- Donald Trump menegur Benjamin Netanyahu karena frustrasi atas eskalasi konflik militer Israel dengan Lebanon yang sedang berlangsung.
- Konflik Israel dan Hizbullah berpotensi menghambat negosiasi Amerika Serikat terkait stabilitas energi dan pencegahan senjata nuklir Iran.
- Trump tetap optimistis bahwa negosiasi energi serta nuklir akan segera tercapai meski terjadi ketegangan hubungan diplomatik tersebut.
Suara.com - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump membenarkan dirinya sempat melontarkan kata-kata keras kepada Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dalam percakapan telepon terbaru.
Dalam wawancara dengan NY Post, Trump mengaku menyebut Netanyahu gila karena frustrasi terhadap eskalasi konflik dengan Lebanon.
Meski demikian, ia menegaskan hubungan keduanya tetap berjalan baik di tengah situasi perang.
“Saya sedikit terganggu dengan dia yang terus bertempur dengan Lebanon,” ujar Trump. Ia menambahkan, “Kami bekerja sangat baik bersama. Saya suka Bibi dan saya bekerja sangat baik dengannya.”
Trump menggambarkan dirinya dan Netanyahu sebagai dua pemimpin dalam situasi perang.
“Saya presiden masa perang. Dia perdana menteri masa perang,” katanya.
![Kolase Trump-Netanyahu [Suara.com/AI]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/06/03/37658-kolase-trump-netanyahu.jpg)
Ketegangan ini muncul di tengah upaya Amerika Serikat menengahi kesepakatan besar dengan Iran.
Konflik Israel dengan kelompok Hizbullah dinilai berpotensi menggagalkan negosiasi tersebut, terutama terkait pembukaan kembali Selat Hormuz.
Meski situasi memanas, Trump tetap optimistis kesepakatan dengan Iran bisa tercapai dalam waktu dekat.
Trump menekankan bahwa pembicaraan berjalan cepat dan menunjukkan perkembangan signifikan.
“Kami tidak akan membiarkan mereka memiliki senjata nuklir dan banyak hal baik akan terjadi,” tegasnya.
Trump juga menyoroti dampak konflik terhadap harga energi global.
Trump menyebut prediksi lonjakan harga minyak hingga ratusan dolar per barel tidak terbukti.
“Semua orang bilang harga minyak akan mencapai 300 atau 400 dolar, tapi sekarang sekitar 98 dolar. Itu bukan harga besar jika dibandingkan risiko senjata nuklir,” ujarnya.
Di sisi lain, pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi kunci stabilitas energi dunia.
Jalur ini dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak global dan sempat terganggu akibat konflik.
Trump mengakui proses negosiasi tidak berjalan mulus. Namun ia menegaskan tidak terburu-buru dan percaya situasi akan segera terkendali.
“Saya pikir ini akan terselesaikan cukup cepat,” katanya.
Pernyataan keras Trump terhadap Netanyahu sebelumnya memicu reaksi publik, termasuk dari kalangan pro-Israel di Amerika.
Namun Gedung Putih tetap menampilkan sikap optimistis terhadap arah hubungan diplomatik ke depan.