- Donald Trump mengklaim Israel dan Hizbullah sepakat menghentikan pertempuran setelah dialog intensif pada Senin, 1 Juni 2026.
- Perdana Menteri Benjamin Netanyahu membantah adanya gencatan senjata dan tetap mengancam akan menyerang target di Beirut.
- Hizbullah belum memberikan pernyataan resmi, sementara eskalasi militer di lapangan terus menyebabkan korban jiwa dan pengungsian penduduk.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan posisi Teheran bahwa setiap klausul kesepakatan damai harus mengikat secara menyeluruh.
"Setiap kesepakatan gencatan senjata antara Washington dan Teheran adalah gencatan senjata di semua lini, termasuk Libanon. Pelanggaran di satu front adalah pelanggaran di semua front," tegas Araghchi melalui platform X.
Hingga pertengahan 2026 ini, eskalasi militer antara Israel dan Hizbullah telah menelan korban jiwa hingga 3,433 orang di Libanon serta memaksa lebih dari 1 juta penduduk kehilangan tempat tinggal.
Di sisi lain, taktik perang baru Hizbullah yang memanfaatkan drone serat optik (fiber-optic drones) yang sulit terdeteksi juga menjadi ancaman mematikan bagi militer Israel, di mana sedikitnya 26 tentara IDF dilaporkan tewas di Libanon Selatan.