- AMRO memperingatkan eskalasi konflik di Timur Tengah telah memicu disrupsi pasokan energi global dengan skala yang sangat besar.
- Ekonom AMRO memprediksi lonjakan harga minyak di atas 100 dolar akan meningkatkan inflasi di kawasan ASEAN+3 sebesar 2,2 persen.
- Negara ASEAN+3 harus mengalibrasi kebijakan fiskal tepat sasaran guna menjaga ketahanan ekonomi di tengah ketidakpastian global yang terus berlanjut.
Suara.com - ASEAN+3 Macroeconomic Research Office (AMRO) memperingatkan soal ancaman serius dari eskalasi konflik di Timur Tengah yang berdampak langsung pada sektor energi global.
Ketidakpastian yang terjadi sejak awal tahun ini dinilai memicu disrupsi pasokan energi paling signifikan dalam beberapa dekade terakhir.
Dampak ekonomi yang dihasilkan dari gejolak politik ini diproyeksikan jauh lebih masif dibandingkan krisis serupa yang terjadi beberapa tahun lalu.
Ekonom Senior AMRO, Catherine Kuo, mengungkapkan bahwa skala gangguan pasokan minyak dan gas bumi akibat ketegangan di Timur Tengah saat ini sudah berada pada tingkat yang mengkhawatirkan.
"Untuk menempatkan ini dalam konteks, jika dibandingkan dengan proksi terdekat yang kita miliki dalam beberapa waktu terakhir, dan itu adalah konflik Rusia-Ukraina pada tahun 2022, skala disrupsi yang kita lihat saat ini adalah empat kali lebih besar daripada apa yang kita lihat saat itu," kata Catherine di Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), Selasa (26/5/2026).
Catherine menjelaskan bahwa situasi ini menuntut kewaspadaan tinggi dari negara-negara di kawasan Asia Tenggara beserta Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan (ASEAN+3).
Tingginya ketidakpastian global memaksa lembaga pengawas makroekonomi tersebut untuk bersiap melakukan penyesuaian terhadap proyeksi pertumbuhan ekonomi regional.
"Durasi konflik bahkan sekarang sama sekali tidak ada kepastian, dalam hal di mana ini akan berakhir, dan pada titik mana ini akan mereda," ujarnya
Lebih lanjut, Catherine memaparkan hasil analisis skenario yang dilakukan oleh tim peneliti AMRO mengenai dampak buruk yang bisa terjadi jika konflik tersebut gagal diredam.
Jika ketegangan terus meluas ke skala regional yang tidak terkendali, harga minyak mentah jenis Brent diprediksi akan terus bertengger di level yang sangat tinggi.
Lonjakan harga komoditas utama tersebut dipastikan bakal menyeret naik angka inflasi di seluruh kawasan.
"Kita berpotensi melihat harga minyak rata-rata di atas $100 untuk sisa tahun ini. Dan jika itu terjadi, kita akan melihat inflasi meningkat menjadi 2,2 persen untuk ASEAN+3 secara keseluruhan," ungkapnya.
Meskipun menghadapi tekanan eksternal yang sangat berat, AMRO menilai negara-negara di kawasan ASEAN+3, termasuk Indonesia, masih memiliki modalitas yang kuat untuk menghadapi guncangan.
Berdasarkan evaluasi kinerja ekonomi sepanjang tahun lalu, domestik bruto dan investasi regional menunjukkan daya tahan yang baik.
Kondisi fundamental yang kokoh ini diharapkan menjadi bantalan utama dalam meredam dampak negatif dari krisis energi global.
Menurutnya hal penting saat ini adalah memastikan bahwa kebijakan-kebijakan yang ada dikalibrasi untuk mengatasi guncangan yang sedang dihadapi.
"Di sisi kebijakan fiskal, kami menyarankan dukungan sementara yang tepat sasaran untuk rumah tangga dan sektor-sektor yang rentan," tandasnya.