-
Militer Israel mengadang kapal bantuan kemanusiaan Gaza di perairan internasional dekat negara Yunani.
-
Aktivis melaporkan adanya intimidasi menggunakan senjata semi otomatis dan perintah paksa untuk berlutut.
-
Israel mengonfirmasi pengambilan kendali kapal bantuan sebelum kapal tersebut mencapai wilayah teritorial mereka.
Suara.com - Militer Israel secara agresif mengadang kapal kemanusiaan yang sedang berlayar menuju Gaza di wilayah perairan dekat Yunani.
Aksi pengadangan ini menjadi bukti nyata upaya Israel memperketat blokade jalur laut meski di luar wilayah teritorial mereka.
Dikutip dari MEE, langkah militer tersebut menandai eskalasi baru dalam penghalangan bantuan logistik internasional bagi warga sipil di Palestina.

Tindakan intimidasi dilakukan dengan mengarahkan senjata serbu langsung kepada para relawan yang berada di atas kapal.
Para aktivis melaporkan adanya gangguan komunikasi yang disengaja untuk memutus akses informasi ke dunia luar.
“Perahu kami didekati oleh perahu cepat militer yang mengidentifikasi diri sebagai ‘Israel’, menodongkan laser dan senjata serbu semi-otomatis yang memerintahkan peserta ke bagian depan perahu dan berlutut,” ujar pernyataan resmi misi bantuan Global Sumud Flotilla.

Pihak penyelenggara bantuan mengonfirmasi bahwa mereka telah mengeluarkan sinyal SOS akibat situasi yang mengancam keselamatan tersebut.
Radio Angkatan Darat Israel mengutip sumber internal yang membenarkan operasi pengambilalihan kapal bantuan jauh sebelum memasuki wilayah Israel.
Klaim ini menunjukkan kebijakan preventif Israel yang semakin represif terhadap kapal-kapal pengangkut bantuan logistik kemanusiaan.
Para relawan di atas kapal terus mendokumentasikan detik-detik mencekam saat kapal militer besar mulai mendekat.
“Kami memiliki kapal militer yang sangat, sangat besar sangat dekat dengan kami, menyorotkan cahaya terang... kami semua duduk di kokpit dengan tangan terangkat menunggu pengadangan,” kata Alice Chapman dalam unggahan videonya.
Kondisi di lapangan menunjukkan adanya tekanan psikologis besar terhadap para warga sipil yang membawa misi perdamaian tersebut.
Chapman mengungkapkan ketakutan mereka terhadap proses penggeledahan paksa yang diprediksi akan segera terjadi dalam waktu singkat.
Aktivis bahkan bersiap membuang perangkat komunikasi mereka untuk melindungi data sebelum personil militer naik ke kapal.
Meskipun mendapat tekanan hebat, sistem pelacak langsung di situs web flotilla masih berupaya memantau pergerakan kapal tersebut.