Suara.com - Hubungan diplomatik antara Amerika Serikat dan Israel berada di titik kritis akibat perbedaan pandangan politik luar negeri yang tajam. Presiden AS Donald Trump dilaporkan meluangkan kemarahannya langsung kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu demi meredam eskalasi perang di Timur Tengah.
Langkah keras ini diambil Washington karena ambisi militer Israel dinilai dapat merusak stabilitas kawasan secara masif. AS khawatir agresi tersebut akan menggagalkan kesepakatan awal yang sedang dirintis bersama pihak Iran.
Dikutip dari CNN, ketegangan antar kedua pemimpin negara sekutu ini mencuat dalam komunikasi saluran telepon yang berlangsung pada Senin lalu. Dua sumber yang mengetahui jalannya percakapan mengungkapkan bahwa dialog tersebut berjalan dengan tensi yang sangat tinggi.
![Kolase foto PM Israel Benjamin Netanyahu (kiri) dan Eli Cohen, Menteri Energi Israel (kanan). [Suara.com]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/21/63051-eli-cohen-benjamin-netanyahu.jpg)
Ancaman Isolasi Global Israel
Trump bahkan dilaporkan sempat menggunakan kata-kata kasar untuk menunjukkan ketidaksetujuan atas rencana ofensif Israel. Gedung Putih sendiri memilih untuk tidak memberikan komentar resmi terkait laporan komunikasi yang bernada sengit tersebut.
Dalam obrolan itu, Trump mengingatkan Netanyahu mengenai komitmen dukungan yang telah ia berikan selama ini. Ia juga memperingatkan bahwa aksi pengeboman terhadap Lebanon justru akan membuat posisi Israel semakin terkucilkan di dunia internasional.
Pasca-komunikasi verbal yang memanas tersebut, Trump mencoba meredakan situasi di ruang publik melalui pernyataan media sosialnya. Melalui platform Truth Social, ia menyebut interaksi dengan Netanyahu sebagai panggilan yang "productive".
![Presiden China, Xi Jinping, diperkirakan akan menekan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, terkait isu Taiwan dan perang tarif dalam pertemuan tingkat tinggi yang berlangsung di tengah memanasnya perang Iran. [istimewa]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/05/13/76171-donald-trump.jpg)
Klaim Sepihak Gencatan Senjata
Trump juga mengklaim bahwa pihak Israel dan kelompok Hezbollah akan segera menghentikan aksi saling serang. Ia meyakinkan publik global bahwa pasukan militer Israel tidak akan melakukan pergerakan ofensif menuju Beirut.
Namun, pernyataan optimistis dari Washington tersebut langsung dibantah oleh pihak Tel Aviv tidak lama kemudian. Netanyahu menegaskan bahwa operasional militer negaranya di wilayah Lebanon Selatan tidak akan dihentikan begitu saja.
Dalam rilis resminya, Netanyahu menyatakan bahwa militer Israel akan terus melakukan serangan ke Lebanon selatan "as planned." Respons kontras ini menunjukkan adanya keretakan komunikasi yang nyata antara kedua negara sekutu dekat tersebut.
Ketegangan ini menjadi puncak dari akumulasi kekhawatiran global terhadap perluasan wilayah konflik di Timur Tengah. AS di bawah pemerintahan Trump tengah berupaya membangun jalur diplomasi baru untuk meredam pengaruh Iran di kawasan tersebut.
Di sisi lain, Israel menganggap operasi militer di Lebanon Selatan sebagai langkah krusial demi mengamankan wilayah perbatasan mereka. Friksi terbaru ini memperlihatkan bahwa diplomasi AS kini harus berbenturan langsung dengan doktrin keamanan absolut milik Israel.