- Perang internal Kartel Sinaloa di Meksiko sejak September 2024 menyebabkan ribuan pembunuhan, penculikan, serta hilangnya banyak warga sipil.
- Krisis keamanan tersebut memicu ketidakamanan tinggi di Culiacán dan Mazatlán, serta menyebabkan ribuan perusahaan kehilangan operasional formalnya.
- Tuduhan narkotika terhadap Gubernur Rubén Rocha Moya memperburuk situasi dan berdampak pada hilangnya puluhan ribu lapangan pekerjaan.
Suara.com - Negara bagian Sinaloa, Meksiko, dilanda krisis keamanan akut setelah perang internal Kartel Sinaloa meledak sejak September 2024.
Data terbaru yang dirilis media investigasi Meksiko, Aristegui Noticias pada 5 Mei 2026 menunjukkan sedikitnya 3.180 pembunuhan dan 3.686 kasus penculikan atau perampasan kebebasan terjadi di wilayah yang dipimpin Gubernur nonaktif Rubén Rocha Moya.
Lonjakan kekerasan ini kembali menjadi sorotan setelah muncul tuduhan narkotika terhadap Rocha Moya yang memicu perdebatan baru soal impunitas di Sinaloa.
Konflik berdarah pecah setelah perpecahan antara faksi Los Chapitos dan Los Mayos di dalam Kartel Sinaloa.
Menurut data Sekretariat Eksekutif Sistem Keamanan Publik Nasional dan Coparmex Sinaloa, perang antar-faksi itu telah menewaskan ribuan orang sejak 9 September 2024.

Bahkan, 25 pembunuhan dilaporkan hanya dalam beberapa hari setelah pemerintah Amerika Serikat mengumumkan dakwaan resmi terhadap Rocha Moya.
Selain korban tewas, kekerasan juga memicu gelombang penculikan dan penghilangan paksa. Tercatat 1.605 orang dilaporkan hilang atau belum ditemukan, sementara 271 korban ditemukan tewas setelah sebelumnya dinyatakan hilang.
Aksi kriminal turut merambah sektor lain dengan 10.881 kendaraan dilaporkan dicuri, banyak di antaranya diduga digunakan kelompok kriminal dalam bentrokan bersenjata.
Situasi ini membuat rasa aman masyarakat runtuh drastis.
Survei Keamanan Publik Nasional Meksiko mencatat tingkat persepsi ketidakamanan di ibu kota negara bagian, Culiacán, mencapai 84,4 persen.
Sementara di Mazatlán, angka ketidakamanan berada di level 79,5 persen.
Meski pemerintah federal mengklaim angka pembunuhan menurun 44 persen sejak Oktober 2024, kalangan dunia usaha menilai situasi di lapangan masih jauh dari terkendali.
Coparmex Sinaloa menyebut lingkungan di Sinaloa berisiko masih terus berlanjut dan belum berhasil dikendalikan.
Dampak ekonomi pun kian terasa. Organisasi pengusaha itu menyebut perang antar-kartel telah menyebabkan hilangnya 20 ribu lapangan kerja formal dan membuat sekitar 11 ribu perusahaan atau pemberi kerja keluar dari sistem ketenagakerjaan resmi.
“Sinaloa sedang menghadapi situasi kritis pengangguran,” tegas pihak Coparmex.