Partai Buruh Kritik Sistem Pemilu Berbiaya Tinggi: Hanya Pemilik Modal dan Massa Besar yang Bertahan

Dwi Bowo Raharjo

Selasa, 05 Mei 2026 | 19:14 WIB
Partai Buruh Kritik Sistem Pemilu Berbiaya Tinggi: Hanya Pemilik Modal dan Massa Besar yang Bertahan
Ilustrasi massa dari Partai Buruh. [Suara.com/Alfian Winanto]
baca 10 detik
  • Rivaldi Haryo Seno mengkritik sistem pemilu Indonesia yang dinilai hanya memfasilitasi pihak bermodal besar dan bermassa luas.
  • Besarnya biaya administratif pencalonan legislatif dianggap sangat membebani masyarakat kelas pekerja serta menciptakan sistem yang tidak inklusif.
  • Partai Buruh menuntut keadilan bantuan dana pendidikan politik dari negara bagi seluruh partai tanpa membedakan status parlemen.

Suara.com - Wakil Presiden Eksekutif Komite Pusat Partai Buruh, Rivaldi Haryo Seno atau yang akrab disapa Aldi, melontarkan kritik tajam terhadap sistem pemilu di Indonesia saat ini.

Menurutnya, rezim pemilu hari ini menciptakan ketidakadilan, terutama bagi partai baru dan kelompok masyarakat sipil yang ingin berkontribusi dalam kontestasi politik.

Dalam sebuah diskusi yang diselenggarakan oleh Indonesia Corruption Watch (ICW), Aldi mengungkapkan bahwa realita di lapangan menunjukkan hanya ada dua kekuatan yang mampu membuat sebuah partai politik bertahan dan menjadi peserta pemilu di Indonesia.

"Di kami sendiri berpandangan yang dapat membangun partai politik di Indonesia itu hanya dua, orang yang memiliki basis modal yang begitu besar atau yang memiliki basis massa yang begitu luas. Hanya dua itu. Selain daripada itu dapat dipastikan dia tidak akan dapat menjadi peserta pemilu," ujar Aldi dalam diskusinya, pada Selasa (5/5/2026).

Ia menilai sistem yang ada saat ini sengaja dibuat sangat ketat, sehingga menyulitkan gerakan rakyat untuk masuk ke dalam parlemen secara konstitusional.

Bagi Partai Buruh, yang pondasinya adalah massa dari berbagai serikat pekerja dan organisasi masyarakat sipil, pembiayaan operasional partai harus ditopang secara mandiri oleh organisasi karena minimnya akses modal besar.

Beban Biaya Pencalegan bagi Rakyat Kecil

Aldi juga menyoroti mahalnya biaya yang harus dikeluarkan secara personal oleh individu yang ingin mencalonkan diri sebagai calon legislatif (caleg).

Berdasarkan pengalamannya, biaya administrasi awal saja sudah menjadi hambatan bagi kelas pekerja.

baca juga

"Dimulai dari pendaftaran caleg saja kita harus mengeluarkan uang yang begitu besar mulai dari tes kesehatan mulai dari dapat SKCK perlakuan baik dari pengadilan itu semua duit, itu semua uang, dan uangnya nggak begitu kecil, lumayan," ungkapnya.

Kondisi ini, menurut Aldi, membuat sistem pemilu Indonesia menjadi tidak inklusif.

Ia memberikan gambaran betapa sulitnya posisi buruh pabrik, pengemudi ojek online (ojol), hingga pedagang asongan untuk ikut bertarung dalam pemilu jika seluruh beban biaya dibebankan kepada individu.

Ilustrasi logo 8 partai yang ada di parlemen. (Suara.com/Syahda)
Ilustrasi logo 8 partai yang ada di parlemen. (Suara.com/Syahda)

"Bagi kami sebagai partai kelas pekerja yang notabene anggota kami adalah ojol, buruh-buruh pabrik, buruh garmen, buruh manufaktur, buruh pertambangan, buruh perkebunan, anak-anak muda di miskin kota, pedagang asongan, disabilitas, sangat begitu sulit. Makanya rezim pemilu sekarang ini adalah rezim yang tidak inklusif terhadap orang-orang kecil," tegasnya.

Ia berpendapat bahwa negara seharusnya hadir membiayai proses-proses administratif tersebut agar setiap warga negara yang memiliki kapasitas, dari sektor manapun, dapat maju tanpa terhambat persoalan finansial.

Terlebih, kondisi upah buruh saat ini disebutnya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup bulanan.

Ketimpangan Dana Pendidikan Politik

Persoalan lain yang disoroti Partai Buruh adalah ketimpangan pemberian bantuan dana partai politik dari negara. Aldi mengkritik kebijakan pemerintah yang hanya memberikan dana bantuan kepada partai-partai yang telah memiliki kursi di parlemen.

Menurutnya, hal ini tidak adil karena setiap partai politik, baik yang ada di parlemen maupun partai baru, memiliki kewajiban yang sama dalam melakukan pendidikan politik kepada masyarakat.

"Kenapa kewajiban partai politik untuk memprioritaskan pendidikan politik baik itu untuk anggota maupun untuk masyarakat tapi tidak diberikan dananya secara penuh, hanya diberikan dalam kepada partai-partai yang punya kursi? Haknya sama untuk pendidikan politik tapi kenapa pemberiannya beda?" Ungkapnya.

Reporter: Tsabita Aulia

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

PDIP Usul Ambang Batas Parlemen Nasional 5,5-6 Persen dan Terapkan PT Berjenjang hingga Daerah

PDIP Usul Ambang Batas Parlemen Nasional 5,5-6 Persen dan Terapkan PT Berjenjang hingga Daerah

News | Senin, 04 Mei 2026 | 16:10 WIB

Revisi UU Pemilu Mendesak, Eks Penyelenggara Ingatkan Waktu Kian Sempit Jelang 2026

Revisi UU Pemilu Mendesak, Eks Penyelenggara Ingatkan Waktu Kian Sempit Jelang 2026

News | Senin, 04 Mei 2026 | 14:39 WIB

Revisi UU Pemilu Mandek, Koalisi Sipil Desak DPR Bergerak Sebelum Agustus 2026

Revisi UU Pemilu Mandek, Koalisi Sipil Desak DPR Bergerak Sebelum Agustus 2026

News | Senin, 04 Mei 2026 | 14:23 WIB

PDIP Dorong Dialog Terbuka Tentukan Ambang Batas Parlemen di RUU Pemilu

PDIP Dorong Dialog Terbuka Tentukan Ambang Batas Parlemen di RUU Pemilu

News | Minggu, 03 Mei 2026 | 19:25 WIB

Megawati Ingatkan Republik Milik Bersama, Tolak Alasan Biaya Mahal untuk Ubah Sistem Pemilu

Megawati Ingatkan Republik Milik Bersama, Tolak Alasan Biaya Mahal untuk Ubah Sistem Pemilu

News | Sabtu, 02 Mei 2026 | 17:25 WIB

Terkini

100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI

100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI

News | Jum'at, 07 Agustus 2026 | 23:47 WIB

Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar

Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar

News | Jum'at, 07 Agustus 2026 | 23:40 WIB

Rekor Buruk Timnas Indonesia di Piala AFF Semakin Panjang, Pemain Naturalisasi Tak Berkutik

Rekor Buruk Timnas Indonesia di Piala AFF Semakin Panjang, Pemain Naturalisasi Tak Berkutik

Bola | Jum'at, 07 Agustus 2026 | 23:39 WIB

100 Petani Sidomulyo Muba Serahkan Diri, Bela 4 Warga yang Dituduh Mencuri di Kebun Sendiri

100 Petani Sidomulyo Muba Serahkan Diri, Bela 4 Warga yang Dituduh Mencuri di Kebun Sendiri

Sumsel | Jum'at, 07 Agustus 2026 | 23:34 WIB

Eks Penyidik KPK: Kasus Febrie Adriansyah Harus Dikembangkan ke Atas, Bawah, dan Samping

Eks Penyidik KPK: Kasus Febrie Adriansyah Harus Dikembangkan ke Atas, Bawah, dan Samping

News | Jum'at, 07 Agustus 2026 | 23:29 WIB

Dari Batam Menuju Timnas Indonesia, Garudayaksa FC Buka Kesempatan bagi Talenta Muda

Dari Batam Menuju Timnas Indonesia, Garudayaksa FC Buka Kesempatan bagi Talenta Muda

Bola | Jum'at, 07 Agustus 2026 | 23:15 WIB

Tak Berdiri Sendiri, Pengamat Unas Endus Ada Sosok Berpengaruh di Kasus Eks Jampidsus

Tak Berdiri Sendiri, Pengamat Unas Endus Ada Sosok Berpengaruh di Kasus Eks Jampidsus

News | Jum'at, 07 Agustus 2026 | 23:05 WIB

Erick Thohir Evaluasi Skuad Timnas Indonesia Usai Gagal di Piala AFF 2026, John Herdman Out?

Erick Thohir Evaluasi Skuad Timnas Indonesia Usai Gagal di Piala AFF 2026, John Herdman Out?

Bola | Jum'at, 07 Agustus 2026 | 22:59 WIB

Kata-kata Mengharukan Rizky Ridho Usai Timnas Indonesia Tersingkir dari Piala AFF 2026

Kata-kata Mengharukan Rizky Ridho Usai Timnas Indonesia Tersingkir dari Piala AFF 2026

Bola | Jum'at, 07 Agustus 2026 | 22:36 WIB

Tangis Haru Karsa, Rumah Reotnya di Klapanunggal Kini Kokoh Direnovasi Indocement

Tangis Haru Karsa, Rumah Reotnya di Klapanunggal Kini Kokoh Direnovasi Indocement

Bogor | Jum'at, 07 Agustus 2026 | 22:17 WIB

×