-
Delapan warga Lebanon tewas akibat serangan Israel termasuk tiga petugas paramedis saat bertugas.
-
Militer Israel menghancurkan jaringan terowongan strategis Hezbollah sepanjang dua kilometer menggunakan ratusan ton peledak.
-
Gencatan senjata antara Israel dan Hezbollah semakin rapuh dengan meningkatnya korban sipil serta militer.
Suara.com - Konflik bersenjata di wilayah Lebanon Selatan kembali memanas dengan jatuhnya korban jiwa meski kesepakatan penghentian permusuhan telah diumumkan.
Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan delapan orang kehilangan nyawa akibat rentetan serangan udara yang dilancarkan militer Israel pada hari Selasa.
Dikutip dari Euronews, Peristiwa tragis ini mencatat gugurnya tiga petugas medis penyelamat yang sedang berupaya mengevakuasi korban di bawah reruntuhan bangunan.
![Puluhan ribu warga Lebanon yang mengungsi mulai kembali ke rumah mereka di wilayah selatan, meski gencatan senjata dengan Israel masih diwarnai pelanggaran. [Tangkap layar X]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/18/25303-kondisi-lebanon.jpg)
Eskalasi terbaru ini mempertegas rapuhnya stabilitas keamanan di perbatasan kedua negara yang terus diwarnai aksi saling tuding pelanggaran komitmen.
Pasukan militer kedua belah pihak masih terlibat dalam baku tembak aktif yang mengancam keselamatan warga sipil di zona merah.
Kementerian Kesehatan Lebanon merinci bahwa gempuran udara di wilayah Majdal Zoun telah merenggut nyawa lima orang warga.
"Serangan udara musuh Israel di kota Majdal Zoun... dalam tol awal telah membunuh lima syuhada," ungkap pernyataan resmi kementerian tersebut.

Di antara para korban terdapat personel pertahanan sipil yang sedang menjalankan misi kemanusiaan saat serangan susulan menghantam lokasi mereka.
"Tiga paramedis dari pertahanan sipil Lebanon terjebak di bawah reruntuhan setelah serangan yang menargetkan mereka saat mereka melakukan misi penyelamatan," tambah kementerian.
Situasi mencekam juga melanda kota Jebchit di mana dua orang tewas dan tiga belas lainnya mengalami luka-luka.
Serangan udara terpisah di wilayah Jwaya juga mengakibatkan satu orang tewas serta lima belas orang lainnya menderita luka serius.
Korban luka di Jwaya mencakup lima anak-anak dan lima wanita yang terjebak di tengah dentuman ledakan bom udara.
Pihak Angkatan Darat Lebanon secara resmi melaporkan bahwa dua orang prajurit mereka turut terluka akibat serangan langsung terhadap patroli rutin.
Pernyataan ini menandai pertama kalinya militer resmi Lebanon mengakui adanya personel mereka yang menjadi sasaran sejak gencatan senjata dimulai.
"Israel terus melanggar hukum dan konvensi internasional yang melindungi warga sipil," tegas Presiden Lebanon, Joseph Aoun saat mengecam aksi tersebut.
Di sisi lain, militer Israel melaporkan kematian seorang karyawan perusahaan rekayasa yang bekerja untuk Kementerian Pertahanan mereka di Lebanon.
Militer Israel kemudian mengeluarkan instruksi evakuasi darurat kepada penduduk di lebih dari selusin desa untuk segera bergerak ke arah utara.
Perintah tersebut mewajibkan warga meninggalkan hunian mereka "segera" dan berpindah menuju Distrik Sidon demi menghindari area operasi militer aktif.
Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Saar menegaskan bahwa pihaknya tidak memiliki ambisi teritorial permanen atas wilayah kedaulatan negara tetangga tersebut.
Saar menyatakan Israel akan meninggalkan Lebanon selatan saat "Hezbollah dan organisasi teror lainnya... dilucuti."
Militer Israel mengklaim telah menemukan dan menghancurkan jaringan terowongan strategis milik kelompok Hezbollah di wilayah Qantara.
Jaringan bawah tanah tersebut membentang sejauh dua kilometer dan dilaporkan telah dibangun selama satu dekade terakhir dengan pendanaan besar.
Sebanyak 450 ton bahan peledak digunakan untuk menghancurkan fasilitas yang diklaim sebagai markas pasukan elite Radwan tersebut.
"Hari ini kami meledakkan terowongan teror Hezbollah yang sangat besar," ucap Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu dalam pernyataan persnya.
Menteri Pertahanan Israel Katz juga memberikan instruksi tegas untuk menghancurkan seluruh infrastruktur lawan yang ditemukan "seperti di Gaza."
Konflik terbuka antara Israel dan Hezbollah pecah secara masif sejak awal Maret lalu yang dipicu oleh ketegangan regional di Timur Tengah.
Hingga saat ini, data Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat total 2.534 orang tewas dan 7.863 lainnya terluka sejak perang meletus.
Peperangan ini telah memaksa lebih dari satu juta warga Lebanon mengungsi dan menimbulkan kerugian materiil hingga miliaran dolar Amerika Serikat.