- PT Pertamina menaikkan harga Pertamax menjadi Rp16.250 per liter di wilayah Jakarta mulai tanggal 10 Juni 2026.
- Kenaikan harga tersebut menyebabkan biaya operasional pengemudi ojek online membengkak di tengah kondisi pesanan yang sedang sepi.
- Para pengemudi ojek online berharap pemerintah segera merealisasikan kebijakan potongan biaya aplikasi sebesar delapan persen untuk membantu ekonomi.
"Memang keseringan sih Pertamax. Tapi kalau nggak bisa nutup ya apa boleh buat, Pertalite," ujarnya.
Di tengah kenaikan biaya operasional, Isdi berharap pemerintah segera merealisasikan kebijakan potongan biaya aplikasi sebesar 8 persen bagi pengemudi ojol yang tertuang dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 27 Tahun 2026. Menurutnya, kebijakan tersebut akan sangat membantu para driver yang saat ini menghadapi berbagai pengeluaran tambahan.
"Jadi sih kalau saya cuma bisa berharap segera realisasikan 8% potongan aplikasi. Itu sangat ngebantu banget, segera. Sangat berpengaruh banget karena potongannya besar, bensin naik, terus ada biaya tambahan lagi kalau kita ikut hemat, ikut slot, ikut gacor gitu kan," ucapnya.
Ia menegaskan bahwa realisasi potongan aplikasi menjadi salah satu harapan terbesar para pengemudi di tengah kenaikan harga bahan bakar.
"Itu aja yang terpenting buat saya segera berlakukan potongan 8% aplikasi untuk kita-kita driver ojol. Itu sangat ngebantu banget," pungkasnya.
Sebagaimana diketahui, PT Pertamina (Persero) kembali menyesuaikan harga BBM nonsubsidi per 10 Juni 2026. Berdasarkan pembaruan harga terbaru, Pertamax (RON 92) naik menjadi Rp16.250 per liter dari sebelumnya Rp12.300 per liter. Sementara itu, Pertamax Green 95 naik menjadi Rp17.000 per liter. Di sisi lain, harga Pertalite sebagai BBM subsidi masih belum mengalami perubahan.
Kenaikan ini memicu kekhawatiran di kalangan pengemudi transportasi daring yang setiap hari bergantung pada BBM untuk mencari nafkah.
Reporter: Dinda Pramesti K