiwa kecelakaan KA Argo Bromo dan KRL [TMC Polda Metro Jaya]

Iwan menekankan bahwa dalam sistem perkeretaapian yang padat, gangguan kecil pada satu blok akan langsung merusak ritme perjalanan rangkaian lainnya.

baca juga

"Menurut saya kalau itu masalah sistem kelihatannya tidak, kemungkinan kecil kalau sistem itu bermasalah, karena kalau di Indonesia itu kan sistemnya blok," tuturnya.

"Jadi normalnya itu kereta tidak bisa masuk jika ada di bloknya itu terisi," imbuhnya.

Lebih lanjut, menurut Iwan, meskipun masinis KA Argo Bromo Anggrek kemungkinan besar sudah menerima informasi mengenai adanya hambatan di depan, karakteristik kereta jarak jauh tidak memungkinkan untuk berhenti seketika.

Perbedaan teknis antara KRL yang memiliki kemampuan stop and go cepat dengan kereta mesin diesel pada kereta jarak jauh menjadi faktor penentu dalam jarak pengereman.

"Artinya kan begitu info datang mungkin praduga saya masinis pasti juga akan ngerem cuma waktu dan jarak yang dibutuhkan itu tidak cukup untuk menghindari itu," paparnya.

Ia menambahkan bahwa pengereman mendadak pada kecepatan tinggi kereta jarak jauh justru membawa risiko keamanan yang lebih besar bagi rangkaian kereta itu sendiri.

Jika dipaksakan berhenti total tanpa jarak yang cukup, stabilitas rangkaian bisa terganggu dan membahayakan penumpang di dalamnya.

"Kalau dia dengan kecepatan tinggi, kalau inget pelajaran SMA begitu kecepatan tinggi direm mendadak itu keretanya yang akan guling dengan sendirinya keluar jalur malahan," ungkapnya.

Iwan juga menyoroti aspek penegakan hukum terhadap pemicu awal kecelakaan, yakni pelanggaran di perlintasan sebidang.

Menurutnya, publik sering kali terjebak dalam rasa empati yang salah sehingga abai terhadap substansi pelanggaran hukum yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa dalam skala besar.

Karena itu ia mendorong agar ada pertanggungjawaban pidana yang tegas bagi pelaku pelanggaran di perlintasan sebidang. Mengingat dampak yang ditimbulkan tidak hanya merugikan secara materiil tetapi juga menghilangkan nyawa orang lain.

"Di kita itu kan penindakan yang kurang, karena kita pakai asas manusiawi tanpa melihat mudhorotnya yang lebih besar gitu loh," tandasnya

Secara hipotesis, ia melihat sistem internal perkeretaapian sejauh ini sudah teruji stabil setidaknya selama beberapa tahun terakhir.

"Kita ngeruntutnya itu melihat tidak parsial tapi secara keseluruhan. Selama 5 tahun apa 2 tahun, apa 3 tahun ada kejadian seperti ini ndak. Kalau nggak ada berarti sistemnya fine-fine aja ini secara hipotesis ya," tandasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Presiden Soroti Jalur Kereta Tanpa Palang, Menhub Janji Segera Pasang Pintu Perlintasan Baru

Presiden Soroti Jalur Kereta Tanpa Palang, Menhub Janji Segera Pasang Pintu Perlintasan Baru

News | Selasa, 28 April 2026 | 14:55 WIB

Dari Vietnam ke Bekasi: Rekam Jejak Maut Taksi Green SM Terungkap

Dari Vietnam ke Bekasi: Rekam Jejak Maut Taksi Green SM Terungkap

News | Selasa, 28 April 2026 | 14:13 WIB

Terjepit Semalaman di Gerbong 10, Endang Jadi Korban Terakhir yang Dievakuasi ke RSUD Kota Bekasi

Terjepit Semalaman di Gerbong 10, Endang Jadi Korban Terakhir yang Dievakuasi ke RSUD Kota Bekasi

News | Selasa, 28 April 2026 | 13:27 WIB

Terkini

Houthi Kasih Bukti Tembak Jatuh Jet F-15 Arab Saudi, Kondisinya Mengerikan

Houthi Kasih Bukti Tembak Jatuh Jet F-15 Arab Saudi, Kondisinya Mengerikan

News | Kamis, 17 September 2026 | 15:39 WIB

Cedera Otot Jay Idzes Tak Bisa Dianggap Sepele, Timnas Indonesia Terancam Tanpa Kapten

Cedera Otot Jay Idzes Tak Bisa Dianggap Sepele, Timnas Indonesia Terancam Tanpa Kapten

Bola | Kamis, 17 September 2026 | 15:38 WIB

Buka Rekening BritAma di Platarun Makassar Langsung Dapat Cashback!

Buka Rekening BritAma di Platarun Makassar Langsung Dapat Cashback!

Bri | Kamis, 17 September 2026 | 15:36 WIB

Menyingkap Filosofis dan Makna Tersirat di Balik Film The Sheep Detectives

Menyingkap Filosofis dan Makna Tersirat di Balik Film The Sheep Detectives

Your Say | Kamis, 17 September 2026 | 15:35 WIB

Eks PSIM Yogyakarta Ungkap Sisi Gila Sepak Bola Indonesia: Sampai Tak Bisa Keluar Rumah

Eks PSIM Yogyakarta Ungkap Sisi Gila Sepak Bola Indonesia: Sampai Tak Bisa Keluar Rumah

Bola | Kamis, 17 September 2026 | 15:34 WIB

Apakah Aman Menaruh Microwave di Atas Kulkas? Hati-Hati, 4 Bahaya Ini Mengintai Dapur

Apakah Aman Menaruh Microwave di Atas Kulkas? Hati-Hati, 4 Bahaya Ini Mengintai Dapur

Lifestyle | Kamis, 17 September 2026 | 15:33 WIB

Rajin Sikat Gigi tapi Masih Bisa Berlubang? Ini yang Mungkin Terlewat

Rajin Sikat Gigi tapi Masih Bisa Berlubang? Ini yang Mungkin Terlewat

Health | Kamis, 17 September 2026 | 15:33 WIB

Buruh di Jogja Geruduk Kantor Gubernur DIY, Tantang Sultan Buktikan Keistimewaan untuk Pekerja

Buruh di Jogja Geruduk Kantor Gubernur DIY, Tantang Sultan Buktikan Keistimewaan untuk Pekerja

Jogja | Kamis, 17 September 2026 | 15:33 WIB

Koleksi Terbatas BRIZZI x Arkiv Wajib Dimiliki Kolektor

Koleksi Terbatas BRIZZI x Arkiv Wajib Dimiliki Kolektor

Bri | Kamis, 17 September 2026 | 15:31 WIB

94 Orang Meninggal di Pengungsian Gempa NTT, DPR Desak Audit Besar-besaran

94 Orang Meninggal di Pengungsian Gempa NTT, DPR Desak Audit Besar-besaran

News | Kamis, 17 September 2026 | 15:29 WIB

×