Suara.com - Hamparan sampah plastik yang menutupi perairan Muara Angke, Jakarta Utara, menjadi perhatian publik setelah videonya viral di media sosial pada Senin (1/6/2026). Dalam video yang diunggah Ilham Apriyanto, tumpukan sampah terlihat membentuk lapisan padat menyerupai pulau yang mengapung di atas permukaan air.
Pemandangan tersebut memunculkan pertanyaan: mengapa sampah bisa menumpuk di laut, dan apakah dampaknya hanya sebatas merusak lingkungan?
Mengapa sampah bisa membentuk 'pulau' di laut?
Kepala Laboratorium Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton), Rafika Aprilianti, menjelaskan bahwa plastik memiliki massa jenis yang ringan sehingga mudah terbawa arus sungai maupun laut.
Akibatnya, sampah yang dibuang jauh dari kawasan pesisir sekalipun dapat berpindah dan berkumpul di satu titik sebelum akhirnya menumpuk.
Ecoton pernah melakukan pengamatan di salah satu pulau reklamasi di kawasan Muara Angke. Meski tidak berpenghuni, kawasan tersebut tetap dipenuhi sampah kiriman dari berbagai wilayah Jakarta dan sekitarnya.
"Sampah bisa beredar ke lokasi-lokasi yang bahkan tidak terjamah oleh orang karena sampah plastik sendiri massa jenisnya ringan dan dia bisa ikut arus ke mana pun," kata Rafika.
Temuan ini menunjukkan bahwa laut pada akhirnya menjadi muara dari sampah yang tidak terkelola dengan baik di daratan.
Apa bahaya yang tidak terlihat?
Menurut Rafika, tumpukan sampah yang tampak di permukaan hanya sebagian kecil dari persoalan.
Seiring waktu, plastik akan terpecah menjadi mikroplastik dan nanoplastik akibat paparan sinar matahari, ombak, serta perubahan cuaca. Partikel-partikel ini berukuran sangat kecil, sulit terlihat, dan hampir mustahil dibersihkan dari lingkungan.
"Sampah yang ukurannya besar saja banyak, apalagi mikroplastik dan nanoplastik yang pasti jumlahnya miliaran partikel," ujarnya.
Partikel mikroplastik kemudian menyebar ke sungai, laut, udara, hingga masuk ke rantai makanan.
Bagaimana mikroplastik bisa masuk ke tubuh manusia?
Mikroplastik dapat tertelan oleh ikan, kerang, dan berbagai biota laut lainnya saat mencari makan. Ketika hasil laut tersebut dikonsumsi manusia, partikel plastik berpotensi ikut masuk ke dalam tubuh.