- Menteri Sosial mengklarifikasi bahwa anggaran Rp27 miliar untuk pengadaan sepatu siswa Sekolah Rakyat belum bersifat final.
- Sekolah Rakyat menyediakan pendidikan gratis serta fasilitas asrama lengkap bagi siswa dari keluarga ekonomi sangat rendah.
- Berbeda dengan sekolah formal, Sekolah Rakyat menerapkan kurikulum fleksibel dengan sistem multi-entry untuk mendukung kemandirian siswa miskin.
Suara.com - Sekolah Rakyat kembali jadi perbincangan setelah muncul anggaran pengadaan sepatu untuk siswa Sekolah Rakyat mencapai Rp27 miliar.
Anggaran tersebut menjadi sorotan masyarakat luas, karena harga sepasang sepatu yang dimasukkan dalam anggaran berkisar Rp700 ribu. Lantas banyak orang penasaran, apa bedanya Sekolah Rakyat dengan sekolah biasa?
Menteri Sosial Saifullah Yusuf mengklaim angka yang muncul dalam anggaran hanyalah angka perencanaan awal dan belum bersifat final. Ia memastikan pengadaan melalui proses yang transparan.
Untuk menambah pemahaman, berikut ini penjelasan mengenai perbedaan Sekolah Rakyat dan sekolah biasa.
1. Kurikulum dan pendekatan belajar
Sekolah Rakyat tetap menggunakan Kurikulum Nasional seperti sekolah pada umumnya. Namun, pendekatan pembelajarannya lebih personal, fleksibel, dan adaptif terhadap kondisi siswa.
Sistem yang digunakan adalah multi-entry dan multi-exit, artinya siswa bisa masuk kapan saja dan menyelesaikan pendidikan sesuai capaian masing-masing. Ini berbeda dengan sekolah biasa yang terikat kalender akademik dan proses belajar yang seragam secara kolektif.
2. Biaya dan akses pendidikan
Perbedaan paling mencolok terletak pada biaya. Sekolah Rakyat memberikan pendidikan 100 persen gratis, mulai dari asrama, makan, seragam, hingga kebutuhan harian siswa.
Seluruh pembiayaan ditanggung negara melalui koordinasi Kementerian Sosial. Sementara itu, sekolah biasa—baik negeri maupun swasta umumnya masih membebankan biaya tambahan kepada orang tua, meski ada bantuan seperti BOS.
3. Target peserta didik
Sekolah Rakyat secara spesifik menyasar anak-anak dari keluarga termiskin, terutama yang masuk Desil 1 dan 2 dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Bahkan, anak jalanan dan mereka yang tidak terdata di sistem pendidikan formal juga menjadi prioritas.
Sebaliknya, sekolah biasa terbuka untuk semua kalangan tanpa segmentasi ekonomi yang ketat. Sistem seleksi biasanya berbasis zonasi atau prestasi akademik.
4. Fasilitas pendidikan
Sebagai sekolah berasrama, Sekolah Rakyat dirancang dengan fasilitas yang relatif lengkap. Mulai dari asrama, laboratorium, fasilitas olahraga, hingga ruang pengembangan diri tersedia dalam satu kawasan.