Peneliti Kembangkan Peta Lokasi PLTS untuk Tekan Konflik Lahan dan Risiko Deforestasi

Bimo Aria Fundrika

Rabu, 20 Mei 2026 | 09:00 WIB
Peneliti Kembangkan Peta Lokasi PLTS untuk Tekan Konflik Lahan dan Risiko Deforestasi
Hutan bambu kering di lereng bukit (Pexels/ZhiCheng Zhang)

Suara.com - Perkembangan energi terbarukan yang semakin pesat kerap memunculkan kekhawatiran terkait alih fungsi lahan pertanian maupun dampaknya terhadap kawasan bernilai ekologis.

Menjawab tantangan tersebut, tim peneliti dari Cornell University, The Nature Conservancy (TNC), U.S. Geological Survey (USGS), dan Central Michigan University mengembangkan model pemetaan untuk membantu menentukan lokasi pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) skala utilitas secara lebih berkelanjutan.

Dikutip dari Phys.org, penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Geography and Sustainability itu dirancang untuk mengidentifikasi area potensial bagi pengembangan energi surya dengan tetap melindungi lahan pertanian produktif dan habitat keanekaragaman hayati yang sensitif.

Melalui model tersebut, para peneliti mengevaluasi geografi suatu wilayah berdasarkan tiga prioritas yang sering kali saling bersaing, yakni biaya pembangunan yang rendah, perlindungan sektor pertanian, dan konservasi lingkungan. Pendekatan ini memungkinkan potensi konflik penggunaan lahan dipetakan sejak awal sebelum proyek energi surya dibangun.

"Terjadi konflik penggunaan lahan yang terkait dengan pengembangan energi surya karena ada berbagai pihak yang berkepentingan terhadap keanekaragaman hayati, pertanian, dan energi. Pada kenyataannya, ketiganya saling berinteraksi dalam satu sistem yang saling terhubung," kata penulis senior studi sekaligus Assistant Professor of Natural Resources and the Environment di Cornell University, Steve Grodsky.

Ada Konsekuensi di Setiap Pilihan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap prioritas membawa konsekuensi yang berbeda. Ketika perlindungan lahan pertanian menjadi fokus utama, sekitar 80 persen lokasi potensial di lahan pertanian utama dapat diselamatkan dari pembangunan panel surya. Namun, pilihan tersebut berpotensi meningkatkan tekanan terhadap kawasan hutan karena proyek dapat bergeser ke area lain yang tersedia.

Di sisi lain, menghindari kawasan ekologis sensitif hanya meningkatkan biaya tahunan sekitar 0,17 persen. Konsekuensinya, pembangunan panel surya lebih banyak diarahkan ke padang rumput, ladang jerami, dan lahan pertanian yang telah diolah.

New York dipilih sebagai lokasi studi karena memiliki target transisi energi yang ambisius. Pada 2019, negara bagian tersebut mengesahkan undang-undang iklim yang menargetkan 70 persen pasokan listrik berasal dari energi terbarukan pada 2030 dan mencapai 100 persen pada 2040.

Dalam skenario pengembangan energi surya paling agresif yang digunakan peneliti, New York diperkirakan membutuhkan kapasitas tenaga surya sekitar 46.000 megawatt hingga 2050. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, dibutuhkan lahan sekitar 107.700 hektare.

Meski demikian, angka itu hanya mencakup sebagian kecil dari total luas wilayah New York yang mencapai sekitar 30 juta hektare, termasuk 6,5 juta hektare lahan pertanian dan 4,5 juta hektare lahan lindung milik negara.

"Secara tradisional, penentuan lokasi pembangkit tenaga surya berfokus pada biaya terendah agar energi dapat dibangun dengan cepat dan efisien. Namun, banyak penolakan dari masyarakat yang ingin melindungi lahan pertanian utama dan khawatir terhadap penebangan hutan dalam skala besar," ujar penulis utama studi, Adam Gallaher.

Para peneliti menilai model pemetaan tersebut dapat diterapkan di berbagai wilayah lain yang menghadapi tantangan serupa. Dalam pemetaan biaya terendah, tim mempertimbangkan faktor seperti jarak ke jalan dan jaringan transmisi listrik, jenis tanah, serta penggunaan lahan saat ini. Sementara itu, data pertanian dan lingkungan diperoleh dari sejumlah lembaga terkait di New York dan pemerintah federal Amerika Serikat.

Penelitian ini menunjukkan bahwa percepatan transisi energi terbarukan tidak harus mengorbankan lahan pertanian maupun kawasan bernilai ekologis. Dengan perencanaan lokasi yang lebih matang, pembangunan energi surya dapat dilakukan secara lebih bertanggung jawab dengan tambahan biaya yang relatif kecil.

Penulis: Vicka Rumanti

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Bio Farma Perkuat Ekosistem Halal demi Dongkrak Daya Saing Industri Kesehatan

Bio Farma Perkuat Ekosistem Halal demi Dongkrak Daya Saing Industri Kesehatan

Bisnis | Selasa, 19 Mei 2026 | 18:55 WIB

Generasi Peduli Iklim, Komunitas yang Ubah Keresahan Jadi Aksi Nyata

Generasi Peduli Iklim, Komunitas yang Ubah Keresahan Jadi Aksi Nyata

Your Say | Senin, 18 Mei 2026 | 18:10 WIB

Peneliti Temukan Hubungan Krisis Iklim dan Konflik Bersenjata Lebih Kompleks dari Dugaan

Peneliti Temukan Hubungan Krisis Iklim dan Konflik Bersenjata Lebih Kompleks dari Dugaan

News | Kamis, 14 Mei 2026 | 13:58 WIB

Terkini

Bukan Pemain Baru, Istri Pemilik WO Marwah Ternyata Residivis Penipuan Kelas Kakap

Bukan Pemain Baru, Istri Pemilik WO Marwah Ternyata Residivis Penipuan Kelas Kakap

News | Senin, 01 Juni 2026 | 20:18 WIB

Isak Tangis Iringi Pemakaman 5 Korban Bom PD II di Biak, Maut yang Terpendam Puluhan Tahun

Isak Tangis Iringi Pemakaman 5 Korban Bom PD II di Biak, Maut yang Terpendam Puluhan Tahun

News | Senin, 01 Juni 2026 | 20:11 WIB

Kolaborasi dengan FBI, Polda Jateng Ungkap Sindikat Penipuan Online Bermodus Pig Butchering

Kolaborasi dengan FBI, Polda Jateng Ungkap Sindikat Penipuan Online Bermodus Pig Butchering

News | Senin, 01 Juni 2026 | 20:06 WIB

Jokowi Ungkap Alasan Tak Hadiri Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila

Jokowi Ungkap Alasan Tak Hadiri Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila

News | Senin, 01 Juni 2026 | 19:53 WIB

Maut dari Masa Lalu, 3 Warga Biak Masih Hilang Usai Ledakan Bom Perang Dunia II

Maut dari Masa Lalu, 3 Warga Biak Masih Hilang Usai Ledakan Bom Perang Dunia II

News | Senin, 01 Juni 2026 | 19:49 WIB

Waspada Jasa Badal Haji Bodong, DPR Desak Pemerintah Bentuk Lembaga Resmi

Waspada Jasa Badal Haji Bodong, DPR Desak Pemerintah Bentuk Lembaga Resmi

News | Senin, 01 Juni 2026 | 19:34 WIB

Soroti Maraknya Jasa Badal Haji Ilegal, DPR Dorong Pembentukan Lembaga Resmi

Soroti Maraknya Jasa Badal Haji Ilegal, DPR Dorong Pembentukan Lembaga Resmi

News | Senin, 01 Juni 2026 | 19:31 WIB

Ramai Sebutan Gotham City untuk Jakarta Barat, Walkot Iin Mutmainnah Buka Suara

Ramai Sebutan Gotham City untuk Jakarta Barat, Walkot Iin Mutmainnah Buka Suara

News | Senin, 01 Juni 2026 | 19:27 WIB

Gurita Korupsi Bea Cukai, KPK Bidik 20 Forwarder di Seluruh Pelabuhan Indonesia

Gurita Korupsi Bea Cukai, KPK Bidik 20 Forwarder di Seluruh Pelabuhan Indonesia

News | Senin, 01 Juni 2026 | 19:20 WIB

Pemilik Rumah Yakin Teror Api Misterius di Sleman Bukan Fenomena Mistis

Pemilik Rumah Yakin Teror Api Misterius di Sleman Bukan Fenomena Mistis

News | Senin, 01 Juni 2026 | 18:55 WIB