-
Houthi merilis video klaim penembakan jatuh jet tempur F-15 milik Arab Saudi di Marib.
-
Eskalasi militer milisi Houthi berpotensi mengganggu stabilitas jalur distribusi energi dan minyak global.
-
Insiden penembakan ini menjadi kasus kedua jatuhnya pesawat tempur F-15 akibat serangan musuh.
Suara.com - Houthi mengklaim berhasil menjatuhkan pesawat tempur Jet F-15 milik Arab Saudi di atas wilayah Marib, Yaman. Langkah agresif kelompok yang disokong Iran ini kian mengancam stabilitas jalur pasokan energi dunia.
Pernyataan resmi kelompok tersebut menyebutkan bahwa jet buatan Amerika Serikat itu ditembak jatuh menggunakan rudal permukaan ke udara buatan lokal saat melakukan operasi.
Video yang dipublikasikan memperlihatkan rekaman elektronik titik hantam rudal ke pesawat, dilanjutkan aksi para milisi memeriksa puing-puing di area padang pasir. Potongan ekor pesawat yang diangkat kelompok tersebut menampilkan bendera Arab Saudi lengkap dengan nomor identifikasi 5539.

CNN Internasional belum bisa memverifikasi atau menentukan lokasi pasti dari rekaman tersebut, sementara pemerintah Arab Saudi belum memberikan tanggapan resmi. Analis militer CNN sekaligus pensiunan Kolonel Angkatan Udara AS, Cedric Leighton, menilai lambang pada ekor F-15SA tersebut konsisten dengan armada milik Arab Saudi.
Peristiwa ini berlangsung selaras dengan memanasnya gesekan militer regional yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat.
Kelompok pemberontak ini terus memperluas wilayah kekuasaan mereka dengan menggempur pasukan pemerintah Yaman yang didukung Riyadh. Pekan lalu, mereka menguasai kota pelabuhan di Laut Merah serta pulau strategis dekat jalur pelayaran vital ekspor minyak Saudi.
Intensitas serangan balik Arab Saudi juga meningkat merespons gempuran berkala dari milisi Houthi dalam beberapa pekan terakhir. Kondisi ini memicu kekhawatiran bahwa Arab Saudi dapat terseret lebih dalam ke dalam pusaran perang regional yang berkepanjangan.
Jika klaim penembakan ini terkonfirmasi, peristiwa tersebut menjadi kasus kedua jatuhnya jet buatan AS akibat tembakan musuh.

Sebelumnya, jet F-15 Strike Eagle milik Angkatan Udara AS ditumbangkan oleh militer Iran pada fase awal konflik. Insiden tersebut memicu operasi penyelamatan awak kapal yang berujung pada hancurnya beberapa unit pesawat AS di lokasi pendaratan darurat.
Selain itu, tiga jet F-15 milik AS pernah jatuh akibat tembakan salah sasaran (friendly fire) dari pihak Kuwait.
Varian F-15SA yang dioperasikan Arab Saudi merupakan salah satu model paling gres dari armada jet bermesin ganda tersebut. Model ini mengadopsi basis F-15E Strike Eagle yang menjadi tulang punggung kekuatan udara Amerika Serikat sejak 1991.
Berdasarkan rilis pers Angkatan Udara AS, pengiriman unit terakhir pesawat tempur rakitan Boeing ini diterima pihak Arab Saudi pada Desember 2020.
Perang saudara yang melanda Yaman selama bertahun-tahun telah membelah negara tersebut dan menciptakan krisis kemanusiaan parah. Konflik ini melibatkan pemerintah Yaman yang disokong koalisi Arab Saudi melawan milisi Houthi yang mendapat dukungan dari Iran.
Eskalasi terbaru tidak hanya memperluas peta pertempuran di darat dan udara, tetapi juga mengancam keamanan jalur pelayaran internasional di Laut Merah dan Selat Hormuz yang menjadi jalur transit utama pasokan minyak dunia.