-
Penjaga Masjid San Diego Amin Abdullah gugur setelah mengaktifkan sistem lockdown darurat.
-
Respons cepat tersebut menyelamatkan 140 anak jemaah dari jangkauan dua pelaku penembakan.
-
Departemen Hukum AS mengidentifikasi pelaku sebagai Caleb Vasques dan Cain Clark yang bunuh diri.
Suara.com - Tragedi berdarah di Masjid San Diego menyingkap tabir kepahlawanan sejati di tengah kepungan teror bersenjata. Respons taktis dari garda keamanan setempat berhasil membentengi ratusan nyawa yang berada di ambang maut penembakan massal.
Upaya konfrontasi langsung di area luar bangunan terbukti memotong rantai pergerakan agresif para pelaku penyerangan. Langkah cepat ini mengisolasi ancaman destruktif sebelum berhasil menyusup ke zona inti ibadah.
Otoritas berwenang kini telah merampungkan proses identifikasi terhadap aktor utama di balik insiden fatal tersebut. Informasi resmi mengenai rekam jejak pelaku mulai dibuka secara transparan kepada publik.
![Seorang petugas keamanan jadi korban tewas saat aksi penembakan terjadi di Islamic Center San Diego, Amerika Serikat, Senin (18/5/2026) waktu setempat. [Istimewa]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/05/19/79688-korban-tewas-penembakan-san-diego.jpg)
"Pelaku adalah Caleb Vasques (18) dan Cain Clark (17)," kata seorang pejabat Departemen Hukum AS kepada reuters, Rabu (20/5/2026).
Dua remaja bersenjata tersebut ditemukan sudah tidak bernyawa di lokasi kejadian pasca-penyerangan berlangsung. Keduanya dipastikan mengambil langkah mengakhiri hidup mereka sendiri setelah melancarkan aksi keji tersebut.
Garda terdepan yang mendeteksi pergerakan mencurigakan ini adalah sang penjaga masjid atau marbot, Amin Abdullah.
Pria yang akrab disapa Brian Climax tersebut langsung mengambil tindakan darurat demi melindungi area sekitar.
"Abdullah mengonfrontasi pelaku, ia mengaktifkan mode lockdown di masjid lewat panggilan radionya. Ini menghindari jatuhnya korban yang lebih banyak," kata Kepala Kepolisian San Diego, Scot Wahl.
Langkah preventif itu seketika menutup akses masuk ke bangunan utama melalui komando nirkabel yang ia pancarkan. Keputusan cepat ini memaksa situasi konflik tertahan sepenuhnya di luar koridor utama masjid.
Siasat pengalihan perhatian yang dipicu oleh Abdullah harus dibayar mahal dengan kepergian dirinya. Ia gugur akibat terjangan peluru panas di area pelataran parkir sebelum pelaku melangkah lebih jauh.
"Tak bisa diragukan lagi, aksi ini mengecoh pelaku dan menghalangi mereka untuk masuk ke area yang lebih luas. Di dalam ada 140 anak-anak, dan jaraknya sekitar 5 meter dari para pelaku," ucap Wahl.
Gelombang penembakan membabi buta ini pada akhirnya merenggut tiga nyawa warga sipil di lokasi kejadian. Seluruh korban tewas diketahui memiliki ikatan emosional dan dedikasi yang mendalam terhadap komunitas masjid.
Selain sang penjaga masjid, dua individu lain turut terjebak dan gugur dalam situasi menegangkan di pelataran parkir. Mereka adalah Mansour Kaziha yang merupakan tetua masjid, serta Nadir Awad yang berprofesi sebagai sopir Uber.
Kini, apresiasi mendalam mengalir bagi para korban yang secara sukarela menempatkan diri mereka dalam bahaya. Keberanian kolektif di parkiran tersebut berhasil membendung kepunahan massal generasi muda yang tengah berada di dalam rumah ibadah.