- Federasi Sepak Bola Palestina mengajukan banding ke CAS setelah FIFA menolak memberikan sanksi kepada klub-klub Israel di Tepi Barat.
- Delegasi Palestina menghadapi hambatan visa saat menghadiri Kongres FIFA di Kanada akibat masalah administrasi yang memicu tekanan internasional.
- Kondisi sepak bola di Palestina memprihatinkan karena hancurnya infrastruktur serta terhentinya kompetisi profesional akibat konflik yang terus berlangsung.
Suara.com - Federasi Sepak Bola Palestina (PFA) resmi mengajukan banding ke Pengadilan Arbitrase Olahraga atau CAS setelah FIFA menolak menjatuhkan sanksi kepada Israel terkait klub-klub yang berbasis di permukiman Israel di Tepi Barat.
Langkah ini diambil setelah Palestina menilai seluruh jalur hukum di internal FIFA telah buntu.
Wakil Presiden PFA Susan Shalabi menyebut keputusan FIFA sangat tidak adil. Menurutnya, setelah 15 tahun pembahasan, FIFA justru gagal mengambil keputusan substantif.
“Kami akan menempuh seluruh proses sampai keadilan tercapai,” ujar Shalabi usai Kongres AFC di Vancouver, Kanada seperti dilansir dari Aljazeera.
PFA selama ini menuntut agar klub-klub yang berbasis di permukiman Israel di wilayah pendudukan Tepi Barat tidak diizinkan bermain di kompetisi yang dikelola Federasi Sepak Bola Israel.
![Para pemain Timnas Palestina merayakan kemenangan atas Hong Kong pada laga Piala Asia 2023 di Stadion Abdullah bin Khalifa, Doha, Qatar, 23 Januari 2024. [Giuseppe CACACE / AFP]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2024/01/24/82290-timnas-palestina-piala-asia-2023.jpg)
Palestina menilai keberadaan klub-klub tersebut melanggar hukum internasional.
Namun FIFA bulan lalu memutuskan tidak mengambil tindakan terhadap Federasi Sepak Bola Israel, dengan alasan status hukum Tepi Barat masih menjadi persoalan yang belum terselesaikan dalam hukum internasional publik.
Selain sengketa dengan FIFA, Palestina juga mengeluhkan persoalan visa jelang Kongres FIFA di Kanada.
Sejumlah delegasi PFA, termasuk presiden federasi dan penasihat hukum mereka, disebut sempat mengalami hambatan masuk ke negara tuan rumah.
Shalabi mengatakan visa baru diterbitkan setelah adanya tekanan politik, sosial, dan media.
Bahkan beberapa perwakilan Palestina dipastikan tetap absen karena visa tak kunjung keluar tepat waktu.
Di sisi lain, Shalabi menyoroti kondisi sepak bola Palestina yang disebut semakin memprihatinkan, khususnya di Gaza.
Menurutnya, hampir seluruh infrastruktur sepak bola di wilayah tersebut telah hancur atau tidak bisa digunakan.
“Kami kehilangan ratusan pesepak bola, sebagian besar anak-anak. Saat ini tidak ada sepak bola sama sekali di Gaza,” kata Shalabi.
Shalabi menambahkan kompetisi profesional Palestina saat ini terhenti, sementara federasi berupaya menjaga denyut sepak bola tetap hidup lewat turnamen akar rumput dan kompetisi usia muda.