-
Lima warga sipil tewas ditembak pasukan Amerika saat mengangkut barang dari Oman menuju Iran.
-
Amerika Serikat kerahkan 15.000 personel militer dan ratusan pesawat melalui Operasi Project Freedom.
-
Iran membantah klaim Amerika mengenai serangan terhadap kapal perang dan mengklaim balik serangan rudal.
Suara.com - Operasi militer bertajuk Project Freedom yang diinisiasi Amerika Serikat memicu tragedi kemanusiaan di perairan strategis Selat Hormuz.
Lima orang dilaporkan tewas setelah pasukan bersenjata Amerika Serikat memberondong dua kapal sipil yang sedang mengangkut barang.
Armada sipil tersebut diketahui tengah menempuh rute pelayaran dari Khasab, Oman, menuju wilayah kedaulatan Iran.

Insiden berdarah ini menjadi titik nadir baru dalam konfrontasi militer antara Washington dan Teheran di jalur logistik global.
Laporan jatuhnya korban jiwa ini dipublikasikan secara resmi oleh kantor berita Iran, Tasnim News Agency, pada Selasa waktu setempat.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) memberikan dalih bahwa tindakan tersebut merupakan respon atas provokasi bersenjata dari pihak Iran.
Pada Senin (4/5), Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan Iran telah menembaki kapal perang AS dan kapal komersial, sehingga Amerika membalas tembakan dan menghancurkan kapal-kapal kecil milik Iran.
![Secara geopolitik, Selat Malaka jauh lebih strategis dari Selat Hormuz. Komoditas perdagangan yang melintasi Selat Malaka juga lebih banyak dan lebih penting ketimbang Hormuz. [Suara.com/Gemini/Syahda]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/13/53700-selat-hormuz-vs-selat-malaka.jpg)
Pihak Gedung Putih mengklaim bahwa penghancuran armada kecil tersebut adalah upaya menetralisir ancaman terhadap kapal komersial internasional.
Namun, militer Iran secara tegas membantah narasi yang dibangun oleh pihak militer Amerika Serikat tersebut melalui saluran televisi resmi IRIB.
Sumber militer senior setempat menegaskan bahwa klaim kesuksesan operasi Amerika terhadap kapal bersenjata adalah sebuah kekeliruan data.
Tragedi ini berakar dari pengumuman Presiden Donald Trump terkait pengaktifan operasi militer khusus di kawasan perairan sensitif tersebut.
Pada Minggu (3/5), Presiden AS Donald Trump mengumumkan Project Freedom, sebuah operasi membantu kapal-kapal yang terhambat di Selat Hormuz untuk meninggalkan kawasan itu.
Untuk mendukung misi ini, Amerika Serikat tidak main-main dalam mengerahkan aset tempur tercanggih mereka ke wilayah konflik.
CENTCOM menyatakan dukungan militer AS untuk operasi tersebut mencakup kapal rudal perusak dengan pemandu, lebih dari 100 pesawat berbasis darat dan laut, sistem nirawak multi-domain, serta 15.000 personel militer.
Seluruh kekuatan tempur masif tersebut dilaporkan mulai dikerahkan dan beroperasi secara aktif sejak Senin pagi.
Kondisi di lapangan semakin simpang siur setelah muncul laporan mengenai serangan rudal terhadap armada perang milik Amerika Serikat.
Stasiun televisi IRIB melaporkan bahwa pihak Teheran sempat melakukan tindakan preventif untuk menghalau kapal Amerika masuk ke Selat Hormuz.
Militer Iran mengklaim telah berhasil menghantam satu unit kapal perang Amerika Serikat dengan menggunakan dua buah rudal.
Klaim serangan rudal Iran tersebut langsung mendapatkan bantahan keras dari pihak Komando Pusat Amerika Serikat di hari yang sama.
Situasi kian mencekam dengan adanya ancaman terbuka dari pemimpin tertinggi Amerika Serikat terhadap kedaulatan Iran di wilayah laut.
Trump juga mengancam Iran dengan konsekuensi menghancurkan apabila Teheran berupaya menyerang kapal-kapal Amerika di dekat Selat Hormuz.
Narasi ancaman ini mempertegas posisi Amerika yang siap menggunakan kekuatan penuh demi mengamankan kepentingan mereka di perairan tersebut.
Hingga saat ini, belum ada tanda-tanda deeskalasi meskipun jatuh korban dari kalangan sipil dalam peristiwa penembakan di rute Khasab.
Ketegangan di Selat Hormuz diprediksi akan terus meningkat seiring dengan penempatan belasan ribu personel militer Amerika Serikat.
Kawasan ini tetap menjadi titik api paling berbahaya yang mengancam stabilitas keamanan dan ekonomi di wilayah Timur Tengah.
Ketegangan di Selat Hormuz kembali memanas setelah Amerika Serikat meluncurkan Operasi Project Freedom untuk mengawal lalu lintas kapal di perairan tersebut.
Langkah ini merupakan respons Washington terhadap hambatan pelayaran yang diklaim akibat gangguan dari pihak Iran.
Sebaliknya, Teheran menganggap kehadiran armada militer AS dalam jumlah besar sebagai ancaman terhadap kedaulatan dan keamanan regional mereka.