Jakarta 499 Tahun: Kota yang Berlari, Kelas Menengah yang Kehabisan Napas

Muhammad Yasir, Adiyoga Priyambodo

Selasa, 09 Juni 2026 | 10:54 WIB
Jakarta 499 Tahun: Kota yang Berlari, Kelas Menengah yang Kehabisan Napas
Ilustrasi-Potret pekerja Jakarta semakin sulit menabung, memiliki rumah, dan terbebani oleh jam kerja yang menyita waktu bersama keluarga. [Suara.com/Ai]
baca 10 detik
  • Ketimpangan upah buruh dengan standar kebutuhan hidup layak di Jakarta memicu penyusutan drastis jumlah kelas menengah.
  • Jelang HUT ke-499 Jakarta, warga merasa semakin sulit menabung, memiliki rumah, dan terbebani oleh jam kerja.
  • Cita-cita untuk hidup "cukup" kini bergeser dari standar awal menjadi tujuan akhir yang sulit diraih.

Suara.com - Menjelang ulang tahunnya yang ke-499, Jakarta tengah bersolek. Spanduk perayaan terpasang di berbagai sudut kota.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengusung tema "Bergerak Menuju Era Baru Jakarta" dengan slogan besar: Menuju 5 Abad Jakarta. Sebuah logo dengan efek lorong waktu diperkenalkan sebagai simbol perjalanan menuju usia setengah milenium.

Jakarta bersiap merayakan sejarah panjangnya.

Namun bagi Rizal, perayaan itu terasa jauh dari kehidupan sehari-harinya.

Ia tidak meminta banyak. Bukan rumah mewah, bukan mobil baru, apalagi liburan ke luar negeri. Rizal hanya ingin bisa menjalani akhir bulan tanpa rasa cemas. Tidur nyenyak tanpa harus menghitung ulang sisa uang di rekening sebelum gajian berikutnya tiba.

“Rasanya kok makin susah, bukan makin enak,” katanya saat berbincang dengan Suara.com.

Di atas kertas, penghasilannya masih masuk kategori kelas menengah. Namun setiap memasuki pertengahan bulan, kegelisahan mulai datang.

Bukan karena gaya hidup berlebihan. Melainkan karena kebutuhan hidup yang terus merangkak naik, sementara ruang untuk bernapas semakin sempit.

Kota Global

baca juga

Pada 22 Juni 2026 nanti, Jakarta genap berusia 499 tahun. Kota ini telah melewati masa kolonial, revolusi, reformasi, hingga kini bersiap memasuki babak baru setelah tak lagi menyandang status ibu kota negara.

Narasi yang dibangun pemerintah adalah tentang transformasi menuju kota global yang modern dan berkelanjutan.

Tetapi di balik narasi besar itu, tersimpan kenyataan yang jauh lebih rumit.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan rata-rata upah buruh per Februari 2026 berada di angka Rp5,23 juta per bulan. Sementara kebutuhan hidup layak di Jakarta diperkirakan mencapai Rp14,88 juta per bulan.

Selisih yang menganga itu menjadi gambaran betapa banyak warga yang harus terus berlari hanya untuk tetap berada di tempat yang sama.

Mereka bekerja, menerima gaji setiap bulan, tetapi semakin sulit merasa aman secara finansial.

Kondisi itu juga terlihat dari menyusutnya jumlah kelas menengah Indonesia. Kelompok ini turun dari sekitar 57 juta orang pada 2019 menjadi 47,9 juta pada 2024, lalu kembali menyusut menjadi 46,7 juta pada 2025.

Mereka yang turun kelas tidak otomatis jatuh miskin. Namun mereka masuk ke wilayah abu-abu yang rapuh—cukup dekat dengan jurang untuk tergelincir ketika ada satu saja guncangan ekonomi.

“Semua sekarang mahal,” keluh Putri, seorang karyawan swasta di kawasan Palmerah.

Ilustrasi-Potret pekerja Jakarta kelelahan dan tertidur di kursi stasiun kereta. [Suara.com/Ai]
Ilustrasi-Potret pekerja Jakarta kelelahan dan tertidur di kursi stasiun kereta. [Suara.com/Ai]

Ketika Mimpi Sederhana Menjadi Kemewahan

Dulu, impian kelas menengah sering digambarkan dengan rumah dan mobil.

Kini, bahkan mimpi yang jauh lebih sederhana pun terasa sulit diraih.

Menabung, misalnya.

Bagi Rizal, menabung bukan lagi pilihan, melainkan sesuatu yang nyaris mustahil dilakukan.

“Sudah empat bulan saya nggak nabung,” keluhnya.

Gajinya sebenarnya tidak kecil. Namun kebutuhan rumah tangga dan keluarga hampir selalu menghabiskan seluruh pendapatannya.

Mimpi lain yang terasa makin menjauh adalah memiliki rumah.

Di kota yang bercita-cita menjadi global city, harga properti terus melambung. Kenaikan harga rumah berjalan lebih cepat dibanding pertumbuhan pendapatan riil pekerja.

Akibatnya, semakin banyak anak muda yang menyerah sebelum bertanding. Mereka memilih mengontrak tanpa batas waktu atau tinggal lebih lama bersama keluarga di kota-kota penyangga.

”Ngontrak bisa, tapi mau sampai kapan? Sayang aja gitu, keluar uang terus tapi nggak ada hasil barang yang kita dapet,” tutur Tari.

Belum lagi kecemasan yang terus menghantui dunia kerja.

Sepanjang 2024, lebih dari 77.000 pekerja mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK). Di balik angka itu ada ribuan keluarga yang kehilangan sumber penghidupan.

Bagi banyak pekerja, ancaman PHK bukan sekadar berita ekonomi. Ia adalah ketakutan yang hadir setiap hari.

“Kita-kita umurnya udah maksimal di persyaratan kerja. Misal kena PHK, bener-bener hopeless,” cerita Clarence, yang perusahaannya tengah menghadapi kondisi sulit.

Di luar soal uang dan pekerjaan, ada satu hal lain yang diam-diam semakin langka: waktu.

Waktu untuk keluarga. Waktu untuk beristirahat. Waktu untuk hidup sebagai manusia.

”Setiap hari saya berangkat pagi, pulang malem. Kasihan istri, waktunya jadi singkat banget ngelihat ketampanan saya,” kelakar Arya, pekerja yang setiap hari berangkat dari Bekasi menuju Jakarta.

Candaan itu mengundang tawa. Namun di baliknya tersimpan kenyataan yang akrab bagi jutaan komuter Jabodetabek.

Mereka menghabiskan sebagian besar hidup di jalan, kereta, dan kantor demi mempertahankan kehidupan yang semakin mahal.

Suasana panggung acara malam puncak HUT ke-498 Jakarta di Lapangan Banteng, Jakarta, Minggu (22/6/2025). [ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/bar]
Suasana panggung acara malam puncak HUT ke-498 Jakarta tahun lalu di Lapangan Banteng, Jakarta. [ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/bar]

Pesta untuk Siapa?

Perayaan HUT Jakarta ke-499 diperkirakan menjadi salah satu pesta rakyat terbesar tahun ini. Sebuah penanda bahwa kota ini hanya selangkah lagi menuju usia lima abad.

Arya mengaku tahu soal perayaan itu.

Namun ia tidak yakin akan datang.

“Buat apa rayain, kalau di kota itu sendiri ngerasa makin susah?” katanya.

Pertanyaan itu mungkin mewakili kegelisahan banyak warga Jakarta hari ini.

Mereka tidak menolak kemajuan kota. Mereka tidak membenci Jakarta.

Yang mereka rasakan adalah kelelahan.

Kelelahan karena gaji terasa hanya singgah sebentar di rekening. Kelelahan karena harga kebutuhan terus naik. Kelelahan karena tabungan yang disiapkan untuk masa depan perlahan terkikis untuk bertahan hari ini.

Lima abad tentu merupakan pencapaian luar biasa bagi sebuah kota.

Namun perayaan itu akan terasa kurang lengkap apabila mereka yang setiap hari membangun Jakarta—para pekerja yang berdesakan di KRL sejak subuh, yang pulang larut malam setelah lembur, yang terus menghitung sisa gaji menjelang akhir bulan—tidak ikut merasakan hasilnya.

“Bukan karena tidak cinta Jakarta,” kata Putri pelan. “Tapi kadang saya capek berjuang keras hanya untuk sekadar cukup.”

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Menjaga Sisa Rasa Betawi: Kisah Selendang Mayang Bu Widya di Tengah Kepungan Kopi Boba

Menjaga Sisa Rasa Betawi: Kisah Selendang Mayang Bu Widya di Tengah Kepungan Kopi Boba

News | Minggu, 07 Juni 2026 | 10:45 WIB

Jambret WNA Coreng Jakarta Kota Teraman ke-2 ASEAN, Gubernur Pramono: Hukum Seberat-beratnya!

Jambret WNA Coreng Jakarta Kota Teraman ke-2 ASEAN, Gubernur Pramono: Hukum Seberat-beratnya!

News | Senin, 18 Mei 2026 | 08:25 WIB

Meski Masih Macet, Jakarta Dinobatkan Jadi Kota Teraman Nomor 2 di ASEAN

Meski Masih Macet, Jakarta Dinobatkan Jadi Kota Teraman Nomor 2 di ASEAN

News | Minggu, 03 Mei 2026 | 14:10 WIB

Terkini

Komisi II DPR Jadikan Ambang Batas Parlemen 5 Persen Acuan Pembahasan RUU Pemilu

Komisi II DPR Jadikan Ambang Batas Parlemen 5 Persen Acuan Pembahasan RUU Pemilu

News | Kamis, 17 September 2026 | 12:11 WIB

Gerindra Sebut Pertemuan Ketum Parpol Koalisi Bahas RUU Pemilu Baru Sekadar Brainstorming

Gerindra Sebut Pertemuan Ketum Parpol Koalisi Bahas RUU Pemilu Baru Sekadar Brainstorming

News | Kamis, 17 September 2026 | 12:11 WIB

Komdigi Ultimatum 25 PSE: Segera Daftar atau Terancam Diblokir

Komdigi Ultimatum 25 PSE: Segera Daftar atau Terancam Diblokir

Tekno | Kamis, 17 September 2026 | 12:10 WIB

Amerika Serikat Jual 40 Ribu Bom Raksasa Rp 49,6 Triliun ke Israel

Amerika Serikat Jual 40 Ribu Bom Raksasa Rp 49,6 Triliun ke Israel

News | Kamis, 17 September 2026 | 12:01 WIB

Anime BEYBLADE X Resmi Masuki Bey Kingdom Arc, Tayang 9 Oktober

Anime BEYBLADE X Resmi Masuki Bey Kingdom Arc, Tayang 9 Oktober

Your Say | Kamis, 17 September 2026 | 12:00 WIB

Anak Purbaya Sebut Ada 'Mafia Ancam Presiden' Di Balik Pemecatan Menkeu

Anak Purbaya Sebut Ada 'Mafia Ancam Presiden' Di Balik Pemecatan Menkeu

Video | Kamis, 17 September 2026 | 12:00 WIB

Proyek PSEL Bogor Raya 1 Resmi Dimulai, Target Olah 500 Ribu Ton Sampah per Tahun

Proyek PSEL Bogor Raya 1 Resmi Dimulai, Target Olah 500 Ribu Ton Sampah per Tahun

Bisnis | Kamis, 17 September 2026 | 11:59 WIB

Bosan dengan Malioboro? Ini 5 Tempat Healing Murah di Jogja

Bosan dengan Malioboro? Ini 5 Tempat Healing Murah di Jogja

Lifestyle | Kamis, 17 September 2026 | 11:59 WIB

Viral Perempuan Ditendang Saat Antre Makanan di Sency, Netizen Soroti Dugaan Upaya Menutup Kasus

Viral Perempuan Ditendang Saat Antre Makanan di Sency, Netizen Soroti Dugaan Upaya Menutup Kasus

Entertainment | Kamis, 17 September 2026 | 11:59 WIB

Tabuh Panci di Gedung Kemensos, Warga Desil 5-6 Protes Anak Tak Bisa Sekolah Gegara Data Bansos

Tabuh Panci di Gedung Kemensos, Warga Desil 5-6 Protes Anak Tak Bisa Sekolah Gegara Data Bansos

News | Kamis, 17 September 2026 | 11:58 WIB

×